Dakwah Mengubah Peran Biasa Menjadi Luar Biasa





#Reportase — K.H. Syaifuddin Zuhri dalam sesi materinya pada agenda Maulid "Meneladani Nabi saw.: Mengemban Risalah Ilahi", yang terselenggara di satu kawasan Masjid Raya Jakarta Timur pada Ahad (30/08/2026) lalu, mengajak ratusan undangan yang hadir menelusuri kembali kisah hijrah Rasulullah saw. yang sarat dengan pelajaran tentang amanah, pengorbanan, dan kontribusi dalam dakwah.

Beliau membuka materinya dengan mengisahkan keberanian Ali bin Abi Thalib r.a. yang bersedia menggantikan posisi Rasulullah saw. di tempat tidur beliau pada malam hijrah. Sebuah tugas yang mempertaruhkan nyawa, tetapi dijalankan dengan penuh ketaatan dan keyakinan. Dikisahkan juga Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. yang menemani Rasulullah saw. dalam perjalanan hijrah juga menjadi bukti bahwa dakwah selalu membutuhkan pengorbanan.

Namun yang menarik, K.H. Syaifuddin justru mengajak peserta memperhatikan tokoh-tokoh yang sering kali luput dari perhatian. Beliau mencontohkan Asma binti Abu Bakar r.a. yang bertugas menyiapkan dan mengantarkan logistik bagi Rasulullah saw. dan Abu Bakar selama berada di Gua Tsur. Amanah tersebut tampak sederhana, tetapi memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan dakwah.

Demikian pula Amir bin Fuhairah r.a., mantan budak yang bertugas menghapus jejak perjalanan dengan hewan gembalaannya menuju Gua Tsur sekaligus membantu memenuhi kebutuhan selama persembunyian. Meski bukan panglima perang atau tokoh besar yang tampil di garis depan, kontribusinya tetap dicatat oleh sejarah Islam.

Menurut beliau, inilah salah satu pelajaran penting dari dakwah. Tidak ada amal yang kecil jika dilakukan untuk menolong agama Allah. Dalam dakwah, seseorang tidak harus selalu tampil sebagai tokoh utama. Menyiapkan konsumsi, mengatur logistik, menjaga keamanan, menyebarkan informasi, hingga membantu pekerjaan teknis sekalipun dapat bernilai besar ketika diniatkan untuk perjuangan Islam.  K.H. Syaifuddin menegaskan bahwa seseorang bisa menjadi besar karena keturunan. Namun ada jalan yang jauh lebih mulia, yaitu menjadi besar karena Islam dan dakwah.

Menutup materinya, beliau mengajak seluruh peserta untuk tetap istikamah berada di jalan dakwah. Sebab jalan inilah yang ditempuh Rasulullah saw., para sahabat, dan generasi terbaik umat Islam. Mengemban risalah Islam kepada manusia bukan hanya sebuah aktivitas, tetapi juga bentuk nyata cinta dan ittiba' kepada Nabi Muhammad saw.[Hana]

Komentar