Membedah Arah Perubahan: dari Sekadar Aksi Menuju Sistem Islam yang Hakiki





#Reportase — Ruang agenda Sharinqu dipadati oleh mahasiswa dan aktivis muda dari berbagai organisasi kepemudaan di Jakarta pada Sabtu, 11 Juli 2026. Mengangkat tema yang sangat relevan dengan dinamika kepemudaan hari ini, “Call For More! Melampaui Perubahan Sesaat, Menuju Perubahan yang Hakiki”, forum ini berhasil menghadirkan ruang diskusi yang hidup, reflektif, dan memicu pemikiran kritis sejak awal acara dimulai.

Untuk mengupas tuntas tema besar tersebut, Sharinqu menghadirkan tiga narasumber dengan sudut pandang yang saling melengkapi dan berkesinambungan. Diskusi berjalan mengalir, menyelaraskan keresahan sosial anak muda hari ini menuju solusi mendasar yang berakar pada pandangan hidup Islam.


Realitas Kepedulian Pemuda di Tengah Banyak Tekanan

Diskusi dibuka oleh Kak Annisa, seorang aktivis kepemudaan, lewat materi "Realitas Kepedulian dan Aksi". Ia memotret kehidupan hari ini yang bergerak cepat dan penuh tekanan mulai dari banjir, demonstrasi, lonjakan harga BBM, hingga jebakan scrolling media sosial (FOMO). Ia menggarisbawahi tiga tekanan utama anak muda saat ini. 

Pertama, sektor ekonomi: ketidakpastian kecukupan pendapatan bulanan yang kian menghimpit. Kedua, sektor lapangan kerja: sulitnya mencari pekerjaan yang memicu tingginya angka pengangguran intelektual. Ketiga, sektor sosial: renggangnya hubungan nyata akibat ketergantungan gawai dan standar hidup semu media sosial.

Meskipun berada di bawah tekanan, solidaritas anak muda tetap tinggi melalui gerakan donasi, relawan banjir Sumatra, peran influencer, hingga pembelaan terhadap Palestina. Kak Annisa mencontohkan pengalamannya di Remila organisasi yang berdiri lebih dari 45 tahun sebagai bukti nyata kepedulian pemuda. Namun, ia memberikan catatan kritis yang menohok nalar peserta, "Peduli saja tidak cukup. Kita mudah bergerak, tapi gampang berhenti. Gampang berdonasi hari ini, besok sudah lupa. Apakah perubahan kita sudah menyentuh akar persoalan, atau hanya sekadar memadamkan api sesaat tanpa menyentuh sumber utamanya?" 


Menemukan Arah Perubahan dan Makna Hijrah yang Hakiki

Pertanyaan tersebut dijawab pemateri kedua, Kak Faiza, seorang pejuang literasi dan penulis. Lewat tema "Kepedulian Saja Belum Cukup Menghasilkan Perubahan", ia memvalidasi aksi kemanusiaan dan protes mahasiswa terkait mahalnya UKT. Namun, ia mempertanyakan mengapa kepedulian besar itu belum mewujudkan perubahan berarti di tengah masyarakat.

Menurut Kak Faiza, letak masalahnya ada pada arah perubahan yang belum jelas. Untuk mencapai perubahan hakiki, kita harus berani menelaah akar masalah, bukan sekadar memotong dahan dampaknya. Ia menegaskan bahwa definisi perubahan sejati dalam Islam adalah hijrah dari meninggalkan larangan Allah Swt. menuju kebenaran.

Kak Faizah menekankan kepada peserta, "Ketika memilih berubah dan berhijrah, kita harus siap menghadapi bentrokan dan hantaman realitas. Bangunan perubahan yang kokoh hanya berdiri di atas fondasi takwa. Perubahan ideal itu bersifat sistemik dan mengakar, yaitu dengan kembali secara total kepada aturan Allah dan Rasul-Nya," urai Kak Faiza.


Beyond Good Intentions: Mewujudkan Perubahan Lewat Sistem Islam

Gagasan tentang perubahan sistemik ini kemudian dikupas secara tajam dan tuntas oleh narasumber terakhir, Kak Desi dari BMIC Jakarta, melalui materi bertema "Beyond Good Intentions". Kak Desi melengkapi kedua pemateri sebelumnya dengan menegaskan bahwa berpikir lebih jauh dari sekadar berbuat baik (beyond good intentions) adalah sebuah keharusan bagi Gen-Z yang gemar bersuara.

Kak Desi mengkritik kecenderungan masyarakat saat ini yang hanya sibuk mengobati gejala, bukan menyembuhkan penyakitnya. Berbagai seminar lingkungan diadakan dan film dokumenter kritis (seperti Pesta Babi atau Rayuan Pulau Palsu) diproduksi, tetapi problem yang sama terus berulang. Begitu pula dalam kasus korupsi masif yang melibatkan komoditas emas puluhan kilogram serta menyeret berbagai lembaga penegak hukum. Hebohnya kasus ini bahkan mengalahkan film-film trailer lainnya, tapi penyelesaiannya tetap jalan di tempat.

Akar masalah dari semua kekacauan ini, menurut Kak Desi, adalah tidak diterapkannya hukum yang benar yang mampu mendesain perilaku manusia secara sistemik. Kerusakan yang terjadi saat ini bersifat tersistem karena adanya sekularisasi pemisahan agama dari kehidupan, yakni aturan dunia diserahkan kepada buatan manusia melalui sistem demokrasi kapitalisme.

"Kita sering mengakui Islam itu baik, tetapi enggan menjadikannya sebagai standar aturan kehidupan. Padahal, Islam tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi Islamlah yang mendefinisikan apa itu kebaikan. Perubahan tidak bisa hanya mengandalkan niat baik semata. Mengandalkan niat baik tanpa mengubah sistem adalah sebuah keegoisan yang semu," tegas Kak Desi.

Mengambil pelajaran dari sirah Rasulullah saw., Kak Desi memaparkan bahwa Rasulullah tidak pernah hanya mengandalkan niat, melainkan melakukan perubahan sistemik. Sebuah tatanan di mana seseorang dapat melakukan kebaikan dengan ringan, sementara ruang untuk melakukan kejahatan dipersempit secara sistemis.

Sebagai penutup yang menggetarkan ruang diskusi, Kak Desi mengingatkan peserta yang hadir bahwa pemuda diberikan fisik yang sehat, waktu luang, dan kesempatan oleh Allah Swt. untuk memotori perubahan ini. Perubahan tersebut harus diarahkan untuk kembali kepada Islam secara menyeluruh bukan sebatas spiritualitas individu, melainkan sebagai sebuah sistem yang mengatur seluruh lini kehidupan manusia. Anak muda harus keluar dari jebakan menjadi "pahlawan" di dalam sistem yang rusak, dan mulai bergerak bersama untuk mengganti sistem tersebut dengan aturan-Nya.


Komentar