Refi Oktapriyanti
#Wacana — Menjelang bulan Ramadan, yang seharusnya disambut dengan kegembiraan, justru sebaliknya. Harga komoditas pangan kembali mengalami lonjakan kenaikan harga secara drastis, sehingga rakyat kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya. Seperti yang terjadi di pasar tradisional Kota Bandung Jawa Barat, sejumlah harga komoditas pangan, yaitu telur, cabai rawit mulai merangkak naik menjelang bulan puasa Ramadan.
Gin Gin Ginanjar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung menegaskan Gerakan Pangan Murah (GPM) difokuskan pada komoditas yang sedang mengalami kenaikan harga—ayam potong, telur ayam, dan cabai. Pemerintah tidak menjual seluruh jenis bahan pangan, tapi hanya komoditas yang harganya melonjak serta membutuhkan intervensi supaya daya beli masyarakat tetap terjaga. (radarbandung.id, 17/09/2026)
“Misalnya hari ini, harga telur di pasaran sudah menyentuh Rp30.000 bahkan Rp31.000 per kilogram. Di GPM (Gerakan Pangan Murah) bisa dijual Rp27.000 per kilogram karena ada subsidi, khususnya di biaya distribusi,” ujar Gin Gin. (radarbandung.id, 17/09/2026)
Selain itu, harga cabai rawit juga tercatat paling tinggi kenaikannya. Dari harga sebelumnya Rp40.000 per kilogram, menembus Rp100.000 per kilogram. Daging sapi naik dari harga Rp130.000 menjadi Rp145.000 per kilogram. Ayam potong melonjak dari harga Rp33.000 menjadi Rp42.000 perkilogram, dan sementara telur ayam naik dari harga Rp27.000 menjadi Rp31.000 per kilogram. (radarbandung.id, 17/09/2026)
Setiap menjelang bulan Ramadan, masyarakat Indonesia hampir selalu menghadapi fenomena yang sama, yaitu harga kebutuhan pokok melonjak. Kondisi ini bukan hal baru, tetapi justru menjadi pola tahunan yang mencerminkan adanya masalah struktural dalam sistem ekonomi dan tata kelola pangan.
Penyebab terjadinya lonjakan harga komoditas ini di antaranya bukan hanya mengalami tingginya permintaan, melainkan rantai distribusi yang panjang dan tidak efisien. Komoditas dari petani harus melewati banyak perantara sebelum sampai ke pasar. Hal itulah yang mengakibatkan harga tingkat petani tetap rendah, harga di tingkat konsumen melonjak tinggi, serta spekulan dan tengkulak justru mendapat keuntungan besar. Adanya penimbunan stok oleh oknum, permainan harga oleh kartel pangan, spekulasi pasar demi keuntungan besar, dan ketergantungan Impor serta lemahnya kedaulatan pangan lokal.
Kenaikan harga pangan menjelangan Ramadan ini menunjukkan bahwa adanya kerusakan tata kelola pangan dalam sistem ekonomi kapitalistik karena pangan di sini diposisikan sebagai komoditas bisnis, bukan hak dasar rakyat sehingga menimbulkan beban berat bagi rakyat kecil.
Sedangkan Islam dengan sistem ekonomi yang di dalamnya terdapat tata kelola pangan sehingga mampu memastikan harga pangan dengan stabil dan terjangkau termasuk saat permintaan naik menjelang pada bulan Ramadan. Selain itu, negara dalam sistem Islam akan melakukan pengawasan terkait harga komoditas berbagai jenis pangan setiap harinya secara rutin, sehingga ketika terjadi lonjakan harga, negara akan melakukan antisipasi sesuai aturan syariat.
Terbukti bahwa negara yang menerapkan Islam secara keseluruhan akan mewujudkan kehidupan yang tentram bagi umat serta mampu memenuhi kebutuhan umat. Hal itu karena Islam bukan hanya mengatur ibadah spiritual, melainkan juga mengatur seluruh aspek kehidupan.
.png)
Komentar
Posting Komentar