Hilangnya Naluri Manusia




Siti Rima Sarinah


#MutiaraAl-Qur'an — Allah Swt. menciptakan manusia yang memiliki potensi hidup berupa naluri dan kebutuhan jasmani. Potensi hidup ini harus dipenuhi sesuai standar aturan syariat yang telah Allah Swt. tentukan. Agar pemenuhan potensinya ini tidak keluar dari tujuan penciptaan manusia sebagai seorang hamba, yang menjadikan syariat Allah sebagai landasan dalam menjalani medan kehidupan. Begitu rinci dan detil aturan yang diberikan kepada manusia, agar manusia tidak terjerumus pada jalan kesesatan dan kegelapan.

Salah satu naluri yang ada dalam diri manusia adalah saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya. Sebab, Allah Swt. mengajarkan kepada umat muslim bukan hanya cinta dan sayang kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, melainkan juga senantiasa berkasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. Ta’awun (saling bekerja sama) dan saling membantu, tidak saling menyakiti dalam berinteraksi sesama manusia, sebagai wujud  keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. 

Allah Swt. berfirman, "Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Seandainya dia menuruti (kemauan)-mu dalam banyak hal pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Akan tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran.” (Surah Al-Hujurat: 70)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Rasulullah sebagai uswatun hasanah (teladan terbaik) bagi manusia senatiasa melakukan setiap amal perbuatan berdasarkan syariat dan wahyu dari Allah, bukan karena hawa nafsunya sebagai manusia. Sebab, tatkala manusia mengikuti hawa nafsunya maka ia akan menuai kesusahan dan malapetaka yang senantiasa menghampiri kehidupannya. Sehingga umat manusia harus membenci hal-hal yang melanggar aturan syariat, dan senantiasa fastabiqul khairat dalam melakukan amal kebaikan yang disukai oleh-Nya.

Tatkala hal ini menjadi pegangan hidup bagi umat manusia, maka kita tidak akan pernah menjumpai seseorang yang tega menyiksa, membunuh, menzalimi, dan mengambil hak orang lain. Karena akibat perbuatan tersebut banyak nyawa yang melayang tanpa hak, hilangnya naluri manusia, hilangnya rasa peka dan rasa kasihan kepada orang lain dan menutup mata dan telinga dari jeritan suara rakyat yang meminta haknya. 

Fakta ini tidak hanya dilakukan oleh seorang individu, tetapi juga banyak dilakukan oleh penguasa dan para pejabatnya. Bahkan saking mirisnya, menyiksa, membunuh, berbuat zalim, dan merampas hak rakyat seakan menjadi rutinitas tontonan kehidupan yang setiap hari dirasakan oleh rakyat. Suara keadilan seakan hilang sehingga walaupun dengan sekuat tenaga rakyat ingin mendapatkan keadilan, realitasnya keadilan menjadi sesuatu yang mustahil untuk didapatkan oleh rakyat. Hilangnya keadilan beriringan dengan ketiadaan sanksi yang menjadi pencegah bagi manusia untuk berbuat zalim kepada manusia lainnya. Apalagi apabila kezaliman ini dilakukan oleh seorang penguasa yang notabene juga seorang manusia yang memiliki naluri.

Kondisi menjadi sebuah kelaziman terjadi, karena kita hidup dalam sebuah sistem yang hanya mengedepankan hawa nafsu ketimbang aturan syariat dan konsekuensi atas perbuatan yang ia lakukan. Yang telah menjadikan uang dan kekuasaan menjadi raja yang melahirkan  banyak manusia-manusia dan para pejabat  melanggar fitrah nalurinya sebagai manusia yang wajib melindungi, menjaga, dan menolong manusia atau rakyatnya sendiri yang menjadi tanggung jawabnya.

Hal ini membuktikan sistem yang rusak dan batil seperti kapitalisme yang mencengkeram kehidupan kita saat ini, telah berhasil melahirkan manusia-manusia psikopat dan para pejabat yang rakus, tak pernah puas akan harta. Tanpa memerdulikan banyak rakyat yang kehilangan nyawa dan tertindas akibat perbuatan serta  keberadaan para penguasa dan pejabat yang kebal hukum dengan bebasnya melakukan apa saja demi menuruti hawa nafsunya. Mereka lupa bahwa apa yang telah mereka lakukan hari ini akan mendapatkan balasan setimpal kelak. Mungkin di pengadilan dunia mereka tak tersentuh hukum, tetapi tak ada satu pun bisa lepas dari pengadilan Allah. Dan mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih, buah atas kezaliman yang ia lakukan di dunia.

Sangat mustahil kita mengharapkan manusia-manusia yang baik dalam sistem yang batil buatan akal manusia yang lemah. Sebab, manusia yang baik dan taat terhadap aturan dan syariat Allah akan hadir hanya dari sebuah sistem yang maha baik. Sistem yang menjadikan aturan Allah sebagai satu-satunya landasan lahirnya  aturan dan berbagai kebijakan yang mengatur manusia di seluruh lini kehidupan. Manusia hanyalah pelaksana hukum bukan pembuat hukum, siapa pun yang melanggar hukum termasuk penguasa dan para pejabat serta rakyat wajib mendapatkan hukuman setimpal yang akan memberi efek jera baginya.

Alhasil, kondisi ini harus menyadarkan bagi umat muslim bahwa rusaknya sistem kehidupan saat ini karena hukum Allah diabaikan dan dicampakkan dalam kehidupan. Padahal Allah telah memberikan predikat umat terbaik (khairu ummah) kepada umat Islam, sehingga tidak selayaknya umat Islam menjadi umat yang tertindas dan dipimpin oleh penguasa yang zalim. Sudah seharusnya kita berjuang bersama mengembalikan umat Islam pada kehidupan sesungguhnya dengan syariat Islam kafah diterapkan di seluruh lini kehidupan dalam naungan Khilafah Islamiah. Agar terwujudkan kembali potret umat yang saling menyayangi dan menjaga serta negara sebagai pelindung dan perisai bagi rakyatnya. Wallahualam. 


  


Komentar