#Editorial — Dari tahun ke tahun, selalu saja ada ironi saat perayaan Iduladha. Momen haji dan kurban yang identik dengan ketundukan total serta pengorbanan dan persatuan umat Islam, nyatanya belum tecermin dalam kehidupan umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Kondisi umat saat ini masih sangat memprihatinkan. Mereka hidup tanpa syariat dan justru rela mengadopsi sistem hidup karangan para pemikir Barat, seperti Cleisthenes dan John Locke di bidang politik, Adam Smith di bidang ekonomi, Sigmund Freud di bidang pergaulan sosial, Socrates, Plato dan Aristoteles di bidang hukum, dll. Dampaknya, kemuliaan tercabut dan kehidupan kaum muslim pun dipenuhi kerusakan, bahkan krisis di berbagai aspek kehidupan.
Mereka hidup berpecah-belah menjadi lebih dari 57 negara bangsa dengan para penguasa sekuler yang tidak peduli dengan agamanya. Akibatnya, kekuatan dan wibawa mereka pun hilang. Bahkan saking lemahnya, mereka—yang jumlahnya lebih dari 2,5 miliar jiwa—sama sekali tidak berdaya menolong saudara muslimnya di Gaza Palestina yang kini tengah mengalami genosida oleh entitas Zion*s yang jumlahnya hanya 10,3 juta jiwa!
Apa yang Salah?
Tidak dimungkiri bahwa keberagamaan umat Islam hari ini kian lama memang kian longgar. Islam nyatanya tidak lagi dipahami sebagai sistem hidup atau way of life, melainkan sekadar identitas tanpa makna, ataupun sebatas agama ritual yang berisi pemikiran-pemikiran soal kepercayaan ruhiyah beserta ajaran moral individual.
Tidak terkecuali syariat haji dan kurban. Keduanya nyaris kehilangan esensinya sebagai aturan yang relate dengan kehidupan atau sebagai aturan yang memiliki dimensi politik spiritual. Syariat haji dan kurban kian hari tampak sekadar seremonial. Tidak sedikit umat Islam yang melakukannya sekadar untuk menunaikan kewajiban ataupun menunjukkan pencapaian alias status sosial.
Namun yang lebih parah, syariat ini tidak lepas dari komoditisasi dan kapitalisasi. Syarat “mampu” pada ibadah haji, misalnya, bukan lagi ditetapkan oleh syariat, melainkan oleh pasar. Mereka yang punya uang banyak, dijamin bisa berangkat cepat. Munculnya istilah haji reguler, plus, maupun furada, sejatinya menggambarkan bahwa ibadah haji sudah menjadi bisnis manis di bidang jasa, yakni jasa ibadah ritual!
Mirisnya, alih-alih memerankan diri sebagai pengurus urusan umat, termasuk dalam penyelenggaraan ibadah yang butuh pengaturan serius, negara malah memosisikan diri hanya sebagai regulator sekaligus EO dalam penyelenggaraan ibadah haji. Bahkan, negara turut memosisikan diri sebagai pedagang. Seperti Arab Saudi, mengelola penyelenggaraan ibadah haji dengan prinsip tourism revenue. Konon untuk 2030, sebanyak 12% PDB-nya ditargetkan berasal dari wisata religi ini. Jangan heran jika muncul sistem kuota, clustering hotel, paket-paket layanan dan fasilitas di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina, ed.). Ini semua hanyalah contoh kecil saja.
Di Indonesia sendiri, kapitalisasi haji tampak dari munculnya sistem dana talangan haji yang dilegalisasi. Juga menjamurnya perusahaan-perusahaan penyelenggara ibadah haji dari yang bodong hingga yang resmi. Bahkan, melalui perusahaan pelat merah, negara pun turut memutar dana setoran awal haji berdasarkan prinsip investasi. Termasuk menjadikan pengelolaan haji sebagai ajang bancakan yang membuka ruang besar bagi berulangnya kasus korupsi dana haji.
Semua ini menjadi niscaya karena ruh dan prinsip-prinsip Islam tidak lagi menjadi asas dalam pengaturan urusan rakyat, termasuk dalam pelayanan ibadah haji. Penerapan sistem sekuler kapitalisme membuat penyelenggaraan haji hanya dipandang sebagai peluang bisnis. Wajar jika akhirnya ibadah massal dan kolosal ini jauh dari berkah dan tidak memberi dampak apa pun bagi kemuliaan umat.
Alih-alih memberi dampak politik yang menguatkan posisi umat di hadapan umat lainnya, bagi individu pun pelaksanaan haji dan kurban tidak menjamin bisa membawa dampak perubahan. Haji dan kurban hanya label, tetapi pola pikir dan sikap tetap sekuler. Padahal, semua prosesi haji, termasuk kurban, begitu sarat makna; Mulai dari penyerahan diri, ketaatan total, pengorbanan, penyembelihan ego, dan kebanggaan atas status sosial. Juga soal persatuan dan persaudaraan atas dasar iman yang semestinya membuat umat tidak rela ada saudaranya menderita, hingga tergerak untuk menyatukan diri dalam sebuah kepemimpinan dengan kekuatan nyata yang akan menolong saudaranya yang menderita.
Mengembalikan Esensi Iduladha
Momentum Iduladha seharusnya menjadi momentum “software update” tahunan untuk umat Islam di seluruh dunia. Melalui ibadah haji, khususnya momentum wukuf di Arafah, Allah perlihatkan prototipe penyerahan diri, persatuan, satu umat, satu kepemimpinan.
Di setiap manasiknya, termasuk ibadah kurban, Allah Swt. mengajarkan tentang ketundukan total dan kesiapan untuk memberi pengorbanan yang terbaik sebagai bukti iman. Bahkan jika direnungkan, lafaz talbiah yang terus dikumandangkan sejatinya merupakan lafaz kontrak antara hamba dan Tuhannya, yakni kontrak kesiapan untuk bersegera menyambut perintah Allah dan kesiapan untuk tunduk hanya pada sistem yang hanya meninggikan kalimat-Nya. Wajar jika pada masa lalu, penyelenggaraan ibadah haji benar-benar berpengaruh kuat bagi kehidupan individu dan umat Islam. Pada masa Rasulullah saw. dan masa-masa khilafah setelahnya, momentum haji benar-benar menjadi momentum konsolidasi politik.
Saat Haji Wadak 10 H, di hadapan sekira 124.000 umat Islam, Rasulullah saw. menyampaikan poin penting soal kesatuan politik, perang terhadap sistem ekonomi jahiliah (riba), penegasan Al-Qur’an dan Sunah sebagai konstitusi negara; serta jaminan atas darah, harta, dan kehormatan umat Islam. Lalu setelah konsolidasi politik itu, Rasulullah saw. mulai menyiapkan pasukan Usamah bin Zaid untuk meluaskan dakwah dan jihad ke Negeri Syam sebagai salah satu representasi kekuasaan negara adikuasa Romawi.
Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, momentum Iduladha biasa digunakan untuk mengumpulkan para gubernur (wali) dari berbagai negeri di Kota Makkah al-Mukarramah. Beliau pun tercatat pernah menggunakan momen Iduladha tersebut untuk mengumumkan peristiwa penyerahan kunci gerbang Baitulmaqdis dari Patrick Shafranius kepada beliau pada Zulhijah 16 H. Hal ini menjadi kabar gembira terkait pembebasan Masjidilaqsa bagi umat Islam, sekaligus sebagai psywar bagi pihak imperium Romawi.
Demikian juga pada masa Khilafah Utsmaniyah, momen ibadah haji menjadi momen bagi berkumpulnya para gubernur, ulama, dan panglima perang. Di antara yang mereka bahas adalah soal strategi melawan politik Perang Eropa. Tercatat dalam sejarah, Sultan Abdul Hamid II menggunakan momentum haji pada 1899 untuk mengampanyekan persatuan umat Islam dunia. Beliau mengirim telegraf dari Makkah kepada seluruh gubernurnya di seluruh wilayah khilafah dengan pesannya yang terkenal, “Bersatulah, Eropa hendak mencaplok kita!“ Setelah itu lahirlah proyek jalan kereta Istanbul–Hijaz yang salah satunya memudahkan penyatuan spirit ideologi melalui wasilah ibadah haji.
Tidak heran jika dulu momentum ibadah haji sangat ditakuti para penjajah mengingat esensi ibadah yang terkait politik keumatan benar-benar kental dengan peran negara sebagai sentral. Pertemuan umat Islam dunia di Makkah al-Mukarramah dan saat wukuf di Arafah benar-benar dimanfaatkan, seperti muktamar internasional untuk saling menguatkan akidah dan mengukuhkan rasa persatuan umat Islam. Hal ini sebagaimana kesaksian Imam Al-Mawardi dalam kitabnya, Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, yang menyebut bahwa yang termasuk tugas Khilafah adalah memimpin haji, mengurus jemaah, dan menjadikan musim haji sebagai sarana menyatukan umat Islam.
Itulah sebabnya, di Nusantara, pemerintahan kolonial Belanda sangat ketat dalam mengawasi pergerakan jemaah haji. Pada 1825, mereka membuat aturan Ordonansi Haji Pertama yang mewajibkan adanya izin dari residen dengan biaya mahal. Pada masa-masa berikutnya, Belanda mulai menetapkan kuota, mewajibkan penggunaan kapal Belanda, melakukan infiltrasi intelejen melalui konsulatnya di Makkah, melakukan screening dan sertifikasi haji bagi para ulama, dsb. Mereka tahu bahwa para jemaah haji akan membawa spirit perlawanan terhadap penjajahan, sebagaimana disampaikan Snouck Hurgronye kepada Gubernur Jenderal Belanda.
Iduladha dan Urgensi Perjuangan Mengembalikan Khilafah
Sudah semestinya perayaan Iduladha, ritual ibadah haji dan kurban, menjadi momentum yang tepat bagi umat Islam untuk merenungkan kembali posisi keimanannya di hadapan Allah Taala. Pasalnya, keimanan tidak cukup hanya pengakuan, melainkan harus dibuktikan dengan ketundukan total pada syariat yang Allah turunkan—yang tentu saja akan menuntut pengorbanan.
Salah satu syariat tersebut adalah kewajiban mencintai sesama muslim seperti mencintai diri sendiri. Alhasil, seorang mukmin sejati tidak mungkin bersikap abai terhadap penderitaan yang menimpa saudara muslim lainnya, apalagi dengan dalih tidak sebangsa dan setanah air. Mereka pun tidak akan pernah rela persatuan mereka dicabik-cabik oleh para penjajah yang menghendaki keburukan atas umat Islam.
Hanya saja, sudah lebih dari 100 tahun umat hidup tanpa Khilafah yang mengurus dan menjaga mereka dengan jalan menegakkan syariat Islam secara total di seluruh aspek kehidupan. Ketiadaan Khilafah telah menyebabkan kehidupan umat Islam terus dilingkupi berbagai penderitaan, kehinaan, perpecahan, dan kelemahan. Muslim Palestina terkhusus Gaza, sudah 76 tahun hidup dalam cengkeraman penjajahan yang kian hari tindakannya makin brutal. Namun hingga hari ini, tidak ada satu kekuatan pun yang mampu memberi pertolongan.
Wajar jika penghancuran Khilafah yang puncaknya terjadi 3 Mei 1924 disebut oleh para ulama sebagai ummul jaraaim (induk segala kejahatan) karena dari sanalah umat mulai kehilangan kekuatannya sebagai khairu ummah. Betapa tidak? Meski status mereka tetap sebagai muslim, bahkan jumlahnya terbilang mayoritas, tetapi syariat Islam sudah terpisah antara pemikiran dan metode penerapannya. Alhasil, ajaran Islam yang dulu pernah belasan abad membawa umat Islam pada puncak peradaban, hari ini sama sekali tidak berpengaruh dalam kehidupan.
Oleh karena itu, urgensi dan kewajiban mengembalikan Khilafah sudah tidak bisa ditawar lagi. Keterlibatan umat dalam upaya ini menjadi salah satu bukti keimanan sekaligus wujud pengorbanan tertinggi. Terlebih perjuangan Khilafah pada era ini dipastikan sangat berat dan penuh tantangan. Berbagai batu penghalang sudah disiapkan oleh kekuatan global, bahkan ketika Khilafah baru bergulir sebatas gagasan.
Hanya saja, umat Islam harus punya keyakinan tinggi bahwa kehadiran kembali Khilafah adalah sebuah kepastian. Khilafah adalah janji Allah sekaligus kabar gembira dari Rasulullah saw. Tugas kita adalah berjuang sungguh-sungguh menapaki jalan dakwah sebagaimana yang Rasulullah saw. contohkan, yakni melakukan dakwah pemikiran tentang Islam kafah secara politik dan berjemaah, serta tanpa kekerasan.

Komentar
Posting Komentar