TKA, Bukan Sekedar Jebloknya Nilai Matematika

 



Rini Sarah


#Remaja — Sudah lihat nilai TKA-nya? Bagaimana? Bikin bahagia? Atau sebaliknya? Kalau ada yang merasa malu ketika melihat hasil TKA-nya yang jeblok, kamu punya temen! Temen kalian tidak satu atau dua orang, tapi hampir seluruh Indonesia! Selain siswa-siswa peserta TKA se-Indonesia, kamu juga ditemeni oleh Pak Menteri! Yups, Pak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, kayanya merasa malu juga sih. Setelah tahu kalau rerata nilai TKA terutama Matematika jeblok se-Indonesia. (cnnindonesia.com, 26/11/2025)


Kemendikdasmen memang telah merilis hasil TKA (Tes Kemampuan Akademik) untuk pelajar SMA/sederajat. Hasil rerata nilai Matematika nasional memang hasilnya menyedihkan. 36,10 dari 100. Rerata nilai itu merupakan capaian  3.489.148 siswa peserta TKA mata pelajaran matematika. (detik.com, 24/12/2025).  Dua mata pelajaran lain, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris juga nasibnya tidak jauh beda. Bahasa Indonesia dapat 55,38, sedangkan bahasa Inggris 24,93. Menyedihkan memang.


Kaget

Menurut  Ibu Rahmawati, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan  (Pusaspendik), BSKAP Kemendikdasmen, jebloknya rerata nilai matematika karena siswa tidak familier dengan soal-soal yang diujikan di TKA. Kaget kali ya  pas liat soal, kok gak kenal semua.  Bu Rahmawati juga menerangkan kalau soalnya memang perlu penalaran lebih, karena ada variasi logika yang harus dipertimbangkan ketika mengerjakannya. Ini yang tidak biasa dilakukan oleh siswa.


Pak Menteri Dikdasmen Abdul Mu’ti  juga mengatakan kalau ada Ibu yang mengeluh kepadanya bahwa materi pada soal-soal TKA belum diajarkan di sekolahnya. Lalu, soal di-try out juga berbeda dengan soal-soal TKA. Ibarat kata, siswa tidak punya pengalaman dan amunisi buat perang menundukkan soal TKA.  (detik.com, 24/12/2025)


Bang Jerome Polin juga sempat komentar tentang jebloknya nilai matematika TKA di video reels yang diunggah di akun medsos MantappuAccademy. Dia bilang penyebab dari jebloknya nilai Matematika TKA karena siswa tidak paham basic-nya matematika. Jadi jika menemukan variasi soal, langsung gagap. Logikanya macet.


Hilang Arah

Membaca komentar-komentar tentang penyebab jebloknya nilai matematika TKA SMA/Sederajat, tercium bau-bau kalau semuanya seperti hilang arah. Kaya semuanya sedang menghadapi mystery box, dan ketika itu dibuka voila semua gagap karenanya. Yang ngasi mystery box gagap dengan kondisi penerima, penerima juga tidak punya bekal yang sufficient buat ngadepin isi mystery box-nya. Kaya kena prank semuanya kalau kaya gini sih. 


Di-prank itu memang bikin males.  Kadang bikin orang jadi sinis. Kurikulum dan kebijakan pendidikannya tidak stabil, berganti seiring pergantian menteri bikin illfeel. Apalagi kalau dihubungkan dengan susahnya mencari pekerjaan atau melanjutkan ke perguruan tinggi selepas SMA, makin sinis lah generasi muda dengan yang namanya belajar. Walau bisa jadi tidak semua siswa merasa begini. Tapi mayoritas mungkin merasakan ini. Makanya lahir tren gaya hidup lying flat.


Dalam sistem pendidikan sekarang, mayoritas siswa memang dibuat bingung. Mereka bertanya-tanya, sebenarnya buat apa sih belajar? Semua materi dalam mapel kaya tidak relate dengan hidup dia sehari-hari. Makanya ada video reel seorang murid yang mempertanyakan soal tentang menghitung energi potensial dan kinetik pada sebuah benda yang jatuh. Video itu juga di-react oleh seorang content creator yang menyatakan bahwa sistem pendidikan kita memang mengajarkan ilmu-ilmu yang tidak perlu dipelajari oleh semua siswa.


Ruang hidup yang diasuh oleh ideologi kapitalisme sekuler makin menyempurnakan kemalasan siswa dalam belajar. Tata nilai dalam sistem hidup ini tidak mengarahkan pemuda untuk cinta menempuh kepedihan dalam berjuang, termasuk berjuang dalam meraih cahaya ilmu. Hal itu dianggap tidak membahagiakan. Karena kebahagiaan dalam sistem ini didefinisikan sebagai hedonisme alias meraih kenikmatan jasmani sebesar-besarnya. Makanya kita bisa dapati, konser-konser para idol dipadati oleh para pemuda, sementara majelis ilmu mah, mohon maaf udah kaya sekolah libur. Sepiii. Ditambah dengan kebebasan berperilaku, klop sudah, siswa pasti hanya ingin melakukan perbuatan yang dia sukai saja. Celakanya, yang mereka sukai itu bukan belajar. Hasilnya? Wajarlah mereka gagap ketika nemu soal TKA. Sedihnya, banyak yang tidak peduli dengan jebloknya nilai yang diraih. 


Kalau udah gini, ternyata persoalan pendidikan kita itu bukan sekadar jebloknya nilai matematika (dan mapel lainnya) di TKA ya. Tapi, sistem pendidikan dan sistem hidup kita juga udah masalah. Keduanya udah gagal mewujudkan SDM yang unggul dalam saintek dan berkarakter salih/saliha. Cinta belajar saja tidak, bagaimana mau pinter dan berkarakter?


Sistem Pendidikan 

Belajar adalah kewajiban bagi seorang muslim. Dalilnya pasti kalian juga sejak TK sudah hapal. "Thalabul 'ilmi faridhatun 'ala kulli muslimin." Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim (Hadis Riwayat Ibnu Majah). Sudah jelas dalam teks hadisnya kalau belajar mencari ilmu itu wajib. Namanya wajib itu harus dilakukan. Gak boleh kosong waktu hidup kita dengan kegiatan ini. Kalau kosong alias tidak kita laksanakan, ya pasti dosa. 


Nah sekarang, kewajiban menuntut ilmu itu dibagi dalam dua area. Menuntut ilmu agama Islam itu hukumnya wajib 'ain alias wajib bagi setiap orang. Dia baru gugur kewajibannya kalau setiap orang melaksanakannya. Kaya salat gitu, gak bisa diwakilkan. Trus, kalau belajar saintek kewajibannya bersifat wajib kifayah, artinya jika ada sekelompok orang yang melaksanakan dan sudah dianggap sempurna penguasaannya, maka sudah gugur kewajiban itu. Kalau belum, ya harus diupayakan oleh semua orang agar ada dari mereka yang dianggap telah sempurna penguasaan ilmunya.


Bersabar dalam perjuangan menuntut ilmu juga itu kebaikan. Allah mengibaratkan jalan yang kita tempuh dalam menuntut ilmu itu sebagai jalan yang mempermudah menuju surga. Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 2699)


Selain itu, orang-orang yang belajar akan ditinggikan derajatnya oleh Allah, sebagaimana dalam Surah Al-Mujadilah Ayat 11, “Niscaya Allah akan meninggikan (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan."


Pemahaman dari dalil-dalil di atas, sungguh telah menginspirasi bagi muslimin di zaman dahulu. Hal itu membuat  Imam Syafi'i yang rela melakukan perjalanan jauh demi satu hadis, juga Ibnu Thahir yang berjalan kaki tanpa alas kaki menembus panas padang pasir. Ibnu Abbas juga rela senantiasa siaga mendampingi Nabi Muhammad saw. guna mendapat ilmu dari beliau saw. Bahkan, ketika Rasulullah wafat, beliau tetap berkeliling ke para sahabat hingga melakukan perjalanan jauh ke Yaman, Mesir, dan lainnya demi mendapatkan ilmu. Semuanya semangat dalam mencari, mengamalkan, dan mendakwahkan ilmu.


Tentu saja, semangat para pencari ilmu ini bukan tanpa support system. Ada keluarga dan tentu saja ada negara yang mempermudah dalam pelaksanaannya. Negara akan mendukung dengan menerapkan sistem hidup dan pendidikan yang mensupport penuh terbentuknya SDM-SDM unggul. Bukan pinter akademis saja, tapi sekaligus karakternya juga agung. Sistem pendidikan ini haruslah berlandaskan Al-Qur'an dan Sunah, yang bertujuan melahirkan insan-insan beriman kuat, bertakwa, dan mumpuni dalam sains teknologi.


Selain itu, negara juga menyediakan fasilitas pendidikan yang bisa diakses seluruh warga negara dengan gratis. Tentu saja dengan kualitas terbaik sesuai zamannya. Ibarat kata tinggal mau saja. Semua fasilitas tersedia. Nah, kalau yang tidak mau belajar bagaimana? Karena belajar merupakan kewajiban, negara pasti punya mekanisme agar seluruh warga negara pergi belajar. 


Lalu, negara juga akan mengukur hasil pencapaian selama proses belajar, apakah sudah sesuai target atau belum. Nanti, ujiannya bukan hanya mengisi soal matematika atau STEM. Tapi, dalam sejarah penerapan sistem hidup Islam, menurut Dr. Ainur Rofiq, perilaku alias karakter juga diuji. Kalau bahasa sekarangnya, karakter dan kompetensi juga diuji. Biar gak lahir generasi pinter tapi keblinger. Trus, generasi pinter keblinger ini jadi pengurus negara, wiih kebayang bahayanya.


Jadi, inilah solusi Islam terkait masalah pendidikan. Tertarik? Harus! Karena inilah satu-satunya jalan bagi penyelamatan pendidikan kita. Allahu Akbar!


Komentar