Rini Sarah
#Remaja — Hancur. Itulah kata yang paling cocok untuk menggambarkan suasana hati ayah dari seorang mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) berinisial ARM. Dalam keadaan capek pulang kerja, dia dapati anaknya tengah “disidang” massa di kampusnya. Apa pasal? Ternyata anaknya dan seorang mahasiswa kampus luar telah melakukan tindakan asusila sejenis. Ada yang rekam, lalu videonya viral. (detik.com, 03/06/2026)
Ayah ARM pun bersujud di depan massa mahasiswa PNJ. Dia minta maaf kepada semua civitas akademika dan PNJ sebagai institusi. Dia ceritakan bagaimana lelahnya mendidik anak agar dia jadi anak saleh. Dari visual yang terlihat, dia juga pasti lelah bekerja demi menghidupi dan menyekolahkan anaknya itu.
Hmmm, kebayang gak sih? Anak yang dia harapkan menjadi anak saleh dan berpendidikan tinggi tiba-tiba bawa kenyataan kalau dia menyimpang, ditonton pula oleh warga dunia nyata dan maya. Bukan lagi hancur itu mah hati, remuk!
(Meng)Hancur(kan)
Perilaku menyimpang sesama jenis ini memang bikin hancur hati orang tua. Karena ini bukan perilaku yang sesuai dengan nilai yang dijunjung tinggi orang tua di Indonesia. Orang tua Indonesia apalagi yang berakidah Islam tentu akan melaknat perilaku ini. Karena memang Islam telah mengharamkannya dan menggolongkan perbuatan ini dalam fahisyah alias perbuatan keji. Keji itu lebih tinggi derajat buruknya dari perbuatan buruk itu sendiri. Ketika anak sendiri yang melakukan ini? Hmmm berasa muka dilempar t*hi. Malu yang paling ultimate.
Jauh-jauh deeeh dari perbuatan ini. Sayangi ayah dan ibu kita. Masa sama orang yang sudah berjasa besar dalam hidup kita, kita gituin. Durhaka level dewa lah judulnya. Inget, Allah dalam Surah Al-Isra: 23, ngasi kewajiban ke anak untuk birrul walidain alias berbakti pada orang tua. Caranya? Jadilah anak saleh yang jadi investasi pahala buat keduanya. Jangan lupa juga doakan kebaikan untuk keduanya.
Selain bikin remuk hati orang tua, perilaku kaum Sodom ini juga bikin hancur masyarakat. Gimana ngga bikin hancur, coba aja liat berbagai kemudaratan yang muncul akibat praktek perilaku kaum Elpiji ini. Satu, ngerusak lembaga pernikahan. Nikah itu di agama mana pun harusnya antara laki-laki dan perempuan serta seagama. Kalau laki-laki muslim dapat dispensasi boleh nikahi wanita ahlul kitab (nasrani atau yahudi). Teruuus, tujuan nikah itu kan untuk melahirkan keturunan sebagai pemenuhan akan naluri melestarikan jenis bagi manusia. Naluri ini baru bisa dipenuhi dengan sempurna kalau udah ada keturunan yang akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa. #eaaaaa. Suka liat kan, pasangan sejenis tetiba ngadopsi anak? Atau nyewa surrogate mother. Tuuh, itu bukti kalau cara mereka berpasangan itu bukan pemenuhan naluri mempertahankan jenis yang sesuai fitrah. Ujungnya bakal berakhir resah no tumaninah. I guaranted klo statement ini no cap.
Yang kedua, merajalelanya penyakit seksual menular, di antaranya adalah HIV/AIDS yang belum ada obatnya hingga hari ini. Kalau ada video pasangan Elpiji yang bilang kalau mereka sehat walau salah satu kena HIV Positif lalu rutin konsumsi obat ARV dan satunya merasa aman dengan rutin minum obat Prev biar terlindung dari penularan, tetap saja kedua obat itu tidak menyembuhkan. Tunggu aja tanggal apesnya. Yang tadi ngerasa aman tertular juga ya mohon maaf ya kalau dari data yang ada tiap tahun angka HIV di Indonesia selalu naik. HIV (ODHIV) di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengestimasi terdapat sekitar 564.000 ODHIV di Indonesia. Jumlah kasus baru HIV bertambah rata-rata sekitar 25.000 kasus. (Kemenkes.go.id, 21/06/2025). Belum kanker anus, sifilis, hepatitis, dll. Naudzubillah. Bangsa emas harusnya gak penyakitan, kan?
Yang ketiga, ini mah beneran akan dihancurkan sebangsa-bangsanya oleh Allah. Seperti yang dialami oleh kaum Nabi Luth. Kota Sodom dan Gomora (diperkirakan di sekitar Laut Mati, Yordania) diangkat ke langit oleh Allah, dijatuhkan, dan dihujani dengan batu yang terbakar. Hancur lebur lah bangsa Sodom.
Kurang? Ada kejadian lagi yang menimpa kota Pompeii (dekat Napoli, Italia). Kota ini juga dihancurkan oleh letusan gunung Vesuvius pada 79 M. Selain membakar penduduknya, letusan gunung ini juga seperti membekukan mereka. Hingga jasad-jasad dan artefak-artefaknya utuh. Lalu dari sana bisa ketahuan kehidupan macam apa yang dijalani oleh penduduk Pompeii. Hmmm mereka juga doyan maksiat. Seks bebas dan sesama jenis dipraktikkan di sana. See, hancur kan semua gegara maksiat.
Hancur(kan)
Kemaksiatan memang harus dihancurkan. Karena membawa kebinasaan. Hancurnya maksiat tentu gak bisa diserahkan pada individu atau keluarga saja. Perlu sinergi dengan negara.
Negara harus kembali kepada fungsinya yaitu sebagai roin alias penanggung jawab dan perisai pelindung bagi warga negaranya. Dalam kasus kaum Elpiji ini, negara harus hadir guna mencegah terjadinya dan membasmi jika ada yang melakukannya.
Dalam hal pencegahan, negara harus menerapkan sistem pendidikan Islam berdasarkan akidah Islam. Agar muncul SDM-SDM yang bertakwa, takut kepada Allah, hingga senantiasa menghindari maksiat. Takut Allah murka. Lalu, menerapkan juga sistem pergaulan dalam Islam. Laki-laki gak boleh menyerupai wanita, vice versa. Trus, orang tua juga dididik agar memisahkan tempat tidur anak laki dan perempuan. Anak laki-laki dan laki-laki tidak boleh tidur dalam satu selimut. Aurat juga harus dijaga. Jangan sembarangan diumbar dan mata juga jangan sembarangan liat aurat.
Untuk upaya membasminya, negara menerapkan sistem sanksi. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan umat Nabi Luth, bunuhlah mereka baik yang menyodomi maupun yang disodomi!” (Hadis Riwayat Ibnu Majah)
Bunuh sudah keduanya. Kalau ngga, menular kemana-mana! Trus bikin bencana. Sudah ya. Mari kembali ke dalam pelukan syariat Islam saja! Insya Allah, ayah-ayah tak akan hancur lagi hatinya. Allahu Akbar!

Komentar
Posting Komentar