Ruruh Hapsari
#Wacana — Tahun berganti permasalahan negeri tidak kian membaik, satu masalah melahirkan masalah lainnya. Sektor ekonomi, politik juga sosial bertumpuk menjadi satu membelit masyarakat, mereka terjebak dan sulit untuk keluar dari masalah yang telah menjeratnya. Dari sisi ekonomi, dengan makin lemahnya rupiah terhadap dolar tentu banyak masalah yang ditimbulkan di tengah masyarakat. Tidak bisa dihindari harga barang makin merangkak naik terutama yang bahan dasarnya didatangkan dari luar negeri. Bukan hanya barang elektronik bahan kebutuhan pokok pun ikut melambung seperti kedelai, pakan ternak, biji kakao, juga gandum.
Selain itu, efek domino dari lemahnya rupiah adalah meningkatnya biaya transportasi dan kesehatan. Dengan tingginya harga minyak dunia dan lemahnya rupiah maka berimbas pada harga BBM nonsubsidi. Tentunya hal ini berdampak pada biaya operasional usaha yang berkibat pada pengeluaran konsumen. Demikian juga dengan kenaikan sektor kesehatan imbas dari lemahnya rupiah. Hingga sekarang hampir 90 persen bahan baku aktif obat-obatan masih didatangkan dari luar negeri (detik.com, 21/5/2026). Tentunya mengakibatkan harga obat secara signifikan melonjak.
Dari sisi politik, layaknya program unggulan presiden yaitu Makan Bergizi Gratis yang sedari kampanye capres, Prabowo selalu menggaungkan program ini. Produk elektoral ini merupakan ide lama yang akhirnya direalisasikan saat ia menjadi presiden. Ide besar tersebut lahir disebabkan Indonesia masih banyak angka stunting dan ketimpangan akses pangan berkualitas terutama wilayah 3T. Walaupun seakan gagasan ini baik, tetapi saat implementasinya ternyata tidak seindah yang dibanyangkan. Dengan pemotongan anggaran pendidikan saja sudah sangat merugikan rakyat apalagi ternyata proyek ini merupakan lahan basah bagi para pecinta harta. Oleh karenanya, protes keras kencang disuarakan untuk menolak proyek tersebut.
Kemudian, dari sisi sosial bahwa kejahatan seksual makin merajalela. Satu tahun belakangan ini yang mengemuka anak-anak yang menjadi korban. Pelakunya entah orang terdekat dari keluarga ataupun tetangga, juga guru bahkan pemuka agama yang dianggap dipercaya justru yang melakukan aktivitas bejat tersebut. Belum lagi masalah luar negeri yang seakan sulit ditemukan ujungnya yaitu pendudukan Israel terhadap tanah para nabi. Seakan kebal hukum, genosida terus saja mereka lakukan. Tanah Palestina telah porak-poranda, korban jiwa baik dari rakyat sipil maupun jurnalis tidak terhitung, yang sakit pun karena langkanya obat-obatan entah kapan mereka akan pulih.
Dari sekian banyaknya masalah tersebut, masyarakatlah yang menjadi korban dari penguasa negeri akibat segala kebijakannya yang hanya memikirkan diri mereka sendiri dan kelompoknya. Rakyat selalu menjadi obyek penderita, kesejahteraan hanya omong kosong belaka.
Khairu Ummah
Umat tidak lagi menyandang khairu ummah, umat terbaik yang dilahirkan dari rahim kaum muslimin sedari Rasulullah saw. hijrah ke Madinah. Dahulu saat Islam dijadikan landasan bernegara, umat selalu dinomorsatukan dalam semua aspek kehidupan karena tugas penguasa adalah memelihara urusan umat.
Dengan berubahnya standar dan landasan negara, maka berubah pula orientasi negara dalam mengurusi urusan umat. Saat negara mengambil sistem kehidupan Barat, kapitalisme yang memisahkan antara agama dengan kehidupan manusia, maka standar yang digunakan tidak lagi halal dan haram, tapi berganti menjadi kemanfaatan. Bila ada manfaat di dalamnya maka diambil dan sebaliknya bila tidak ada manfaat dalam sebuah keputusan maka akan disingkirkan.
Hingga wajar bila kerusakan dalam masyarakat tidak berhenti justru makin meningkat dan berlapis-lapis. Satu masalah belum selesai, muncul lagi masalah lainnya yang lebih pelik dan begitu seterusnya.
Dengan penggunaan sistem kapitalisme sekuler ini pula nasionalisme mengakar di benak umat, hingga untuk membela saudara seiman saja yang dikedepankan adalah batas-batas negara yang memutus tali ukhuwah. Alhasil, untuk membela saudara muslim di Palestina perjuangan menjadi sangat panjang dan sulit, karena saudara seiman di sekelilingnya telah tunduk dengan kekuatan kafir.
Muharam Momentum Refleksi
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Di dalamnya kaum muslim tidak diperbolehkan untuk berperang. Dalam hadis Riwayat Ibnu Abbas juga disebutkan bahwa bila manusia melakukan puasa sunah pada akhir Zulhijah dan awal Muharam, maka niscaya Allah Swt. akan mengampunkan segala dosa-dosanya.
Dalam bulan ini pula kaum muslim dianjurkan untuk membaca doa akhir tahun untuk memohon perlindungan dari godaan setan dan pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu. Selain itu juga dianjurkan pada bulan ini untuk memperbanyak amal saleh, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir juga salat sunah.
Bulan ini pula menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi dan introspeksi. Refleksi hijrah bukan hanya menjadi sejarah Rasulullah saw., melainkan penanda perubahan. Bagaimana saat aturan Allah Swt. digunakan maka ‘umat terbaik’ bukan hanya menjadi sematan, melainkan realitas. Berubah menuju keadaan yang lebih baik dari kondisi terkungkungnya umat dari sistem sekuler menuju kepada penegakkan aturan syariat, itulah yang dinamakan hijrah yang hakiki.
Bahwa bila mempertahankan aturan Barat, kapitalisme sekuler, maka akan terus timbul kenestapaan layaknya hari ini. Aturan Allah Swt. hanya menjadi bacaan bukan menjadi tuntunan apalagi diamalkan. Rasulullah saw. juga mengajarkan bahwa dalam hijrah menuju perubahan hakiki membutuhkan perjuangan yang panjang dan terorganisir sebagaimana beliau dan para sahabat telah melakukannya sejak sebelum hijrah di Makkah.
Saat itu Rasulullah saw. membentuk jemaah dakwah, secara bersama dengan para sahabat mereka berjuang untuk menegakkan Islam ideologis tegak di muka bumi sesuai dengan metode dakwah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. Dengan Islam ideologis tersebut tegak dalam sebuah institusi negara, maka otomatis rahmat akan datang dari Sang Pencipta. Wallahualam.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar