Pemimpin yang Amanah


Siti Rima Sarinah



#MutiaraAl-Qur'an — Kepemimpinan merupakan amanah besar yang dibebankan ke pundak seorang pemimpin/penguasa untuk menjadi pelayan bagi semua urusan rakyat. Seorang pemimpin bukan hanya pandai berbicara, membuat janji atau program hanya untuk menyenangkan dan menarik simpati agar rakyat mau memilihnya, melainkan adalah penguasa yang memiliki kapabilitas, kemampuan, dan mendedikasikan dirinya untuk menjadi pelayan rakyat serta memahami kosekuensi amanah yang diberikan kepadanya. Menjadikan rakyat sebagai prioritas utama  untuk dilayani semua kepentingan dan hajat hidupnya. 

Rakyat pun membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap setiap persoalan yang dihadapi oleh rakyat. Senantiasa menjadi garda terdepan hadir di tengah rakyat untuk membantu menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi. Bahkan seorang pemimpin mengetahui apa yang dibutuhkan oleh rakyat tanpa rakyat harus meminta terlebih dahulu. Sehingga, semua rakyat merasakan kehadiran pemimpin dan merasakan pelayanan yang diberikannya. 

Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jangnlah kamu mengkhianti Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.“ (Surah Al-Anfal Ayat 27)

Makna dari ayat di atas adalah bentuk peringatan dari Allah bagi orang yang diberi amanah untuk tidak mengkhianati amanah tersebut, termasuk di dalamnya amanah seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak boleh mengkhianati amanah jabatan karena hal tersebut merupakan dosa besar yang kelak akan mendapatkan balasan yang sangat pedih.

Maka, seorang pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang menjalankan tugas kepemimpinannya dengan landasan keimanan dan ketakwaan. Ia adalah sosok pemimpin yang adil,  jujur, dan dipercaya oleh rakyat yang senantiasa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai aturan yang ditetapkan oleh Allah. Dan tidak  menyalahgunakan kekuasaan dan jabatan untuk kepentingan pribadinya, apalagi membuat rakyat hidup menderita.

Fakta seorang pemimpin yang hadir dalam kehidupan kita hari ini, tidaklah demikian. Walaupun di awal masa kampanyenya, beribu janji manis dan berbagai program diungkapkan untuk menarik simpati rakyat. Namun, kita bisa melihat setiap kebijakan dan aturan yang dibuat tidak sedikit pun diperuntukkan bagi kepentingan rakyat. Bahkan, sering kali membuat kebijakan yang membuat rakyat kecewa dan harapan hidup sejahtera hanyalah sebuah ilusi.

Pendidikan dan kesehatan merupakan hajat hidup rakyat yang seharusnya dijamin dan difasilitas oleh seorang pemimpin, justru anggarannya dialihkan untuk proyek penguasa dengan menggelontorkan uang negara hingga triliunan rupiah. Jeritan suara rakyat yang hak-hak mereka diambil dengan paksa seakan tak terdengar oleh pemimpin negeri ini. Proyek MBG pun terus berjalan tanpa mengindahkan protes dan kritikan dari rakyat untuk menghentikan proyek yang jelas-jelas menguntungkan penguasa dan antek-anteknya.

Hal ini mengakibatkan kondisi perekonomian di negeri ini makin merosot, utang makin menggunung, dan rakyat makin sulit untuk keluar dari jurang kemiskinan yang sangat dalam. Dalam kondisi negara yang tidak baik-baik saja, penguasa di negeri ini bersikap seolah-olah tidak ada masalah yang menimpa negeri ini. Bahkan dengan mudahnya mengatakan rakyat bisa hidup layak dan sejahtera, tetapi faktanya rakyat kesulitan untuk bisa memperolehnya. Karena rakyat senantiasa menjadi “mesin pencetak uang” negara dengan berbagai macam pungutan pajak demi untuk membayar utang negara. Padahal utang yang dilakukan oleh penguasa bukan untuk kepentingan rakyat, melainkan untuk menjalankan proyek populis penguasa dan memberikan fasilitas mewah kepada para pejabat.

Sebuah kelaziman fakta ini terjadi, karena walaupun penguasa hari ini beragama Islam tak lantas bisa menjadikannya pemimpin yang amanah. Sebah pemimpin yang amanah tak cukup beragama Islam saja, tetapi amanah akan bisa terwujud dalam sebuah sistem yang menerapkan seperangkat aturan Islam dalam seluruh lini kehidupan umat manusia. Tanpa sistem yang benar, mustahil akan dapat melahirkan sosok pemimpin yang amanah. Karena, sistem kapitalisme yang berjaya hari ini hanya mampu mencetak pemimpin yang zalim dan hanya memikirkan kepentingan mereka dengan mengabaikan kepentingan rakyat.

Hal ini seharusnya menyadarkan seluruh umat muslim bahwa kepemimpinan yang amanah tidak akan lahir dari sistem yang mendewakan materi di atas segalanya. Hanya sistem Islamlah yang mampu melahirkan pemimpin yang memiliki visi akhirat dan menjadikan keimanan dan ketakwaannya sebagai landasan untuk mengemban amanah sebagai pelayan rakyat. Ia adalah sosok pemimpin yang mengayomi dan menjadi pelindung bagi rakyat serta menghilangkan setiap kesulitan yang dihadapi oleh seluruh rakyat.

Potret sejarah kepemimpinan Islam di masa Khilafah menjadi bukti nyata keberhasilan para pemimpin umat yang bukan hanya mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam kehidupan rakyat, melainkan juga mereka adalah para pemimpin yang sangat mencintai rakyat dan sangat takut menyakiti atau menzalimi rakyat karena amanah kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat kelak. Maka wajarlah rakyat sangat mencintai dan menyayangi pemimpin mereka yang mengurusi rakyat dengan sepenuh hati. Wallahuaalam. 


Komentar