Gaza Membisu di Tengah Ramainya Dunia



Refi Oktapriyanti



#Wacana — Tangisan anak biasanya terdengar saat mereka merasa takut, sedih, atau kesakitan. Namun di Gaza, ada anak-anak yang bahkan tidak mampu lagi menangis dan berbicara. Trauma yang mereka alami begitu berat hingga membuat sebagian dari mereka kehilangan kemampuan bicara. Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyampaikan bahwa hampir setiap anak di Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak hidup dalam penderitaan yang sulit dibayangkan.

Ini bukan sekadar dampak perang biasa. Anak-anak Gaza setiap hari menyaksikan rumah mereka hancur, keluarga mereka terbunuh, dan lingkungan tempat mereka tumbuh berubah menjadi puing-puing. Ketika seorang anak kehilangan kemampuan berbicara karena trauma, itu menunjukkan bahwa luka yang mereka alami bukan hanya pada tubuh, tetapi juga pada jiwa dan pikiran mereka.

Kondisi ini merupakan bukti nyata kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh entitas Zionis terhadap rakyat Palestina. Serangan yang terus berlangsung tidak hanya menghancurkan bangunan dan fasilitas umum, tetapi juga berusaha menghancurkan generasi masa depan Palestina. Inilah wajah genosida yang sesungguhnya, yaitu penghancuran fisik sekaligus mental sebuah bangsa.

Yang lebih menyedihkan, dunia yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia ternyata tidak mampu menghentikan tragedi ini. Negara-negara besar hanya mengeluarkan kecaman dan pernyataan keprihatinan. Organisasi internasional berkali-kali mengadakan pertemuan, tetapi pembantaian tetap berlangsung. Bantuan kemanusiaan memang diberikan, tetapi tidak mampu menghentikan akar masalahnya, yaitu penjajahan dan agresi yang terus terjadi.

Inilah salah satu wajah sistem kapitalisme global. Sistem ini menjadikan kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan sebagai pertimbangan utama. Selama kepentingan negara-negara besar masih terjaga, penderitaan jutaan manusia sering kali dianggap tidak lebih penting daripada keuntungan dan pengaruh politik. Nilai kemanusiaan akhirnya tunduk pada kepentingan para pemilik kekuatan.

Ironisnya, negeri-negeri muslim yang memiliki kekuatan besar juga belum mampu menjadi pelindung bagi rakyat Palestina. Sebagian hanya berhenti pada pernyataan dukungan, sementara penderitaan rakyat Gaza terus berlanjut. Akibatnya, umat Islam di berbagai penjuru dunia hanya dapat menyaksikan tragedi ini tanpa memiliki kekuatan politik yang mampu menghentikannya secara nyata.

Dalam pandangan Islam, darah seorang muslim sangat berharga dan wajib dilindungi. Islam tidak membiarkan penjajahan berlangsung tanpa perlawanan. Sejarah mencatat bahwa ketika umat Islam berada dalam satu kepemimpinan yang kuat, berbagai wilayah kaum muslimin dapat dilindungi dari ancaman musuh. Persatuan politik umat menjadi perisai yang menjaga kehormatan dan keamanan mereka.

Karena itu, derita anak-anak Gaza tidak cukup hanya diselesaikan dengan terapi trauma atau bantuan kemanusiaan. Yang lebih mendasar adalah mengakhiri penjajahan yang menjadi sumber penderitaan mereka. Palestina membutuhkan pembebasan sehingga anak-anaknya dapat kembali hidup normal, belajar, bermain, dan tumbuh tanpa ketakutan.

Tragedi Gaza seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa perjuangan membela Palestina bukan hanya persoalan empati, tetapi juga persoalan bagaimana menghadirkan kekuatan yang mampu melindungi kaum muslimin dari penjajahan dan kezaliman. Selama akar masalahnya tidak diselesaikan, maka tangisan dan derita anak-anak Gaza akan terus berulang dari generasi ke generasi.


Komentar