Ketahanan Keluarga Menyongsong Peradaban Mulia



#Reportase — Sebuah tayangan pembuka mengawali Diskusi Publik Tokoh Muslimah Inspiratif #5 dengan menghadirkan refleksi tentang rapuhnya ketahanan keluarga di Indonesia. Tragedi tabrakan kereta di Bekasi yang merenggut nyawa belasan perempuan tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga menghadirkan pertanyaan besar tentang kondisi keluarga saat ini. Banyak perempuan memikul peran ganda sebagai istri, ibu, bahkan tulang punggung ekonomi keluarga di tengah tekanan hidup yang semakin berat. Di sisi lain, tingginya angka perceraian, meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta berbagai problem sosial menunjukkan bahwa institusi keluarga tengah menghadapi tantangan serius. Padahal, keluarga merupakan fondasi utama lahirnya generasi sekaligus penentu tegaknya sebuah peradaban.

Berangkat dari keprihatinan tersebut, Komunitas Muslimah Inspiratif menggelar Diskusi Publik Tokoh Muslimah Inspiratif #5 bertema "Ketahanan Keluarga, Menyongsong Peradaban Mulia" pada Sabtu, 27 Juni 2026 di Bekasi. Forum ini menghadirkan Dr. Tuty Mariana dan Dr. (Cand.) Maya Sri Maryani sebagai narasumber utama untuk mengupas tantangan ketahanan keluarga sekaligus menawarkan solusi Islam dalam mewujudkan keluarga yang kokoh.

Sebelum memasuki sesi materi utama, peserta mendapatkan penguatan melalui tiga testimoni dari narasumber dengan latar belakang yang berbeda. Hj. Anna Farida, S.Pd., M.M., M.B.A., Ph.D., selaku konselor pernikahan dan pendidikan keluarga, mengajak para orang tua kembali menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam membangun keluarga. Menurutnya, pendidikan keluarga harus dimulai dari pembinaan individu sebelum membentuk keluarga dan umat yang kuat. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat ilmu agama, meningkatkan kompetensi, bergantung kepada Allah Swt., serta menjadi teladan bagi anak-anak dalam menjalani kehidupan sesuai ajaran Islam secara kafah.

Dari perspektif psikologi, Dewi Arianti Ekasari, S.Psi., menjelaskan bahwa keluarga merupakan benteng pertama dalam membangun ketahanan seseorang. Keluarga yang kokoh lahir dari komunikasi yang sehat, pembagian peran yang jelas, penanaman nilai, serta budaya saling menghargai antaranggota keluarga. Sebaliknya, lemahnya pemahaman agama, konflik komunikasi, egoisme, persoalan ekonomi, hingga pengaruh lingkungan menjadi faktor yang menyebabkan ketahanan keluarga mudah rapuh. Sementara itu, Husna Septi Putri, S.Si., selaku Ketua Komunikasi Gen Z Bekasi Ladies Space, mengajak generasi muda untuk tidak mencari rasa aman dan validasi di luar keluarga. Di tengah derasnya arus digital dan berbagai tekanan kehidupan, menurutnya Islam harus kembali menjadi pedoman yang mengarahkan setiap aspek kehidupan.

Memasuki materi utama, Dr. Hj. Tuty Mariana menegaskan bahwa ketahanan keluarga tidak dapat dipisahkan dari aturan Islam. Mengacu pada Firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an, beliau menjelaskan bahwa laki-laki memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin sekaligus pemberi nafkah bagi keluarganya. Namun, kondisi ekonomi global yang makin menekan kehidupan masyarakat menjadi tantangan besar bagi banyak keluarga. Karena itu, seorang suami tidak cukup hanya mampu mencari nafkah, tetapi juga harus membekali diri dengan ilmu Islam agar mampu membimbing keluarganya sesuai tuntunan syariat.

Beliau juga menyoroti meningkatnya angka perceraian, menurunnya angka pernikahan, serta maraknya penyimpangan seksual. Jawa Barat menjadi salah satu provinsi dengan tingginya kasus laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), sementara Bekasi juga menghadapi tingginya fenomena LGBT. Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi pun dinilai belum mampu mengelola potensi tersebut secara optimal. Menurut beliau, berbagai persoalan itu bukan sekadar masalah individu, melainkan lahir dari problem sistemik sehingga penyelesaiannya pun harus dilakukan secara menyeluruh.

Senada dengan itu, Dr. (Cand.) Maya Sri Maryani menjelaskan bahwa ketahanan keluarga merupakan kemampuan keluarga untuk hidup harmonis, mampu menghadapi berbagai tantangan, serta tetap kokoh di tengah berbagai tekanan kehidupan. Berlandaskan Surah At-Tahrim: 6, beliau menegaskan bahwa menjaga diri dan keluarga dari api neraka merupakan kewajiban setiap muslim. Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, perceraian, serta fenomena broken home menunjukkan bahwa keluarga muslim saat ini membutuhkan solusi yang tidak hanya menyentuh gejala, tetapi juga mampu menyelesaikan akar persoalan.

Menurutnya, ketahanan keluarga tidak akan terwujud hanya dengan mengandalkan peran individu. Islam menghadirkan solusi yang menyeluruh melalui sinergi keluarga, masyarakat, dan negara. Sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan rakyat, sistem pendidikan membentuk kepribadian Islam, sistem sosial menjaga masyarakat dari berbagai penyimpangan, dan sistem hukum memberikan perlindungan bagi setiap anggota keluarga. Dengan penerapan syariat Islam secara kafah, ketahanan keluarga tidak lagi menjadi sekadar harapan, melainkan fondasi kokoh bagi lahirnya generasi bertakwa yang akan membangun kembali peradaban Islam yang mulia.[Eli Ermawati]


Komentar