Rini Sarah
MBG, Mas Bahlil Ganteng
Buah apa yang paling manis?
BUAH LIL!
Tambah ganteng aja
My little bolu ketan
......
#Remaja — Bacanya sambil nyanyi kan, Bestie? Emang gak bisa gak nyanyi sih. Lagunya menghantui pikiran banget. Gak bisa bengong dikit aja, langsung lewat dah tuh lagu di pikiran and gak pake lama mulut auto sing that song! Oemjiii....
Yang kena “sindrom lagu MBG” ini ternyata bukan kita doang. Dilaporkan banyak kalangan baik di dunia maya atau nyata menyanyikannya. Yang paling gong, damage lagu ini sudah menyentuh elite negeri +62. Bapak Jokowi aja sampai upload video sekelompok anak muda menyanyikan lagu itu di depan kediamannya. Asal tahu aja ya, lagu ini juga tembus go internasional terutama di Turki. So, tenang aja yaaa yang jadi anomali bukan hanya kita hehehe.
Di Balik Fenomena
Fenomena potongan lagu, jingle, nada, atau melodi yang autoplay di pikiran itu namanya earworm. Earworm (dikenal juga sebagai stuck song syndrome atau involuntary musical imagery) ini berasal dari bahasa Jerman cenah, Ohrwurm, artinya 'cacing telinga'. Kebayang ya ada cacing wara wiri di telinga. Agak-agak geli dan jijik ya.
Si Earworm ini ternyata tidak bisa dikatakan netral. Dia melahirkan dampak juga bagi manusia pengidapnya. Tentu saja dampaknya ada positif ada negatif, Bestie. Positifnya katanya buat hiburan. Yang negatifnya ini yang bejibun; mengganggu konsentrasi, menimbulkan rasa tidak nyaman, ganggu tidur, addiction, dan merupakan tanda gangguan mental tertentu such as Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). (mamasewa.com)
Khusus buat lagu MBG yang veyrel (viral) ini, menurut para ahli juga ada dampak negatifnya. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Fajar Junaedi menilai lagu yang awalnya berupa sarkasme untuk mengkritik kinerja pemerintah yaitu Pak Bahlil as Menteri ESDM berubah jadi popularitas. Pak Fajar juga mengungkapkan kalau sarkasme yang berulang terus-menerus akan kehilangan daya kritisnya. Lupa deh sama masalah pokoknya, teralihkan ke masalah receh yang justru jadi membalikkan citra bagi orang yang dikritik. (suara.com, 02/06/2026)
Lupa kalau kebijakan-kebijakan pemerintah terkait sumber daya energi di Indonesia buanyak merugikan rakyat. Seperti, kebijakan terkait LPG dulu yang bikin rakyat antre karena stok gak mencukupi, pas perang Iran–AS–Israel juga ada masalah dalam penyediaan LPG plus bahan bakar minyak hingga mengatrol harga solar dan LPG nonsubsidi. Truuus, kemarin yang kebijakan memotong jatah produksi batu bara yang bikin banyak PHK.
Nah, kalau lupa akibatnya bahaya. Apalagi kalau mulai berubah pikiran, tadinya kesel jadi ...iiih gemaaas sambil terlope-lope. Gawat ini mah... gawat darurat. Soalnya jadi gak ada lagi yang berisik dan mereka pun anteng melakukan aksinya. Hasilnya? Rakyat makin menderita, hukum syariat terus ternista. Jadi terpikir perlu kaan sebuah tameng agar gak gampang kena Earworm lalu tetap teguh berdiri dan bisa melihat sesuatu di balik sebuah fenomena.
Bermain Analisis
Pernah kepikiran gak, kok Pak Fajar bisa punya pikiran kaya tadi ya? Beliau gak ikut arus tren MBG song lalu hanyut dalam alunan musik yang ear catchy itu. Tapi beliau malah mengatakan udah itu bahaya. Kalian udah teralihkan dari tujuan utama.
Orang-orang yang bisa terbang melihat sesuatu di balik fenomena bukan lahir dari “abrakadabra”! Ujug-ujug ada. Tapi harus melalui rangkaian proses tertentu. Prosesnya adalah belajar belajar belajar dan belajar. Tapi bukan asal belajar.
Ada dua hal yang harus dimiliki jika analisis kita terhadap suatu fenomena terutama fenomena politik macam lagu MBG ini. Dua hal ini formulasi sigma dari Syekh Abdul Qodim Zallum yang beliau tulis dalam bukunya Pemikiran Politik Islam.
Beliau berkata jika ingin menganalisis pilarnya ada dua, as i’ve said before, yaitu: satu, mengikuti dan menguasai fakta. Faktanya jangan hanya ngikuti peristiwa politik lokal di negara kita aja, tapi harus kita amati hingga peristiwa-peristiwa internasional.
Contoh ni, ketika harga solar mobil Fortuner ayahmu naik. Kita gak berhenti cuma sampai kebijakan Bahlil, tapi kita lihat ada peristiwa apa saja yang mengelilinginya. Misal ada penutupan Selat Hormuz oleh Iran akibat perang Iran–AS–Zionis. Trus kita tanya lagi, kenapa kita kudu terpengaruh penutupan Selat Hormuz? Kenapa kita harus tergantung minyak yang dikirim lewat Selat Hormuz? Apakah kita gak punya minyak? Kalau punya apakah gak cukup? Emang berapa cadangan minyak yang kita punya? Kebutuhan kita berapa? Lalu selama ini itu minyak kita diurusnya kaya gimana? Trus aja cari jawabannya. Inget cari faktanya ya jangan asumsi alias reka-reka sendiri.
Nah, hal kedua yang perlu kita punyai setelah dapat fakta lengkap dan benar adalah pisau analisis, alias standar yang kita pakai buat menilai fakta tersebut. Standar ini namanya ideologi. Kalau kita orang Islam udah paling nyambung kalau pakainya ideologi Islam.
Kita nilai fakta itu baik berupa kebijakan pemerintah, statement politik, lagu-lagu yang sengaja diblow up apakah sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah. Lalu, analisis politik yang kita buat harus ditujukan untuk kebangkitan umat Islam dengan kembali pada penerapan syariat Islam kafah dalam institusi Khilafah.
Jika kita sudah tahu dua kunci ini, maka aktivitas kita bukan lagi doom scrolling konten-konten gak jelas lagi. Konten joget-joget atau hal receh lainnya. Tapi, ketika kita berinteraksi dengan media, yang kita lakukan adalah collecting fakta politik dan finding the correlation dari satu fakta dengan fakta lainnya. Lalu kita bisa lihat juga aktor-aktor yang berada di belakang fakta tersebut. Siapa dalangnya, siapa yang diuntungkan, dan apa sih yang diinginkan niscaya kita bisa bongkar busuknya rencana jahat orang bagi umat.
Kedua, kita juga akan sengaja menyiapkan waktu untuk mendalami ideologi Islam. Supaya pisau analisis kita makin tajam. Radar politiknya makin sensitif gitu lho. Jadi gak bakal gampang ketipu lalu kita juga punya solusi yang benar bagi fakta tersebut. Solusinya juga tepat ke akar masalah dengan rancangan penyelesaian secara teknis yang gamblang. So, kita bisa bekerja dengan efektif dan efisien. Gak asal gerak tapi gak ngaruh apa-apa.
Inilah hal yang harus dikuasai oleh umat Islam. Agar bisa uncover the truth behind sebuah peristiwa politik. Hatta itu peristiwa kaya hanya sekedar lucu-lucuan just for fun. Salam Semangat!
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar