#Reportase — Keprihatinan mendalam tengah melanda negeri kita, termasuk di dalamnya Kabupaten Bogor. Kasus video asusila yang terjadi di Leuwiliang, Kabupaten Bogor baru-baru ini, menjadi bukti bahwa besarnya gelombang ancaman moral sedang mengintai generasi kita.
Data Kemenkes RI mencatat lebih dari 560.000 kasus HIV di Indonesia, mayoritas dari kelompok LSL. Bahkan di tingkat lokal, Kabupaten Bogor menduduki peringkat tertinggi kasus HIV/AIDS dibandingkan Sukabumi, Karawang, Bandung, dan Cirebon. Penyimpangan perilaku LGBT ini ternyata bukan lagi isu yang jauh, tapi ancaman nyata yang makin dekat dengan lingkungan tempat tinggal kita. Sehingga, menjaga benteng akidah dan moralitas generasi muda saat ini, menjadi perjuangan yang kian krusial.
Lalu, bagaimana langkah strategis dan solusi syariat yang harus kita lakukan bersama untuk membentengi keluarga serta menyelamatkan generasi?
Untuk itu diselenggarakan forum Silah Ukhuwah Tokoh Muslimah Kabupaten Bogor yang bertajuk "Selamatkan Generasi dari Ancaman Kejahatan LGBT" pada Ahad, 4 Oktober 2026 di Kantor Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor.
Acara yang dihadiri oleh Ibu Camat Ciampea sekaligus Ketua TP PKK Kecamatan Ciampea, Emma Nurmaya, A.Md., serta menghadirkan narasumber Linda Ratna Yanti, S.S.T., Bdn., Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kab. Bogor periode 2023—2028 dan Ustazah Arini Retnaningsih, S.P., Penulis, Pengisi MT, dan Pendakwah ini diikuti sekitar 75 tokoh muslimah dari Kabupaten Bogor Barat.
Ibu Emma menyambut baik terselenggaranya forum ini. “Saya mengucapkan terima kasih dan selamat datang pada muslimah peduli generasi. Suatu kehormatan bagi kami. Semoga ini menjadi ibadah,” sambutnya. Menurut beliau, ternyata kita sedang menghadapi krisis bukan hanya ekonomi tapi juga mental dan pergaulan. Maka beliau mengundang seluruh istri kepala desa, Pokja I dan Pokja IV PKK Kecamatan Ciampea, agar mereka lebih peduli terhadap kondisi masyarakat dan ikut serta menjaga generasi.
Narasumber pertama, Bu Linda Ratna Yanti, menyampaikan materi berjudul "LGBT dalam Perspektif Kesehatan dan Peran Bidan sebagai Pengelola Kesehatan Reproduksi". Beliau menyampaikan bahwa LGBT merupakan isu yang perlu dipahami secara komprehensif dalam konteks kesehatan masyarakat. “Kejahatan LGBT itu merusak kesehatan reproduksi ibu-ibu. Dampak krusialnya adalah HIV. Dan kasus HIV saat ini sudah bukan lagi penambahan tapi ledakan, ungkapnya. Beliau menyeru kepada para bidan yang hadir bahwa bidan adalah tokoh masyarakat. Maka bidan harus bisa memberikan nasihat, edukasi, konseling dari perspektif manapun sehingga bidan harus meningkatkan literasinya."
Sedangkan narasumber kedua, Ustazah Arini Retnaningsih, mengupas materi tentang "Membongkar Akar Masalah LGBTQ+ dan Tanggung Jawab Ideologis Menyelamatkan Generasi". Beliau memandang persoalan LGBT bukan semata penyimpangan perilaku individu. Menurutnya, persoalan ini tumbuh subur karena cara pandang sekuler dan liberal yang menempatkan kebebasan individu di atas segalanya. Ditambah adanya kampanye global yang masif melalui media dan budaya popular membuktikan bahwa LGBT ini adalah masalah sistemik.
Merujuk pada Al-Qur'an Surah Al-A'raf: 80–81 dan sejumlah hadis, Ustazah Arini menegaskan bahwa dalam pandangan Islam perilaku tersebut dilarang dengan sangat tegas dan sanksinya juga mengerikan. Sangat berbeda dengan hukum di negara kita yang hanya menempatkannya sebagai ancaman nonmiliter tanpa ada sanksi hukum yang bisa menjerat.
Penulis yang juga pengisi majelis taklim di Ciomas ini lalu memaparkan tiga pilar penyelamatan generasi. Pertama, ketakwaan individu, yakni peran orang tua menanamkan akidah Islam dan mendampingi pergaulan anak. Kedua, kontrol sosial di tengah masyarakat melalui amar makruf nahi mungkar, dengan menggerakkan peran mubaligah, pendidik, kader PKK, tenaga kesehatan, dan semua tokoh umat. Ketiga, peran negara melalui regulasi, pengawasan media, sanksi hukum, dan kurikulum pendidikan yang berbasis akidah Islam.
Dan karena LGBT ini adalah problem sistemik, maka Ustadzah Arini mengajak semua tokoh yang hadir untuk ikut serta menyadarkan umat, membina umat, membangun opini umum di tengah umat tentang butuh penerapan Islam kafah untuk menyelesaikan problem ini dari akarnya. Para tokoh butuh amunisi untuk bisa melakukan itu semua, yaitu dengan mengkaji Islam kafah secara intens.

Komentar
Posting Komentar