Hessy Elviyah
#Bekasi — Keberadaan teknologi sejatinya mempermudah hidup manusia. Begitu pun perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang saat ini sangat lekat dengan generasi muda, seharusnya mampu mengembangkan kreativitas, teman diskusi, mempercepat informasi dan manfaat lainnya yang mampu melejitkan potensi generasi muda ke arah lebih baik sehingga membantu tumbuhnya generasi emas.
Namun, dalam penggunaan AI perlu adanya kemampuan untuk membatasi diri agar penggunaanya tidak merusak generasi itu sendiri. Maka dari itu, Polsek Bekasi Barat menggelar sosialisasi pemanfaatan AI kepada siswa SMKN 1 Kota Bekasi pada (11/09/2026). Kegiatan yang dipimpin oleh Kanit Binmas IPTU Samsul Ma’arif bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa agar bijak menggunakan AI dan bertanggung jawab. (Kpksigap.com, 10/09/2026)
Ancaman Nalar
Adanya AI selain memberikan kemudahan juga memiliki tantangan baru. Di satu sisi dapat membantu siswa dalam proses belajar. Namun, di sisi lain dapat menimbulkan kemalasan berpikir karena rentan dijadikan sumber utama atau referensi akhir. Ketika AI mudah memberikan jawaban, kemampuam berpikir manusia akan jarang terlatih. Sebenarnya AI dapat menjadi alat bantu untuk memperkaya ide dan hanya menjadi booster ide bukan sumber utama. Di sinilah persoalan muncul ketika pelajar cepat mendapatkan jawaban dan AI dijadikan jalan pintas untuk menyelesaikan tugasnya tanpa melalui proses memahami, menelaah, dan menyusun rangka pemahamannya sendiri. Jawaban yang diberikan AI terbaca sangat sempurna sehingga proses berpikir dianggap tidak lagi penting. Jika ini dilakukan secara terus menerus, pelajar bisa mempunyai banyak jawaban namun tidak mampu menjelaskan alasan di balik jawaban tersebut.
Di sinilah krisis berpikir perlu dicermati secara serius. Pendidikan seharusnya mampu membentuk individu membaca persoalan, mempertanyakan sumber informasi, menguji kebenaran, menyusun argumentasi, dan menarik kesimpulan berdasarkan pemahaman.
Ketergantungan terhadap penggunaan AI dapat menggeser tujuan tersebut ketika ukuran keberhasilan belajar hanya dilihat dari tugas yang selesai dikerjakan. Kecanggihan teknologi menjadi ironi ketika manusia yang memanfaatkannya justru kehilangan daya kritis dalam berpikir.
Oleh karena itu, mengedukasi pelajar tentang AI hendaknya dilakukan dengan membangun kemampuan berpikir kritis, bukan sekedar mengajarkan cara pemakaiannya saja. Pelajar perlu dibekali kemampuan memilah informasi, memverifikasi jawaban, mengkritisi hasil AI, dan tetap membangun gagasan melalui proses berpikirnya sendiri.
AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu manusia untuk berpikir, bukan sebagai mesin yang menggantikan proses berpikir. Sebab masa depan generasi bukan ditentukan oleh seberapa banyak menguasai teknologi canggih, tetapi juga ditentukan oleh seberapa tajam akal yang mereka gunakan untuk berpikir.
Islam membangun manusia dengan akidah sebagai landasan berpikir. Sedangkan ilmu dijadikan jalan untuk memahami kehidupan dengan benar. Maka dari itu, pendidikan harus membentuk pelajar yang memiliki daya nalar kritis, pola pikir Islam, mampu memahami fakta, menguji informasi dan mengaitkannya dengan hukum syariat. AI digunakan untuk membantu proses tersebut, sedangakan keputusan benar-salah, baik-buruk tetap berada dalam kendali manusia yang memiliki standar berpikir dengan jelas berdasarkan Al-Qur'an–Sunah.
Di tingkat pendidikan, penggunaan AI perlu diarahkan untuk memperkuat proses belajar, bukan justru menggantikanya. Pelajar tetap harus membaca, berdiskusi, mengkaji, menalar dan mempertanggungjawabkan setiap kesimpulan yang dibuat. Demikian pula, guru berperan membimbing siswa agar mampu mengkritisi hasil yang didapatkan dari AI. Lebih jauh, guru juga melakukan tabayun terhadap informasi yang diperoleh. Dengan seperti itu, teknologi berkembang tanpa mengorbankan kemampuan berpikir.
Lebih jauh lagi, pendidikan membutuhkan sistem yang menjadikan pembentukan kepribadian dan pola pikir Islam sebagai tujuan, bukan hanya pencapaian akademik dan persiapan keterampilan kerja. Negara berkewajiban menyediakan pendidikan yang membangun generasi yang berkepribadian Islam, menguasai ilmu dan teknologi, sekaligus memiliki kesadaran bahwa seluruh pemanfaatan teknologi harus tunduk pada Allah Swt.. Dengan begitu, AI tetap menjadi alat di tangan manusia, sementara akal tetap berada dalam bimbingan wahyu Allah Swt. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar