Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Allah Swt. menciptakan manusia dengan bentuk yang sangat sempurna dan membekalinya akal sebagai wasilah agar manusia menjalani medan kehidupan sesuai tujuan penciptaannya. Allah pun telah memberikan seperangkat aturan yang menjadi pegangan bagi manusia dalam menyelesaikan persoalan yang muncul dalam kehidupannya. Tatkala manusia berpegang teguh pada aturan dan syariat yang telah Allah berikan padanya, maka manusia akan selamat. Dan sebaliknya, jika manusia mengabaikan atau mencampakkan hukum syariat Allah maka manusia akan terjerumus dalam kesesatan yang nyata.
Dengan akal inilah, manusia berpikir dan mendapat petunjuk untuk bisa membedakan yang haq (kebenaran) dan yang batil, menurut pandangan Allah bukan pandangan manusia. Karena, jika manusia menuruti pandangan manusia akan mengubah antara yang haq menjadi batil dan sebaliknya yang batil menjadi yang haq (benar). Begitu pun juga bisa memutarbalikkan kejahatan menjadi kebaikan dan kebaikan menjadi kejahatan.
Dalam hal ini Allah Swt. berfirman yang artinya, ”Dan janganlah kamu campur-adukkan kebenaran dan kebatilan, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya." (Surah Al-Baqarah: 42)
Ayat di atas merupakan peringatan dari Allah Swt. kepada manusia untuk tidak mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan yang mereka sudah mengetahuinya. Sebab, manusia sudah diberikan akal dan Al-Qur’an sebagai standar untuk mencari petunjuk yang batil dan yang haq. Jika akalnya manusia tidak digunakan untuk berpikir mencari kebenaran dan menghilangkan kebatilan, maka akan mendapatkan penyesalan di akhirat kelak.
Hal senada telah disampaikan melalui hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw. bersabda, "Yang membinasakan umat sebelum kalian adalah jika yang mencuri orang terhormat mereka biarkan, tapi jika yang lemah mereka tegakkan hukum." Dalam hadis ini Rasulullah pun telah memberikan peringatan dan mengatakan binasalah manusia jika tidak menegakkan hukum yang benar sesuai tuntunan Al-Qur’an.
Kondisi kehidupan hari ini penuh dengan kegelapan akibat dari mencampuradukkan kebatilan dan kebenaran serta mengubah yang benar menjadi batil. Yang mengakibatkan beragam kejahatan dan penyimpangan tumbuh subur dan menjadi pemandangan keseharian manusia hari ini. Padahal di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan petunjuk bagi manusia untuk bisa membedakan yang benar dan yang batil dengan jelas dan tidak kabur. Namun sayangnya, sistem kehidupan buatan manusia yang bertahta hari ini mengubah semuanya demi memenuhi hawa nafsu mereka.
Apa yang Allah tetapkan sebagai penyimpangan dan pelanggaran serta melaknat orang-orang yang berperilaku menyimpang dianggap sebagai hal yang normal karena bagian dari hak asasi manusia yang telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk berperilaku sesuai yang mereka inginkan. Akibatnya, komunitas kaum pelangi makin eksis dan memperbesar komunitasnya dengan menjadikan generasi muslim sebagai sasarannya. Padahal, keberadaan kaum pelangi ini telah mendapatkan laknat dari Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an. Perilakunya adalah bahaya besar yang mengancam generasi dan eksistensi manusia serta menjadi perilaku yang lebih rendah dari hewan.
Di sisi lain, kita dihadapkan dengan berbagai kejahatan lainnya yang terjadi di seluruh lini kehidupan manusia. Penguasa dan para penjabat yang haus akan kekuasaan dan harta terus merampok harta rakyat dan menjadi bancakan bagi mereka. Sederetan kasus korupsi yang terus bermunculan dan mustahil akan sirna, dikarenakan perbuatan tersebut menjadi sebuah kelaziman dilakukan oleh para pejabat tatkala memiliki jabatan dan kekuasaan. Hukum peradilan pun seakan tak bergigi dan tak mampu memberikan sanksi kepada mereka. Bahkan ironisnya, hukum bisa dibeli dan para penegak hukum pun melakukan korupsi dan kejahatan yang serupa.
Sistem kapitalisme sekuler yang telah melahirkan orang-orang yang serakah dan tidak bisa membedakan bahkan mencampuradukkan yang haq dan batil. Terlebih lagi, dalam sistem ini tujuan manusia hidup di dunia hanya untuk orientasi harta dan kekuasaan yang menjadi definisi kebahagiaan bagi mereka. Maka wajarlah mereka menghalalkan segala cara dan bebas melakukan apa saja demi meraih “kebahagiaan semu” versi mereka.
Rusaknya sistem kehidupan di negeri yang mayoritas beragama Islam tidakkah membuat umat muslim sadar dan mulai berpikir bahwa tidak seharusnya kita hidup dalam aturan yang melahirkan berbagai macam kezaliman. Padahal umat muslim adalah umat yang mulia dan tak pantas hidup dalam aturan kehidupan yang bukan berasal dari Zat yang menciptakan dirinya dengan bentuk yang sangat sempurna. Dan umat muslim diberikan akal yang digunakan untuk berpikir dan menjadi petunjuk untuk mengubah kondisi sistem kehidupan yang penuh kebatilan menjadi sistem kehidupan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai standar perbuatan bagi manusia.
Hal inilah yang menjadi tugas dan amanah bagi seluruh umat muslim yang menyatakan sebagai orang-orang yang beriman dan bertakwa. Untuk bersinergi bersama agar dapat mengembalikan aturan Al-Qur’an dalam seluruh lini kehidupan untuk memberantas berbagai macam kebatilan, penyimpangan, dan kejahatan. Yang dapat mewujudkan hal ini apabila seluruh umat Islam kembali menjadikan Islam sebagai mafahim, maqayis, dan qonaat serta menjadikan dakwah amar makruf nahi mungkar menjadi bi’ah (kebiasaan) yang terpatri dalam jiwa setiap muslim. Untuk memberantas kebatilan dan kebenaran (Al-Haq) yang senantiasa mewarnai kehidupan umat muslim agar Allah rida dan memberikan keberkahan bagi umatnya dengan menjadikan syariat Islam kafah sebagai satu-satunya aturan yang ditegakkan di muka bumi ini. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar