Siti Rima Sarinah
#Bogor — Perayaan Iduladha bagi umat Islam di seluruh dunia identik dengan penyembelihan hewan kurban. Momen ini menjadi sangat membahagiakan bagi pedagang hewan ternak seperti sapi, kambing atau domba, dikarenakan meningkatnya daya beli masyarakat untuk berkurban. Terlebih, umat Islam berlomba-lomba untuk menjadi pekurban dan menyerahkan hewan kurbannya ke masjid-masjid untuk disembelih dan dibagi-bagikan kepada umat muslim lainnya.
Namun di tahun ini, terjadi penurunan daya beli masyarakat terhadap hewan kurban yang diakui oleh mayoritas pedagang hewan kurban. Dilansir Radar Bogor (22/05/2026), salah seorang penjual hewan kurban dari Sehon Farm Cimahpar mengungkapkan dalam sehari penjualan hewan kurban hanya berkisar dua sampai tiga ekor saja, bahkan dua hari terakhir hanya ada satu pembeli. Biasanya waktu menjelang Iduladha sudah terjual sekitar 25 ekor. Penurunan pembelian hewan kurban tahun ini sangat drastis. Untuk menarik minat pembeli, banyak pedagang hewan kurban yang terpaksa menurunkan harga jual, agar bisa cepat laku dan modal bisa diputar kembali.
Tidak dimungkiri, penurunan daya beli hewan kurban di tahun ini imbas dari anjloknya nilai rupiah yang mengakibatkan masyarakat memilih menahan diri untuk membeli hewan kurban dan berharap tahun depan nilai rupiah bisa kembali stabil. Penurunan daya beli masyarakat bukan hanya terjadi pada pembelian hewan kurban, melainkan juga pada kebutuhan primer lainnya. Seperti kita ketahui, harga minyak goreng yang melonjak tajam dan bahkan sempat langka di pasaran dikarenakan kenaikan harga plastik. Kedelai yang menjadi bahan utama tempe pun mengalami kenaikan harga diakibatkan kenaikan harga impor kedelai. Tak ketinggalan, harga cabai pun ikut meroket.
Anjloknya nilai rupiah tentu berimbas pada harga kebutuhan pokok masyarakat, dan hal ini merupakan kasus berulang. Kenaikan nilai tukar dolar, membuat nilai rupiah melemah sehingga terjadilah inflasi. Saat ini, dolar menjadi mata uang yang memiliki “kekuasaan besar”, tatkala nilai tukar dolar naik maka akan berdampak pada kenaikan barang-barang impor yang masuk ke negeri ini. Ketergantungan kepada impor inilah yang membuat perekonomi dalam negeri menjadi amburadul. Nilai rupiah yang merosot tajam pun berimbas pada berkurangnya daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
Sejak dolar dijadikan standar mata uang dunia, inflasi kerap kali terjadi. Ini pula yang mengakibatkan krisis moneter beberapa kali menimpa negara ini. Padahal, dolar adalah mata uang kertas (fiat money) yang tidak memiliki nilai intrinsik sama sekali. Namun, tatkala dolar dijadikan mata uang dunia, maka seluruh perekonomian yang berjalan di dunia harus disesuaikan dengan naik turunnya nilai tukar dolar atas mata uang dalam negeri. Sehingga bukan hal yang aneh lagi ketika mata uang rupiah kian melemah dan seakan tak memiliki nilai dibanding mata uang lainnya di dunia ini. Sementara, impor dan utang negara mengikuti nilai dolar, akibatnya utang negara makin menumpuk dan membengkak.
Fiat money merupakan bagian dari penerapan kebijakan sistem ekonomi kapitalis yang sebelumnya berhasil mengubah dari mata uang berbasis emas, menjadi mata uang fiat money. Mata uang emas pernah menjadi mata uang dunia khususnya di negeri-negeri muslim karena emas memiliki nilai intrinsik yang melekat pada emas tersebut, bukan karena legalitas kesepakatan dunia atau bank. Sedangkan fiat money adalah jenis uang yang nilainya tidak didukung oleh komoditas fisik seperti emas atau perak, tetapi ditetapkan dan dijamin oleh pemerintah. Artinya, uang tersebut punya nilai karena masyarakat percaya dan negara menetapkannya sebagai alat pembayaran yang sah.
Karena negeri ini juga menerapkan sistem ekonomi kapitalis, maka naiknya nilai tukar dolar dengan alasan perang dan lainnya, mengakibatkan Indonesia kesulitan keluar dari persoalan dan krisis ekonomi. Walaupun data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada Kuartal I 2026 bahkan tergolong tinggi di ASEAN, tetapi pertumbuhan ekonomi ini tidak signifikan dengan pemerataan/distribusi ekonomi. Hal ini ditunjukkan secara riil dari sulitnya mencari lapangan kerja, pendapatan riil mayoritas masyarakat justru menurun yang mengakibatkan daya beli pun menurun.
Kondisi kehidupan di sistem kapitalisme ini berbanding terbalik dengan kehidupan di sistem Khilafah. Krisis ekonomi dan persoalan ekonomi tidak akan dijumpai dalam sistem Khilafah karena Khilafah menerapkan sistem mata uang berbasis emas dan perak yang sudah terbukti anti inflasi. Selain memiliki nilai intrinsik yang ada pada bendanya, harga emas dan perak tidak akan mengalami penurunan nilainya dikarenakan kondisi tertentu. Bahkan harga emas cenderung stabil karena harga emas 1000 tahun yang lalu dengan hari ini akan tetap sama nilainya. Dahulu, satu ekor kambing atau domba setara dengan 1 dinar (= 4,25 gram emas). Hari ini dengan patokan harga emas Rp2.764.000,- maka 1 dinar setara dengan Rp11.747.000,-. Jika digunakan untuk membeli hewan kurban maka bisa dipastikan akan mendapatkan kambing atau domba super jumbo jenis premium.
Penerapan sistem mata uang berbasis emas dan perak, selain anti inflasi, juga mewujudkan transaksi ekonomi yang sehat anti krisis karena asas keadilan yang mendasarinya. Standar emas dan perak tidak akan membuat mata uang berubah-ubah nilai atau bisa dipermainkan sebagaimana kasus yang terjadi pada fiat money. Sehingga tidak ada peluang penjajahan melalui mata uang dan negara memiliki kedaulatan penuh tanpa ada intervensi dari negara asing. Perekonomian berjalan dengan stabil dan rakyat pun bisa memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa dipusingkan dengan anjloknya mata uang yang sangat berdampak bagi mereka.
Sudah saatnya negeri-negeri muslim kembali kepada mata uang emas dan perak dan mengembalikan kemuliaan umat Islam selalui tegaknya Khilafah Rasidah. Sebagaimana janji Allah Swt. bahwa Khilafah akan tegak kembali sebagai negara adidaya yang akan menebarkan rahmat ke seluruh penjuru alam. Wallahualam.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar