#Reportase — "Kalau kita bertemu orang yang sangat baik, biasanya kita bertanya, siapa gurunya?" Pertanyaan itu menjadi pembuka menarik yang disampaikan Ustaz Abu Rayhan dalam agenda Maulid bertajuk "Meneladani Nabi saw.: Mengemban Risalah Ilahi" di sebuah Masjid Raya di Jakarta Timur pada Ahad, 30 Agustus 2026.
Di hadapan ratusan peserta yang memenuhi ruangan, beliau mengajak hadirin merenungkan sosok Rasulullah saw. sebagai manusia terbaik yang pernah hidup di muka bumi. Berbagai sifat mulia yang tersebar pada manusia—dermawan, penyayang, adil, santun, dan bijaksana—seolah terkumpul sempurna dalam diri Nabi Muhammad saw.
Menurut beliau, kecintaan kepada Rasulullah seharusnya tumbuh ketika seorang muslim memahami keagungan pribadi beliau. Apalagi, sosok Nabi dibimbing langsung oleh Allah Swt. melalui wahyu-Nya. Al-Qur'an bukan hanya kitab yang beliau sampaikan kepada umat, melainkan juga pedoman yang membentuk seluruh kepribadian dan aktivitas beliau. Namun, Ustaz Abu Rayhan mengingatkan bahwa cinta kepada Nabi tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap akhlak beliau semata. Rasulullah saw. adalah pengemban risalah yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mendakwahkan Islam kepada manusia.
Mengutip makna perkataan Al-Qadhi 'Iyadh, beliau menjelaskan bahwa tanda cinta yang benar kepada Rasulullah adalah mengikuti jalan beliau serta menampakkan kecintaan tersebut melalui ketaatan. Karena itu, ittiba' kepada Rasulullah tidak cukup diwujudkan melalui ibadah personal atau akhlak individu semata. Mengikuti Nabi berarti juga meneladani kesungguhan beliau dalam mengemban dakwah dan menyampaikan Islam kepada masyarakat.
"Kalau benar mencintai Nabi, maka ikutilah perjuangan beliau," demikian pesan yang terus ditekankan sepanjang sesi. Sebab cinta yang sejati tidak berhenti pada pujian semata, tetapi juga akan melahirkan pengorbanan dan kesediaan untuk berjalan di jalan yang sama dengan orang yang dicintainya.[Hana]

Komentar
Posting Komentar