Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Dalam diri manusia terdapat naluri eksistensi diri (gharizah baqa’) yang terwujud dalam bentuk ingin dikenal dan memiliki kekuasaan. Saat ini siapa yang tidak ingin memiliki kekuasaan dan bahkan banyak orang berlomba-lomba untuk meraih kekuasaan dengan menggunakan berbagai macam cara. Mereka beranggapan dengan kekuasaan bisa melakukan apa saja sesuai dengan apa yang diinginkan. Bebas membuat hukum, aturan dan kebijakan tanpa memperdulikan apa kebijakan tersebut membuat rakyat bahagia atau makin menderita.
Padahal sesungguhnya di balik kekuasaan tersimpan tanggung jawab besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Karena kekuasaan adalah amanah yang tidak boleh disalahgunakan dan hanya bisa diberikan kepada orang-orang yang mampu untuk menjalankan amanah sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat. Ketika amanah diberikan kepada orang yang zalim, maka akan menjadi sumber malapetaka bagi rakyat dan negeri ini.
Allah Swt. berfirman, ”Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat langit, bumi, dan gunung-gunung. Tetapi semuanya enggan untuk memikulnya dan merasa takut akan mengkhianatinya, lalu pikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (Surah Al-Ahzab: 72)
Ayat di atas menjelaskan tentang amanah. Semua perintah dan larangan Allah yang wajib dilaksanakan, termasuk di dalamnya amanah dan tanggung jawab seorang pemimpin dan para pejabat. Mereka wajib menunaikan jabatan yang diamanahkan kepadanya dengan pilihan untuk taat berjalan sesuai aturan-Nya atau memilih untuk melanggar aturan yang telah ditetapkan.
Begitu beratnya amanah kekuasaan yang membuat langit, bumi, dan gunung tak sanggup untuk memikulnya, tetapi manusia mau mengambil amanah dan menerima tantangan dari sebuah amanah. Manusia banyak yang lalai karena silau dengan gemerlapnya kekuasaan sehingga banyak dari mereka melakukan kezaliman dan kebodohan serta lupa bahwa apa yang mereka lakukan akan dihisab.
Kisah ketamakan akibat kekuasaan Fir’aun yang mengaku dirinya tuhan dan memaksa rakyatnya untuk taat pada aturan buatannya. Demi mempertahankan kekuasaannya anak laki-laki dibunuh dan rakyatnya ditindas. Yang pada akhirnya, Allah menghancurkannya dan melenyapkannya beserta hartanya ditenggelamkan ke dalam bumi. Kisah ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi para penguasa dan pejabat hari ini. Justru yang terjadi sebaliknya, kisah sejarah Fir’aun kini terulang kembali dengan hadirnya penguasa dan pejabat yang melakukan hal yang serupa dengan Fir’aun, bahkan lebih dan sangat zalim terhadap rakyat.
Dalam sabdanya Rasulullah saw. pun telah memberikan peringatan kepada penguasa dan para pejabat terkait amanah, ”Tidaklah seorang hamba yang Allah beri tanggung jawab memimpin rakyat, lalu dia amati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan surga baginya.” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim)
Menipu, membohongi rakyat dengan berbagai kebijakan, korupsi, hukum makin tajam ke rakyat dan makin tumpul ke penguasa dan para pejabat, serta masih banyak lagi kezaliman lainnya, merupakan potret nyata pengkhianatan penguasa dan antek-anteknya yang berkuasa hari ini. Tak henti-hentinya rakyat melakukan koreksi, muhasabah dan amar makruf nahi mungkar kepada mereka untuk mengingatkan tanggung jawab atas amanah kekuasaan yang berada dalam genggaman mereka. Tapi seakan mereka buta dan tuli, alih-alih sadar atas kezaliman yang mereka lakukan. Justru dengan tangan aparat mereka mendapatkan perlakuan yang sewenang-wenang hingga kerangkeng dalam jeruji besi untuk membungkam suara-suara rakyat yang dianggap mengusik kepentingan mereka.
Mungkin mereka lupa bahwa kekuasaan yang seharusnya dijalankan sesuai aturan yang telah ditetapkan Allah, akan menjadi malapetaka bagi mereka di kemudian hari. Mereka lupa bahwa rakyat telah menitipkan amanah untuk mengurus urusan rakyat dengan sepenuh hati agar rakyat sejahtera. Mereka pun lupa bahwa saat dilantik mereka telah bersumpah dengan Al-Qur’an untuk menjalankan amanah kekuasaan sesuai apa yang tercantum dalam Al-Qur’an. Namun, realitasnya mereka mencampakkan hukum Al-Qur’an dengan hukum buatan mereka yang mengakibatkan rakyat hidup miskin dan menderita, kekayaan alam diberikan kepada asing, rakyat terus dipalak dengan pajak hingga kesehatan, pendidikan dan hajat hidup rakyat lainnya makin sulit untuk dijangkau. Karena hajat hidup rakyat sudah diubah menjadi ajang bisnis hasil kolabrasi penguasa dan para pemilik modal demi meraup keuntungan yang sangat besar.
Tidak cukupkah, kondisi ini menyadarkan kaum muslim akan kerusakan yang ditimbulkan akibat kehadiran penguasa cetakan sistem kapitalisme yang hanya berorientasi pada kekuasaan dan harta semata. Sampai kapan kita terus bersabar dan berdiam diri melihat kesewenang-wenangan mereka dengan berbuat sesuka hati yang membuat kehidupan rakyat makin terpuruk? Sadarkah kita malapetaka kekuasaan akibat keberadaan penguasa zalim bukan hanya menimpa mereka, melainkan juga akan menimpa kita jika terus berdiam diri tanpa ada upaya untuk melakukan perubahan.
Kondisi ini harus segera diubah dan diganti serta mengajak seluruh umat muslim untuk kembali memahami dan menerapkan aturan Islam kafah dalam seluruh lini kehidupan. Dengan menjadi bagian dari perjuangan dakwah untuk mengopinikan Islam sebagai problem solving bagi kehidupan bukan hanya di negeri ini, melainkan seluruh dunia. Karena Islam tidak akan tegak tanpa penerapan syariat dalam kehidupan. Umat manusia pun akan hancur dan hanya Islam yang akan mampu menjadi perisai (junnah) dalam naungan Khilafah Islam. Hal inilah yang harus kita perjuangkan bersama dan menjadi solusi satu-satunya untuk mengembalikan cahaya Islam dengan hadirnya penguasa amanah yang mengurus rakyat dengan sepenuh hati. Wallahualam. Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Dalam diri manusia terdapat naluri eksistensi diri (gharizah baqa’) yang terwujud dalam bentuk ingin dikenal dan memiliki kekuasaan. Saat ini siapa yang tidak ingin memiliki kekuasaan dan bahkan banyak orang berlomba-lomba untuk meraih kekuasaan dengan menggunakan berbagai macam cara. Mereka beranggapan dengan kekuasaan bisa melakukan apa saja sesuai dengan apa yang diinginkan. Bebas membuat hukum, aturan dan kebijakan tanpa memperdulikan apa kebijakan tersebut membuat rakyat bahagia atau makin menderita.
Padahal sesungguhnya di balik kekuasaan tersimpan tanggung jawab besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Karena kekuasaan adalah amanah yang tidak boleh disalahgunakan dan hanya bisa diberikan kepada orang-orang yang mampu untuk menjalankan amanah sesuai ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat. Ketika amanah diberikan kepada orang yang zalim, maka akan menjadi sumber malapetaka bagi rakyat dan negeri ini.
Allah Swt. berfirman, ”Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat langit, bumi, dan gunung-gunung. Tetapi semuanya enggan untuk memikulnya dan merasa takut akan mengkhianatinya, lalu pikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (Surah Al-Ahzab: 72)
Ayat di atas menjelaskan tentang amanah. Semua perintah dan larangan Allah yang wajib dilaksanakan, termasuk di dalamnya amanah dan tanggung jawab seorang pemimpin dan para pejabat. Mereka wajib menunaikan jabatan yang diamanahkan kepadanya dengan pilihan untuk taat berjalan sesuai aturan-Nya atau memilih untuk melanggar aturan yang telah ditetapkan.
Begitu beratnya amanah kekuasaan yang membuat langit, bumi, dan gunung tak sanggup untuk memikulnya, tetapi manusia mau mengambil amanah dan menerima tantangan dari sebuah amanah. Manusia banyak yang lalai karena silau dengan gemerlapnya kekuasaan sehingga banyak dari mereka melakukan kezaliman dan kebodohan serta lupa bahwa apa yang mereka lakukan akan dihisab.
Kisah ketamakan akibat kekuasaan Fir’aun yang mengaku dirinya tuhan dan memaksa rakyatnya untuk taat pada aturan buatannya. Demi mempertahankan kekuasaannya anak laki-laki dibunuh dan rakyatnya ditindas. Yang pada akhirnya, Allah menghancurkannya dan melenyapkannya beserta hartanya ditenggelamkan ke dalam bumi. Kisah ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi para penguasa dan pejabat hari ini. Justru yang terjadi sebaliknya, kisah sejarah Fir’aun kini terulang kembali dengan hadirnya penguasa dan pejabat yang melakukan hal yang serupa dengan Fir’aun, bahkan lebih dan sangat zalim terhadap rakyat.
Dalam sabdanya Rasulullah saw. pun telah memberikan peringatan kepada penguasa dan para pejabat terkait amanah, ”Tidaklah seorang hamba yang Allah beri tanggung jawab memimpin rakyat, lalu dia amati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan surga baginya.” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim)
Menipu, membohongi rakyat dengan berbagai kebijakan, korupsi, hukum makin tajam ke rakyat dan makin tumpul ke penguasa dan para pejabat, serta masih banyak lagi kezaliman lainnya, merupakan potret nyata pengkhianatan penguasa dan antek-anteknya yang berkuasa hari ini. Tak henti-hentinya rakyat melakukan koreksi, muhasabah dan amar makruf nahi mungkar kepada mereka untuk mengingatkan tanggung jawab atas amanah kekuasaan yang berada dalam genggaman mereka. Tapi seakan mereka buta dan tuli, alih-alih sadar atas kezaliman yang mereka lakukan. Justru dengan tangan aparat mereka mendapatkan perlakuan yang sewenang-wenang hingga kerangkeng dalam jeruji besi untuk membungkam suara-suara rakyat yang dianggap mengusik kepentingan mereka.
Mungkin mereka lupa bahwa kekuasaan yang seharusnya dijalankan sesuai aturan yang telah ditetapkan Allah, akan menjadi malapetaka bagi mereka di kemudian hari. Mereka lupa bahwa rakyat telah menitipkan amanah untuk mengurus urusan rakyat dengan sepenuh hati agar rakyat sejahtera. Mereka pun lupa bahwa saat dilantik mereka telah bersumpah dengan Al-Qur’an untuk menjalankan amanah kekuasaan sesuai apa yang tercantum dalam Al-Qur’an. Namun, realitasnya mereka mencampakkan hukum Al-Qur’an dengan hukum buatan mereka yang mengakibatkan rakyat hidup miskin dan menderita, kekayaan alam diberikan kepada asing, rakyat terus dipalak dengan pajak hingga kesehatan, pendidikan dan hajat hidup rakyat lainnya makin sulit untuk dijangkau. Karena hajat hidup rakyat sudah diubah menjadi ajang bisnis hasil kolabrasi penguasa dan para pemilik modal demi meraup keuntungan yang sangat besar.
Tidak cukupkah, kondisi ini menyadarkan kaum muslim akan kerusakan yang ditimbulkan akibat kehadiran penguasa cetakan sistem kapitalisme yang hanya berorientasi pada kekuasaan dan harta semata. Sampai kapan kita terus bersabar dan berdiam diri melihat kesewenang-wenangan mereka dengan berbuat sesuka hati yang membuat kehidupan rakyat makin terpuruk? Sadarkah kita malapetaka kekuasaan akibat keberadaan penguasa zalim bukan hanya menimpa mereka, melainkan juga akan menimpa kita jika terus berdiam diri tanpa ada upaya untuk melakukan perubahan.
Kondisi ini harus segera diubah dan diganti serta mengajak seluruh umat muslim untuk kembali memahami dan menerapkan aturan Islam kafah dalam seluruh lini kehidupan. Dengan menjadi bagian dari perjuangan dakwah untuk mengopinikan Islam sebagai problem solving bagi kehidupan bukan hanya di negeri ini, melainkan seluruh dunia. Karena Islam tidak akan tegak tanpa penerapan syariat dalam kehidupan. Umat manusia pun akan hancur dan hanya Islam yang akan mampu menjadi perisai (junnah) dalam naungan Khilafah Islam. Hal inilah yang harus kita perjuangkan bersama dan menjadi solusi satu-satunya untuk mengembalikan cahaya Islam dengan hadirnya penguasa amanah yang mengurus rakyat dengan sepenuh hati. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar