Iduladha di Palestina, Mengirim Daging Kurban Saja Tidak Cukup!



Nabila asy-Syafi’i, A.Md.




#Fokus — Iduladha atau Hari Raya Kurban selalu menjadi momentum kebahagiaan bagi umat muslim di seluruh dunia. Iduladha bukan sekadar ibadah ritual, melainkan simbol solidaritas global umat Islam, simbol persatuan umat. Namun bagi masyarakat Palestina, perayaan ini berlangsung di tengah krisis pangan akut dan blokade dari penjajah entitas Zion*s.

Menurut data lembaga kemanusiaan global, lebih dari 90% warga di Jalur Gaza mengalami kerawanan pangan parah. Sebanyak 2,4 juta jiwa berada di bawah ancaman kelaparan akibat pembatasan ketat masuknya truk bantuan makanan. Data ini bersumber dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC), yaitu platform dan standar global yang didukung penuh PBB, organisasi kemanusiaan internasional, serta badan-badan seperti World Food Programme (WFP) dan FAO.

Untuk membantu kaum muslim di Palestina, negeri-negeri muslim seperti Arab Saudi dan Indonesia mengirim daging kurban ke sana. Berdasarkan instruksi Presiden Prabowo Subianto melalui Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, Pemerintah Indonesia resmi menyepakati dengan Arab Saudi pengiriman mayoritas daging dam (denda/tebusan ibadah) jemaah haji Indonesia ke Palestina. Per akhir Mei 2026, tercatat 126.832 pembayaran dam dari jemaah Indonesia. Dari jumlah tersebut, diestimasikan daging dari hampir 90.000 ekor hewan sembelihan akan dikemas dan diprioritaskan langsung untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Palestina.

Distribusi masif ini dikelola secara resmi melalui proyek kerajaan bernama the Kingdom of Saudi Arabia Project for Utilization of Hady and Adahi (Proyek Adahi) yang diawasi oleh Islamic Development Bank (IsDB). Proyek Adahi ini baru saja melakukan pengiriman tahap berjalan sebanyak 30.000 paket bagian daging kurban ke Palestina dan Mesir. Selain proyek Adahi, King Salman Humanitarian Aid and Relief Center (KSrelief) juga telah menyalurkan lebih dari 5.112 ton total bantuan pangan dan mediske Gaza.

Guna menyiasati krisis listrik dan ketiadaan lemari pendingin di tenda pengungsian, daging diolah menjadi produk olahan kaleng (canned) atau dibekukan (frozen). Metode ini memastikan daging tetap higienis, nutrisinya terjaga, dan memiliki masa kedaluwarsa hingga 2–3 tahun tanpa mengurangi kandungan gizi. Daging olahan siap saji tersebut dimuat ke dalam truk-truk kontainer berpendingin. Melalui koordinasi ketat otoritas Saudi, Mesir, dan lembaga global (PBB), truk-truk ini masuk secara berkala melewati pintu perbatasan darat—tentu dengan seizin entitas Zion*s untuk masuk ke Kawasan kamp pengungsian di Gaza.


Sulitnya Bantuan Masuk

Memasukkan bantuan ke Gaza Palestina sangatlah sulit. Meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata dan diizinkannya bantuan logistik makanan dan obat-obatan, tetapi situasi di lapangan tetap sangat rumit. Setiap truk logistik wajib melewati proses pemeriksaan keamanan yang sangat ketat oleh entitas militer Zion*s. Kuota truk yang boleh masuk pun dibatasi, yakni berkisar 60–300 truk per hari atau bahkan tidak boleh masuk sama sekali, tergantung izin dari militer entitas Zion*s.

Akibat birokrasi dan hambatan blokade yang sangat ketat ini, lembaga kemanusiaan internasional menghadapi risiko tinggi dalam menyalurkan daging kurban. Lembaga Islamic Relief (lembaga kemanusiaan yang berkantor pusat di Birmingham, Inggris) mencatat bahwa pada pelaksanaan kurban tahun lalu, pembatasan ketat masuknya logistik membuat daging kurban sama sekali tidak bisa menembus masuk Gaza. Akhirnya, pasokan daging dialihkan ke kamp-kamp pengungsian warga Palestina yang berada di luar wilayah konflik, seperti di Mesir, Yordania, dan Lebanon. Gaza pun tetap dalam isolasinya dan ancaman kematian akibat kelaparan dan blokade, serta moncong senjata dan rudal yang terus menghiasi hari-hari mereka.


Kirimkan Pasukan Militer, Bukan Hanya Daging Kurban!

Bantuan kemanusiaan, mulai dari bahan makanan, obat-obatan, hingga daging kurban, tentu sangat berharga untuk meringankan lapar dan duka sesaat. Namun, bantuan logistik tersebut tidak akan pernah bisa menghentikan senjata, rudal, jet tempur, maupun blokade zalim entitas penjajah Zion*s laknatullah. Penjajahan, penindasan, dan kezaliman mereka terus berlangsung tanpa henti hingga detik ini. Bantuan pun sulit masuk, kecuali atas izin mereka.

Mengirimkan daging kurban kepada saudara-saudara kita di Palestina sebagai korban penjajahan dan korban perang tanpa menghentikan peperangannya dan tidak mengusir entitas Zion*s dari bumi Palestina, tentu merupakan sebuah jalan buntu. Ini karena akar masalah di Palestina bukan sekadar kekurangan logistik, makanan, maupun obat-obatan, melainkan penjajahan yang merampas tanah, nyawa, dan kemerdekaan rakyat Palestina.

Dengan demikian, satu-satunya solusi nyata untuk menghentikan penderitaan ini adalah dengan mengirimkan institusi militer yang sepadan, yaitu tentara pembebas (militer resmi) dari negeri-negeri muslim untuk mengusir penjajah. Keberanian para pejuang lokal di Gaza telah membuktikan perlawanan yang luar biasa. Akan tetapi, mereka membutuhkan sokongan kekuatan militer berskala penuh dari luar untuk benar-benar membebaskan bumi tempat berdirinya Masjidilaqsa.

Lantas, mengapa militer negeri-negeri muslim saat ini seolah lumpuh dan hanya menonton? Jawabannya terletak pada ketiadaan perisai politik yang menyatukan mereka. Kaum muslim tercabik-cabik dalam lebih dari 57 negara bangsa yang menyebabkan mereka lemah dan laksana buih di lautan. Padahal, berdasarkan rekam jejak sejarah (masa Umar bin Khaththab dan Shalahuddin al-Ayyubi), wilayah Syam dan Palestina hanya bisa dibebaskan dari cengkeraman penjajah ketika umat Islam bernaung di bawah satu kepemimpinan politik yang independen dan berdaulat, yakni Khilafah Islamiah. Namun kini, penyakit wahn telah menghinggapi umat Islam, termasuk para pemimpinnya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Hampir tiba masanya bangsa-bangsa di dunia memperebutkan kalian (umat Islam), bagaikan orang-orang lapar yang memperebutkan makanan di atas piring.” Seorang sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian pada saat itu mayoritas (sangat banyak). Akan tetapi, kalian bagaikan buih di lautan (buih aliran air). Dan Allah akan mencabut rasa takut/segan dari dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, serta Allah akan mencampakkan penyakit al-wahn ke dalam hati kalian.” Sahabat bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apakah al-wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (Hadis Riwayat Abu Dawud dan Ahmad).


Solusi untuk Palestina

Visi yang esensial bagi pembebasan total Palestina adalah tegaknya kembali institusi Khilafah Islamiah. Melalui institusi politik global inilah, sekat-sekat nasionalisme yang selama ini memenjarakan tentara-tentara muslim di barak mereka akan runtuh. Khilafah akan menyatukan potensi militer, ekonomi, dan sumber daya umat Islam, lalu menggerakkannya secara resmi sebagai kekuatan pembebas yang sah demi mengembalikan kedamaian di tanah para nabi.

Rasulullah ﷺ bersabda,

«إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu adalah junnah (perisai), di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.”

Khilafah akan mengirim tentara dari negeri-negeri muslim, lengkap dengan persenjataan yang canggih, untuk melakukan jihad fisabilillah demi membebaskan Palestina dari pendudukan Zion*s. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan tentang kewajiban jihad. Jika musuh menyerang negeri muslim (seperti yang terjadi di Palestina sekarang), jihad merupakan fardu ain bagi penduduk wilayah yang diserang dan fardu kifayah bagi kaum muslim di wilayah lain. Fardu tersebut tidak akan gugur sampai musuh dapat diusir dan tanah Islam dapat dibersihkan dari kekejian musuh. (Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Jilid II).

Beliau juga menjelaskan, jika perang antara kaum muslim dan orang-orang kafir pecah, dan kifayah (kecukupan) tidak terpenuhi dengan perang yang dilakukan oleh penduduk satu wilayah tersebut saja, maka kewajiban perang tidak gugur dari penduduk wilayah lain. Namun, perang tersebut wajib atas kaum muslim mulai dari yang paling dekat dengan musuh sampai kecukupan terpenuhi. Seandainya kecukupan tidak terpenuhi, kecuali dengan seluruh kaum muslim, maka jihad menjadi fardu atas setiap kaum muslim, sampai musuh dapat dikalahkan.

Demikianlah, Khilafah mengerahkan segala sumber daya (tentara, senjata, logistik, dana, dll.) untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Zion*s. Oleh karena itu tegaknya Khilafah Islamiah ‘ala minhaj an-nubuwwah haruslah diperjuangkan dengan cara mengikuti metode dakwah yang telah Rasulullah contohkan. Kita tidak boleh hanya menunggu tanpa melakukan upaya apa pun.


Teladan Iduladha

Hari Raya Kurban mengajarkan kita tentang pengorbanan tertinggi dan kepatuhan mutlak kepada syariat. Oleh sebab itu, membantu Palestina pun harus dilakukan dengan cara yang tuntas sesuai akar masalahnya. Bukan sekadar menyembelih hewan kurban untuk mereka, melainkan berjuang mewujudkan kekuatan politik Islam yang mampu mengirimkan tentara guna membebaskan Palestina secara permanen.

Dakwah untuk tegaknya Khilafah Islamiah bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan kewajiban syar’i sekaligus kebutuhan geopolitik yang mendesak. Melalui dakwah dan penyadaran umat, pembebasan Palestina dari entitas Zion*s akan terwujud, insyaallah dengan tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Komentar