#Reportase — Forum Diskusi Muslimah yang diadakan oleh Komunitas Guru Muslimah Inspiratif Bekasi dan Majelis Taklim Kamila pada tanggal 14 Mei 2026, dihadiri oleh para guru-guru dari tingkat pendidikan usia dini sampai tingkat tinggi. Forum ini dibuka dengan penayangan video, tentang seorang guru honorer dengan kondisi memilukan, yang digambarkan kondisi rumahnya hampir roboh dan ini menjelaskan fakta bahwa kesejahteraan guru jauh dari harapan.
Ibu Juarsih, S.Ag., M.Pd., sebagai narasumber pertama yang pernah menjadi guru honorer selama 20 tahun dan kini sudah PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Beliau membeberkan fakta lapangan yang telah dialaminya saat menjadi guru honorer hingga PPPK. Ia menyatakan bahwa mayoritas guru honorer masih hidup di bawah garis kelayakan finansial sedangkan program PPPK hadir sebagai solusi untuk mendongkrak kesejahteraan melalui gaji sementara. Ia menambahkan 42% guru honorer terjerat pinjol karena masalah finansial. Padahal guru adalah pencetak generasi masa depan dan penggerak roda pendidikan nasional.
Beliau juga menjelaskan bahwa ada lima peran krusial guru dalam pendidikan yakni pembentuk karakter, transfer ilmu, pemicu potensi murid, garda kesetaraan, dan navigator digital. Sayangnya, tantangan pendidikan saat ini tidak sejalan dengan kesejahteraan guru.
Narasumber kedua, Ibu Natalia Carolina Katili, S.Si., menjelaskan bahwa guru adalah garda terdepan, yang oleh karena itu Islam sangat memperhatikan kesejahteraan guru. Sedangkan kondisi hari ini, kata “sejahtera” tidak tergambarkan pada profesi guru. Beban kerja guru honorer maupun ASN (Aparatur Sipil Negara) sama, tapi gaji keduanya berbeda terlebih jika dibandingkan dengan pegawai MBG PPPK. Sejak lembaga pendidikan negeri ini berdiri tampak tidak pernah bisa mewujudkan kesejahteraan guru.
Dalam Islam, Allah menaikkan derajat orang-orang yang berilmu (guru), maka seharusnya negara memperhatikan nasib para guru saat ini. Akar masalah kesejahteraan guru adalah adanya penerapan sistem kapitalisme yang memiskinkan negara dan rakyat, sedangkan kekayaan hanya mengalir kepada orang kaya saja. Akibatnya, negara menganggap bahwa guru hanya alat produksi.
Islam melakukan jaminan kesejahteraan setiap individu untuk mendapatkan sandang, pangan, papan, dan juga keadilan ekonomi sehingga tidak berputar di orang kaya saja. Arah dan tujuan pendidikan Islam adalah mencetak generasi bersyahsiah Islam (berkepribadian Islam). Tidak hanya pada murid saja, tetapi juga guru yang bersyahsiah Islam. Perspektif Islam terhadap pendidikan adalah menganggap guru sebagai garda terdepan penjaga pemikiran umat, pencetak generasi unggul, tangguh, dan mulia.
Mengapa guru disejahterakan? Karena guru adalah pegawai negara dan negara menganggarkan dana gaji guru termasuk tunjangan dan pengeluaran dari pos-pos prioritas. Orang kaya juga membantu pembiayaan pendidikan dan pengelolaan kepemilikan umum kembali pada negara. Negara sudah seharusnya memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan pokok, kolektif, dan pelayanan umum yang gratis.[Rifka]

Komentar
Posting Komentar