Bukan Sekadar Nyanyian

 




Rini Sarah



#Remaja — Lebaran usai terbitlah halal bihalal, Bestie. Sudah berapa chapter halal bihalal yang kalian datangi? Banyak or nol sama sekali? Apa pun kondisi halal bihalalmu, suasana itu pasti deh bawa kita flasback ke Ramadan kalau ngga ke suasana Idulfitri.



Dalam suasana Idulfitri, banyak kegiatan yang dilakukan muslimin. Mulai dari menyiapkan berbagai makanan khas lebaran, outpit yang mau digunakan, dekorasi ruangan, sampe amplop-amplop THR.  Ini contoh-contoh kegiatan yang dilakukan di rumah-rumah. Kalau di masjid lain lagi.



Di masjid banyak juga kegiatan yang dilakukan, Bestie. Ngepel, nyapu, bersih-bersih. Eh ini mah hari-hari biasa juga dilakukan ya. Tapi, kalau pas mau lebaran bersih-bersih masjidnya spesial dong. Gak cukup yang standar. Pasti bersih-bersihnya next level. Selain itu, ada juga yang sibuk mengurusi penerimaan dan penyaluran zakat fitrah dan mal. Naaah, pas setelah magrib dari speaker-speaker masjid terdengar lantunan takbir. Orang Indonesia menyebutnya takbiran.



Duh, kalau sudah mendengar lantunan takbiran auto meleleh dan meleyot hati ini. Campur aduk rasanya. Ada bahagia, sedih, dan haru juga plus auto mikir. Lantunan takbiran emang so touchy. Karena itu emang bukan sekadar nyanyian tapi itu lantunan Takbir yang bermakna sangat dalam.



Yuks, kita coba telaah dan pahami susunan kalimat dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Mudah-mudahan bisa menggugah kesadaran kita dan menyentuh kalbu kita juga. Here the takbiran go....



اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ


Latin:


Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, lā ilāha illallāhu wa lā na'budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīn, wa law karihal kāfirūn. Lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzāba wahdah. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.


Artinya:


"Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang. Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan agama untuk-Nya walau orang-orang kafir membencinya. Tiada Tuhan selain Allah sendiri, Dia menepati janji-Nya, dan menolong hamba-Nya, dan memukul mundur musuh dengan sendiri-Nya. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar."



Dari susunan kumandang takbiran kita bisa menemukan hikmah pemahaman. Setidaknya ada tiga hal. Pertama, ada pemurnian agama Islam. Jadi, kita itu hanya mengakui bahwa Allah Swt. adalah Tuhan kita. Gak ada Tuhan lain yang kita akui. Konsekuensinya kita hanya tunduk, patuh, dan menyembah Allah saja. Wujudnya, kita gak menyerahkan hak pembuat aturan pada manusia. 



Hanya Allah yang boleh jadi pembuat hukum dan manusia harus tunduk kepadanya. Nah, kalau manusia hanya tunduk pada Allah dan maunya diatur sama hukum Allah saja, kaum kafir jadi marah. Tapi kita muslim tidak peduli dengan itu. Soalnya kalau kita ngikut kemauan orang kafir dengan meninggalkan pemahaman yang tertulis dalam kumandang takbir tadi, auto kita gak punya harga diri dan jadi sasaran penjajahan orang kafir. 



Kedua, memuliakan orang yang berjuang menegakkan syariat-Nya. Dalam teks kumandang takbir tersirat bahwa Allah akan menolong dan memberikan kemenangan pada tentara-Nya. Tentara di sini maksudnya adalah orang-orang yang salih, berada di pihak Islam, dan memperjuangkan tegaknya syariat Allah. Dalam setiap perjuangan penegakan syariat ini Allah akan membersamai. Semoga kita termasuk orang-orang yang memperjuangkan tegaknya syariat Allah ini.



Terakhir, runtuhnya penjajah. Dalam teks bisa kita baca bahwa ahzab alias sekutu kaum kafir penjajah lari dan kalah. Kemenangan mutlak bagi kaum muslim akan terwujud atas sekutu kaum kafir penjajah.



Rahasia dibalik kumandang takbiran ini memotivasi kita bahwa kondisi kaum muslim saat ini sedang terjajah baik secara fisik atau politik dan ekonomi, insya Allah bisa kok berubah. Bisa lepas dari penjajahan dan kita jadi umat yang mulia kembali seperti umat Islam terdahulu.  Asal kita memang mau memperjuangkannya. Tentu saja bukan asal berjuang. Aktivitas perjuangan yang kita lakukan mesti relate dengan apa yang kita cita-citakan. 



Kalau kita terjajah karena kita tunduk pada kafir Barat dan mencampakkan Allah dalam kehidupan kita, berarti kalau mau balikin keadaan kita mesti mencampakkan ketundukan pada kafir penjajah lalu kembali memurnikan penyembahan kepada Allah dengan menerapkan syariat-Nya secara kafah. Caranya? Tidak lain tidak bukan dengan mengembalikan kesadaran kaum muslim biar balik ke what supposed muslim to be. 



Praktiknya ya ngajak mereka ngobrol terkait jati dirinya sebagai muslim dan kasi info-info tentang Islam kafah ke umat. Inget ya jangan setengah-setengah. Lalu, jangan lupa kita promosi ugal-ugalan tentang Islam kafah di berbagai kesempatan dan platform. Biar Islam kafah makin viral dan dipahami serta dicintai oleh umat.



Nah, kalau kita masih masuk ke orang yang awam mengenai Islam kafah itu bukan aib dan penghalang kita buat berjuang kok. Tenang aja, kita bisa sama-sama ngaji Islam kafah. Jangankan kita yang awam, yang udah  pro juga tetap ngaji kok. So, jangan berkecil hati atau malah jadi excuse untuk gak berjuang ya. Semangat! Allahu Akbar!




Komentar