Muharram Revamp: From Fragmented to United



#Reportase — Puluhan pelajar, mahasiswa, dan aktivis muda dari berbagai organisasi di Jabodetabek mengikuti agenda Sharinqu pada Sabtu, 7 Juni 2026, di Jakarta dengan tema “Muharram Revamp”. Acara dibuka dan dipandu dengan penuh semangat oleh Kak Mariam sebagai MC, sehingga suasana berlangsung hangat dan interaktif. Melalui materi yang disampaikan, peserta diajak untuk merefleksikan semangat perubahan diri dan kontribusi bagi umat di momentum tahun baru Hijriah.

Empat pemateri hadir dengan perspektif yang menguatkan. Ada Kak Azka (Komisi CFSLDK Jadebek dan Founder @adiksibuku), Kak Fitya (Ketum KAMMI Jaksel 2025–2027 dan Jurnalis Sabili.id), Kak Shofi (BMIC Jakarta dan Alumni Al-Azhar), dan Kak Nisa (Founder Mau Bener Bareng Community).

Pemateri pertama, Kak Azka, memaparkan bahwa Gen Z not lost, but rising. Menurut Kak Azka, Gen Z sering mendapat stigma sebagai generasi yang lemah atau tersesat. Padahal, mereka adalah generasi yang paling adaptif terhadap perubahan zaman, terutama di era digital yang menghadirkan tantangan berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.

Di balik berbagai stigma tersebut, Gen Z memiliki banyak potensi positif. Mereka makin sadar akan pentingnya kesehatan fisik dan mental, mulai menunjukkan ketertarikan yang lebih besar terhadap nilai-nilai spiritual dan agama, berani menyuarakan pendapat serta kritik melalui media sosial, memiliki kesadaran finansial yang lebih baik dengan minat tinggi terhadap kewirausahaan, dan menunjukkan solidaritas yang kuat terhadap berbagai isu sosial di tingkat nasional maupun global.

Potensi-potensi tersebut merupakan energi besar yang perlu dikorelasikan dengan gerakan umat. Namun, Gen Z juga menghadapi tantangan berupa pencarian jati diri, pencarian makna hidup, serta kesulitan mengubah semangat di ruang digital menjadi aksi nyata yang berkelanjutan. Karena itu, pendekatan yang diperlukan adalah mengapresiasi pilihan-pilihan positif mereka, memfasilitasi pengembangan potensi yang dimiliki, serta mengarahkan energi tersebut agar tetap berada di jalan kebaikan. Dengan demikian, Gen Z dapat tumbuh menjadi generasi yang istikamah, berjuang dengan sungguh-sungguh, dan memberikan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat.

Pemateri kedua, Kak Fitya, memulai pembahasan dengan tadabur Surah Al-Ma'idah ayat 54 yang menjelaskan tentang ciri-ciri hamba yang dicintai Allah dan mencintai-Nya. Di antara karakter yang disebutkan adalah bersikap lembut dan penuh kasih terhadap sesama mukmin, tegas terhadap kekufuran, serta senantiasa berjuang di jalan Allah tanpa takut terhadap celaan atau penilaian manusia.

Ditekankan bahwa sifat-sifat tersebut merupakan bagian dari janji Allah kepada orang-orang beriman yang istikamah dalam memperjuangkan agamanya. Dalam pemaparan tersebut disinggung pandangan Syeikh Ahmad Yasin mengenai keyakinan akan berakhirnya penjajahan Israel, termasuk pandangannya terkait fase perjuangan yang dikaitkan dengan rentang waktu tertentu. Namun, yang lebih ditekankan adalah pentingnya keyakinan bahwa pertolongan Allah pasti datang kepada umat yang tetap beriman, berjuang, dan bersabar dalam menghadapi berbagai ujian.

Maka penting sekali menjaga ukhuwah dengan sesama muslim, memiliki keberanian dalam membela kebenaran, serta menumbuhkan optimisme terhadap masa depan umat Islam dengan tetap berpegang pada perjuangan yang diridai Allah.

Pemateri ketiga, Kak Shofi, materi tentang "Islam as a Civilization". Alasan kenapa hijrah rasulullah menjadi penanggalan untuk tahun hijriah adalah karena awal dari perubahan besar. Kondisi umat Islam saat di Makkah dengan Madinah sangat berbeda. Perbedaan hukum yang berlaku antara Makkah dan Madinah juga berbeda.

Oleh karena itu, mengapa dalam hadis riwayat Muslim dan Bukhari, Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia adalah para sahabat, lalu tabi'in, kemudian generasi setelahnya, yaitu tabi'ut tabi'in. Dan generasi sahabat merupakan sebaik-baiknya generasi karena mereka lahir di kondisi yang tidak ideal. Akan tetapi menjadi generasi yang keimanannya paling tinggi.

Jadi awal tahun Muharram tidak hanya untuk memperingati hari besar kaum muslim saja, tapi menjadi momentum berharga kaum muslim, apalagi banyak sekali peristiwa-peristiwa besar di dalamnya.

Pemateri keempat, Kak Nisa memaparkan bahwa potensi besar terkadang berjalan sendiri-sendiri tanpa ada yang mengarahkan. Padahal umat muslim banyak bisa dilihat saat mereka wukuf kemarin, tapi mereka bagaikan buih di lautan. Allah juga telah me-mention dalam Surah Ali 'Imran ayat 110 umat yang terbaik adalah mereka yang beriman kepada Allah dan melakukan amar makruf nahi mungkar kepada manusia.

Lebih dari 13 abad Islam bukan hanya sekedar agama, tapi mencangkup tiga dimensi. Hubungan antara manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya, hubungan manusia dengan manusia lainnya. Saat ini umat terpisah dan terpecah maka sebagai generasi muda kita harus bersatu dan bersinergi bersama.

Caranya menjadikan Islam sebagai ideologi, membangun kesadaran politik umat, dan membina generasi. dengan empat langkah bergerak bersama, yaitu koneksi, komunikasi, kolaborasi, dan konsisten, umat Islam dapat bangkit. From fragmented to united, it's time to collaboration.


Komentar