78 Tahun Nakba, Meneropong Masa Depan Palestina



#Editorial — Tanggal 15 Mei merupakan momentum yang digunakan warga Palestina dan dunia untuk mengenang peristiwa memilukan yang dikenal dengan Nakba atau Hari Bencana. Peringatan pada tahun ini diwarnai aksi massa besar-besaran di berbagai kota besar dunia, termasuk di London, Meksiko, Milan, Amsterdam, dan New York. Jutaan warga turun ke jalan untuk mengecam agresi Zion*s yang masih berlangsung di Palestina hingga sekarang.

Terlebih pada malam peringatan Nakba, pihak Zion*s, justru melancarkan serangan baru ke Gaza. 11 orang tewas, dan puluhan lainnya luka-luka. Beberapa hari belakangan ini juga, militer Zion*s aktif melakukan aksi penyergapan terhadap armada kemanusiaan untuk Gaza, Global Sumud Flotilla (GSF). Ratusan aktivis dan jurnalis dari berbagai negara diculik, termasuk tujuh warga negara Indonesia saat pelayaran mereka sampai di perairan internasional dekat Siprus/Yunani. Ini semua menandakan bahwa kejemawaan pihak Zion*s di Palestina sudah tidak mempertimbangkan kesan dan pandangan dunia.


Bukan Sekadar Hari Bencana

Pada 78 tahun lalu, tepatnya 15 Mei 1948, sekira 750 ribu hingga 1 juta warga Palestina diusir paksa oleh entitas Yahudi Zion*s dari tanah kelahirannya. Hal itu dilakukan setelah sehari sebelumnya entitas tersebut memproklamasikan berdirinya negara ilegal bernama “Israel” di bawah dukungan negara-negara adidaya, terutama Inggris dan sekutunya dari kalangan para pemimpin Arab.

Bagi warga Palestina, peristiwa yang disebut Nakba itu tentu bukan sekadar bencana. Peristiwa itu sekaligus menjadi awal penderitaan struktural akibat praktik kezaliman sistemis  yang dilakukan pihak Zion*s atas legitimasi sistem politik internasional.  Target mereka jelas, yakni merebut seluruh kawasan Palestina dan menyatukannya di bawah satu bendera, Israel Raya.

Agresi dan blokade Zion*s atas Jalur Gaza pascaperistiwa Thufan al-Aqsha (7-10-2023) menggambarkan kuatnya ambisi satanik ini. Militer Zion*s telah berhasil membunuh lebih dari 72.000 warga Gaza dan melukai lebih dari 172.700 lainnya. Lebih dari 70% persen korban, adalah perempuan dan anak-anak.

Data PBB menyebut, 90% dari 2,3 juta warga Gaza lainnya hidup terlunta-lunta akibat eskalasi serangan yang tidak berhenti meski di tengah gencatan senjata. Situasi ini memicu krisis kemanusiaan parah yang ditandai dengan kerusakan infrastruktur masif dan bencana kelaparan. Bahkan bisa dipastikan pihak Zion*s sengaja menggunakan strategi pelaparan ini untuk target genosida warga Gaza.

Mirisnya semua kekejian dan dehumanisasi tiada tara ini terjadi di depan mata dunia dan para pemimpinnya. Lembaga internasional mandul, seperti ada dan tiada. Amerika dan sekutunya justru bebas memimpin pergerakan untuk mendukung visi Zion*s  ini. Misalnya melalui proyek Abraham Accord, dan proyek Gaza Baru atau Trump Riviera, dengan 21 Point Plan yang disampaikannya pada Sidang Umum PBB, September 2025.

Untuk mempercepat visinya di Gaza ini pun, Presiden AS Donald Trump menggagas pembentukan Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP). Sebanyak 28 negara menjadi anggotanya, termasuk negeri-negeri muslim seperti Indonesia, Saudi Arabia, Turki, Qatar, Mesir, UEA, dan sebagainya. Mereka berbicara tentang perdamaian, sedangkan dewan ini digagas oleh pendukung penjajahan dan salah satu anggotanya ada negara ilegal “Israel”, sang pelaku utama penjajahan di Palestina!


Di Mana Umat Islam?

Tampak bahwa entitas umat Islam dunia dalam posisi tidak berdaya. Sebanyak 2,5 miliar lebih jumlah mereka—yang dipisah-pisah menjadi 57 negara bangsa—sama sekali tidak mampu membungkam kebiadaban entitas Zion*s yang hanya 10,3 juta orang itu. Para pemimpin mereka justru menempatkan diri sebagai kacung bagi Amerika dan sekutunya. Mereka gadaikan posisi sebagai pemimpin umat hanya demi sokongan kekuasaan dari Amerika.

Hingga saat ini, Palestina terus membara. Keheroikan perang Iran pun nyatanya tidak mampu menghentikan target genosida di Gaza. Bahkan, update dari sumber-sumber media tepercaya menunjukkan bahwa sepanjang Perang Iran, serangan, pelaparan, penculikan, penyiksaan, dan kekejian lain di Gaza, juga wilayah pendudukan lainnya, justru kian masif. Demi memutus dukungan atau serangan dari apa yang disebut sebagai “poros perlawanan sekutu Iran di kawasan Timur Tengah”, Zion*s pun meluaskan serangannya ke Lebanon dan Yaman. Korbannya juga tidak bisa diabaikan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, jumlah korban akibat agresi Zion*s Israel sejak serangan 2 Maret 2026 sebanyak 3.020 orang tewas dan 9.273 orang lainnya luka-luka.

Perlawanan memang terus berlanjut. Bagi warga Gaza atau Palestina, mati dalam jihad adalah cita-cita. Namun pada saat yang sama, yang terjadi di Palestina adalah batu uji bagi kebenaran narasi perdamaian yang di gaung-gaungkan negara adidaya, sekaligus batu uji bagi kelaikan sistem kehidupan– sistem sekuler kapitalisme—yang dibangunnya. Sementara itu, bagi kita umat Islam, krisis Palestina menjadi ujian keimanan yang salah satunya mewujud dalam bentuk ukhuah islamiah!

Yang pasti, berlanjutnya penjajahan di Palestina sejak peristiwa Nakba sejatinya menjadi bukti nyata atas kebohongan narasi Barat soal perdamaian, antipenjajahan, HAM, dan sejenisnya. Juga menjadi bukti atas kegagalan sistem yang sedang tegak dalam menciptakan kerahmatan di dunia. Tidak kalah penting, krisis Palestina menunjukkan kebusukan konsep negara bangsa yang membuat umat Islam kehilangan power-nya.

Walhasil, solusi persoalan Palestina tidak bisa diharapkan datang dari negara-negara adidaya, lembaga-lembaga, ataupun konferensi-konferensi internasional. Juga tidak akan datang dari para penguasa pengekor, organisasi dan lembaga regional, termasuk organisasi dan konferensi negara Islam. Semuanya terbukti mandul, bahkan keberadaan mereka malah turut mengukuhkan keberlangsungan penjajahan terhadap Palestina.


Meneropong Masa Depan Palestina

Masalah Palestina dipastikan akan terus menjadi persoalan dunia sepanjang akarnya tidak diselesaikan, yakni menghilangkan penjajahan dan memberangus sistem yang mendukungnya. Tentu untuk itu diperlukan kekuatan besar yang berasal dari umat berupa tegaknya institusi kepemimpinan global yang visi politik ideologinya mampu secara vis-à-vis menghadapi sistem kepemimpinan kapitalisme global.

Institusi kepemimpinan tersebut tidak lain adalah Khilafah Islamiah. Khilafahlah yang akan siap menyatukan umat dan memobilisasi kekuatan, termasuk militer, untuk memutus rantai penjajahan dengan jihad fisabilillah. Khilafah pun akan merebut kepemimpinan global untuk mengeluarkan umat Islam dan manusia secara keseluruhan dari kegelapan sistem sekuler menuju cahaya Islam yang penuh kerahmatan.

Sistem Khilafah ini sejatinya bukanlah sistem yang baru dalam konstelasi politik internasional. Sistem warisan Rasulullah ﷺ ini pernah eksis selama 14 abad dan mampu tampil sebagai pemimpin peradaban cemerlang. Khilafah terbukti mampu menyatukan keragaman meski tetap dalam koridor penerapan syariat Islam dalam aspek kemasyarakatan. Nonmuslim yang hidup di dalamnya mendapat hak yang sama sebagaimana umat Islam, tidak boleh dizalimi dan dirampas hak-haknya.

Pada masa lalu, negeri Palestina pun punya sejarah khusus hingga akhirnya menjadi bagian dari Khilafah Islam. Ia dibebaskan pertama kalinya dari kolonialisasi pemerintahan Romawi Timur (Bizantium) oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Abdullah bin Jarrah dan Amr bin Ash atas perintah Khalifah Umar ra. Kerelaan mereka untuk diatur oleh kepemimpinan Islam, tampak dari prosesi penyerahan kunci gerbang Yerusalem yang dilakukan langsung oleh Patriark Sophronius, Uskup Agung Ortodoks Yerusalem kepada Khalifah Umar bin Khaththab.

Saat Palestina jatuh ke tangan Pasukan Salib, pasukan yang dipimpin Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, salah satu panglima perang dari Kesultanan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, terus berusaha merebutnya kembali. Upaya tersebut akhirnya mencapai hasil pada 1187 M.

Saat ini, sudah 78 tahun Palestina ada dalam penguasaan musuhnya. Ketiadaan payung Khilafah yang runtuh akibat konspirasi Zion*s dan Barat pada 1924 menyebabkan jalan pertolongan hakiki (melalui aktivitas politik dan militer) seakan tertutup bagi mereka. Umat pun hanya bisa menunjukkan solidaritas dan menolong semampunya.

Menyedihkannya, sebagian mereka bahkan masih terbawa narasi sesat semacam gagasan “solusi dua negara”. Mereka juga masih berharap bahwa keberadaan PBB, OKI, Mahkamah Internasional, bahkan BoP, bisa jadi dewa penolong untuk menghapus derita warga Palestina. Mereka lupa, semua narasi soal solusi Palestina yang datang dari negara adidaya, sekutunya, dan alat-alat mereka, sejatinya adalah tipuan belaka. Mereka hanya menjadikan Palestina sebagai komoditas yang diperebutkan demi kepentingan hegemoni kapitalisme global.


Khatimah

Secara keyakinan, masa depan Palestina dipastikan akan kembali cemerlang. Pasukan Khilafah yang dijanjikan akan membebaskannya hingga wilayah Syam (termasuk Palestina) akan kembali menjadi pusat peradaban cemerlang.

Namun masalahnya, kita sekarang dihadapkan pada fakta bahwa Palestina masih dalam pendudukan. Kaum muslim di sana menghadapi penderitaan tiada tara. Alhasil, wajib bagi kita menolong mereka sebagai bukti iman. Caranya adalah dengan terlibat pada upaya menegakkan Khilafah sebagai satu-satunya sistem kepemimpinan yang bisa diharapkan melenyapkan sumber kezaliman hingga ke akar.

Upaya ini tentu tidak mungkin dilakukan sendirian, melainkan harus bersama jemaah dakwah yang tulus dan fokus berjuang sesuai metode dakwah yang Rasulullah ﷺ contohkan, yakni berupa dakwah pemikiran yang bersifat politik dan tanpa kekerasan.

 

Komentar