The Future is Ours, Dunia Butuh Islam: Menakar Akar Masalah Global dalam Forum Diskusi Aktivis




#Reportase — Di tengah maraknya problematika pemuda dan kondisi global yang kian kompleks, sebuah ruang diskusi kritis bagi generasi muda berhasil diselenggarakan. Smart Islam Community yang bekerjasama dengan Smart With Islam sukses menggelar agenda FORDISA (Forum Diskusi Aktivis) pada hari Ahad, 24 Mei 2026. Acara yang dihadiri oleh perwakilan dari beberapa sekolah di DKI Jakarta ini mengangkat tajuk yang menggugah, yaitu “The Future is Ours, Dunia Butuh Islam”, dengan menghadirkan Kak Arum sebagai narasumber utama.

Rangkaian agenda FORDISA dimulai dengan penayangan sebuah video sebagai pemantik awal bahan diskusi. Setelah penayangan video tersebut, penyampaian materi oleh narasumber yang bertujuan untuk memicu jalannya diskusi yang dinamis di antara para aktivis pelajar yang hadir. Guna memberikan pemahaman yang komprehensif, penyampaian materi oleh Kak Arum pada agenda kali ini sengaja dibagi menjadi dua sesi besar.

Pada sesi materi pertama, Kak Arum memaparkan fakta-fakta objektif mengenai kondisi dunia saat ini yang sedang tidak baik-baik saja. Fakta kerusakan tersebut tersaji nyata mulai dari bencana alam yang tak kunjung usai seperti di Sumatra, karut-marut dunia pendidikan, hingga korupsi yang kian mendarah daging di kalangan pejabat tanpa rasa penyesalan. Selain itu, disoroti pula kondisi remaja yang menjadi sasaran empuk kapitalisme, serta nestapa berkepanjangan di Palestina yang masih dijajah.

Kak Arum menjelaskan bahwa rentetan masalah ini tidak terjadi begitu saja, tetapi berakar pada penerapan sistem kapitalisme dan sekularisme sebagai poros kehidupan global saat ini. Hubungan penguasa dan rakyat akhirnya bergeser menjadi transaksional. Ketamakan para penguasa yang berkolaborasi dengan pengusaha (kapitalis) berujung pada eksploitasi sumber daya alam secara ugal-ugalan dengan mengabaikan kesejahteraan rakyat. Prioritas negara pun tercederai; di saat anggaran fantastis dihabiskan untuk program seperti Makan Bergizi Gratis, padahal realitas di lapangan menunjukkan gaji guru masih sangat memprihatinkan dan biaya pendidikan melambung tinggi. Bahkan dalam isu Palestina, sekat nation-state (negara bangsa) berhasil memasung para pemimpin dunia Islam hingga bungkam seolah kaum muslimin tidak lagi berada dalam satu tubuh.

Sebagai antitesis, Kak Arum menjelaskan bagaimana Islam memandang hal ini. Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah ideologi (mabda) yang mengatur seluruh aspek kehidupan alam semesta. Dalam sistem Islam, penguasa menempatkan diri sebagai ra'in (pelayan/pengurus) yang wajib mengurus seluruh urusan rakyatnya mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga keamanan. Selain itu, penguasa juga bertindak sebagai junnah (perisai/pelindung) yang membentengi rakyat dari ancaman ekonomi, fisik, maupun perusakan moral.

 Melanjutkan materi pertama, acara beranjak pada sesi Focus Group Discussion (FGD). Sesi ini berfungsi sebagai wadah bagi peserta untuk menerapkan materi yang telah didengar. 

Setelah dinamika FGD yang interaktif selesai, acara berlanjut pada sesi materi kedua yang membahas tentang "Blueprint Islam Kafah". Pada sesi ini, dijelaskan secara gamblang bahwa Islam memiliki cetak biru nyata untuk memimpin dunia dengan meneladani Rasulullah saw. sebagai uswah hasanah (contoh terbaik). Sesi tanya jawab yang dibuka setelahnya berlangsung hangat. Tiga penanya kritis menyoroti isu Makan Bergizi Gratis, tips menjaga kesalihan di tengah sistem yang penuh distraksi, hingga menyikapi siklus pemilu lima tahunan, yang seluruhnya dijawab oleh pemateri menggunakan sudut pandang Islam beserta solusinya.

Sebagai kesimpulan akhir ditegaskan bahwa segala bentuk kerusakan moral, sosial, hingga politik di Indonesia dan dunia saat ini bersumber dari penerapan sistem sekuler-kapitalisme. Masalah-masalah tersebut tidak akan bisa diselesaikan dengan solusi parsial atau individual karena sifatnya yang sudah sistemik. Oleh karena itu, dunia membutuhkan Islam kafah sebagai ideologi alternatif yang mampu memimpin dan mengurus urusan umat manusia secara adil dan menyeluruh.


Komentar