Siti
Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Allah
Swt. menciptakan manusia
dengan sebaik-baik bentuk, dan memberikan seperangkat aturan untuk menjaga
manusia agar senantiasa berjalan dalam koridor hukum syariat Islam. Salah satu amal yang
diatur dalam Islam adalah
berbicara. Setiap muslim diarahkan untuk berkata yang
baik dan benar, serta dilarang berkata yang buruk/berbohong. Sebab, perkataan
yang keluar dari lisan seorang muslim menunjukkan kualitas keimanannya. Hal ini
menjadi dorongan bagi setiap muslim untuk menjaga lisannya dan berhati-hati
dengan lisannya, karena lisan hanya digunakan untuk menyampaikan kebenaran.
Berani
berkata yang benar adalah salah satu akhlak mulia yang disukai oleh Allah dan
Rasul-Nya. Dan Firman-Nya Allah Swt. menegaskan, "Hai orang-orang yang
beriman kepada Allah dan Rasulullah, bertakwalah kepada Allah dalam segala
urusan kalian dan selalu berusahalah berkata benar, niscaya Allah akan
memperbaiki dan menerima amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan
barang siapa yang senantiasa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka dia akan meraih
kemenangan yang besar.”
(Surah
Al-Ahzab
Ayat 70–71)
Allah
Swt. memberi balasan berupa
pahala bagi setiap muslim yang berani berkata benar dan mendapatkan kedudukan
tinggi di sisi-Nya. Bahkan berani berkata yang benar dipandang sebagai salah
satu bentuk jihad di jalan Allah. Rasulullah saw. bersabda, "Jihad yang paling utama
adalah mengatakan kebenaran (adil) dihadapan penguasa yang zalim.” (Hadis Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi).
Kisah
Hamzah bin Abdul Muthalib, yang dikenal sebagai asadullah (singa Allah) adalah sosok pemberani
tanpa ada rasa takut sedikit pun untuk menyampaikan kebenaran hingga ia dibunuh
dan Hamzah diberi gelar sebagai penghulu para syuhada atas keberaniannya.
Berani
menyampaikan kebenaran begitu banyak tantangannya, bahkan nyawa pun bisa
melayang. Apalagi dalam sistem yang menihilkan peran agama dari kehidupan
(sekularisme), yang membungkam setiap orang yang ingin menyampaikan kebenaran. Seperti yang terjadi
hari ini, rezim
penguasa mengeluarkan UU KUHAP yang dapat memidanakan seseorang yang mengkritik
penguasa dan para pejabatnya.
KUHAP menjadi senjata pamungkas penguasa untuk
membungkam kebebasan berbicara dan berpendapat masyarakat. Bukankah demokrasi
yang mereka agung-agungkan
senantiasa mengopinikan kebebasan tersebut. Namun, hadirnya UU KUHAP secara
langsung membungkam kebebasan berpendapat dan berbicara rakyat. Hal ini jelas
mencederai demokrasi dan bahkan bertentangan dengan demokrasi itu sendiri.
Tidak
dimungkiri,
demokrasi yang notabene berasal dari rahim yang sama dengan sekularisme, hanya
memberikan kebebasan berbicara dan berpendapat untuk kelompok tertentu.
Sedangkan rakyat dibungkam dan dijerat oleh delik hukum, tatkala berani
mengkritik penguasa dan para pejabat atas setiap kebijakan yang mereka tetapkan
yang hanya menguntungkan mereka dan menyengsarakan rakyat. Teori demokrasi yang
selalu digadang-gadang, hanya ilusi yang sarat dengan kepentingan dan penuh kepalsuan.
Sejatinya,
muhasabah/mengoreksi penguasa dan para pejabatnya adalah bentuk amar makruf di antara sesama muslim.
Karena manusia adalah makhluk yang lemah dan memiliki peluang untuk melakukan
kesalahan dan penyimpangan. Kritik
untuk menyampaikan pendapat adalah
bentuk kepedulian rakyat kepada pemimpinnya. Mereka diingatkan agar senantiasa
menjalankan amanahnya sebagai pelayan rakyat dengan sepenuh hati. Namun, bentuk kepedulian rakyat
ini justru menjadi penghalang bagi penguasa dan jajarannya untuk memuluskan
berbagai kepentingan mereka. Tahta, harta, dan kekuasaan telah
membutakan mata hati dan telinga mereka bahwa apa yang mereka miliki hari ini
adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Umat
Islam pun tak boleh takut dan gentar untuk terus menyuarakan kebenaran dan
menghapuskan semua kezaliman, walaupun nyawa menjadi taruhannya. Karena tatkala
kebenaran dilenyapkan dalam kehidupan manusia, maka tunggulah kehancuran akan
menghampiri dan memusnahkan kita. Jangan
pernah berhenti untuk bersuara, karena pada akhirnya kebenaran yang akan
menjadi pemenangnya dan menghancurkan semua kebohongan dan tipu daya penguasa.
Rusaknya
fakta kehidupan hari ini seharusnya makin menyadarkan umat Islam, untuk
bersinergi bersama untuk bangkit mengubah kondisi yang rusak menjadi kondisi
yang lebih baik. Terus menyuarakan kebenaran dengan mengopinikan dakwah Islam
sebagai solusi kehidupan. Menjelaskan semua kerusakan sistem buatan akal
manusia dan menjadikan Islam sebagai solusi satu-satunya dalam kehidupan
manusia.
Oleh
karena itu, wahai umat muslim, jangan pernah lelah, takut, dan gentar untuk
menyampaikan kebenaran atau kita mati dalam memperjuangkan kebenaran seperti
apa yang dilakukan oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Karena kehidupan di dunia
adalah kehidupan sementara, dan kehidupan akhirat adalah kehidupan abadi tempat
kita kembali nanti. Jangan pernah sia-siakan waktu di dunia hanya diam membisu membiarkan kezaliman demi
kezaliman terjadi dihadapan kita tanpa berani mencegahnya. Karena umat Islam
adalah umat terbaik yang senantiasa
menyuarakan kebenaran, hingga cahaya Islam hadir kembali menyinari kehidupan
umat manusia dan mengeluarkannya dari kegelapan sistem batil buatan akal
manusia.

Komentar
Posting Komentar