#Reportase — Momentum Maulid Nabi Muhammad saw. semestinya tidak berhenti pada peringatan seremonial, tetapi menjadi energi untuk menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan. Tsaqafah Islam yang begitu luas tidak cukup hanya tersimpan dalam tumpukan kitab, tetapi harus dipahami, diamalkan, dan diwujudkan dalam kehidupan umat.
Berangkat dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat sekaligus kebutuhan untuk memahami metode Rasulullah saw. dalam melakukan perubahan, Komunitas Muslimah Inspiratif menyelenggarakan FGD #1 bertema “Perubahan ala Kanjeng Nabi Muhammad saw.” pada Sabtu, 22 Agustus 2026 di Bekasi. Diskusi dipandu oleh Ustazah Kristiati Supardi, S.E., M.I.Kom.
Forum ini diarahkan untuk menggali akar berbagai problematika umat sekaligus memahami bentuk perubahan yang mampu melahirkan kebangkitan hakiki. Diskusi berlangsung dalam tiga segmen utama, yaitu Problematika Umat dan Akar Masalahnya: Ragam Upaya Perubahan, serta Hijrah Nabi Muhammad saw.; dilanjutkan dengan paparan khusus mengenai metode perubahan masyarakat berdasarkan sirah Rasulullah saw.
Memasuki segmen pertama, moderator mengangkat sejumlah persoalan yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari beban utang negara yang disebut mencapai Rp10.293 triliun, penyimpangan dan kampanye LGBT, kebakaran hutan di Kalimantan, hingga berbagai persoalan sosial lainnya. Para peserta kemudian diminta melihat lebih jauh: apakah berbagai persoalan tersebut semata-mata disebabkan oleh kesalahan individu atau pemimpin, ataukah terdapat akar masalah yang lebih mendasar?
Ibu Insi Diana, A.Md.Kep., seorang ibu rumah tangga menyoroti beratnya beban kehidupan keluarga saat ini. Menurutnya, para istri dituntut makin pandai mengatur nafkah keluarga di tengah meningkatnya biaya hidup, pendidikan, kesehatan, dan pajak. Ia menilai persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh kesalahan pemimpin, tetapi berkaitan dengan sistem yang diterapkan. Karena itu, menurutnya, ketakwaan penduduk negeri perlu dibangun agar kehidupan tidak lagi terasa sempit. Momentum Maulid Nabi pun harus menjadi sarana untuk meneladani Rasulullah saw. dalam seluruh aspek kehidupan agar tercipta kehidupan yang penuh keberkahan.
Dari perspektif pendidikan, Ibu Dedeh Kurniati, S.Pd., menilai lemahnya iman menjadi salah satu akar persoalan. Perbaikan harus dimulai dari keluarga melalui penguatan keimanan dan pembiasaan yang baik pada anak. Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan keteladanan sehingga anak memahami bagaimana menjalani kehidupan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah.
Hal senada disampaikan Ibu Tri Widi Hastuti, S.ST., ASN sekaligus paramedik veteriner. Menurutnya, keimanan yang naik turun serta derasnya pengaruh teknologi digital menjadi tantangan tersendiri bagi generasi saat ini. Ia juga menyoroti adanya perang pemikiran yang memengaruhi masyarakat. Berdasarkan pengalamannya sebagai ASN, ia melihat adanya jarak antara sistem kehidupan saat ini dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw. Karena itu, perubahan harus dimulai dengan memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat melalui proses belajar Islam, mengamalkannya, kemudian menyampaikannya kepada orang lain.
Sementara itu, Ibu Dewi Arianti Ekasari, S.Psi., seorang psikolog, menyoroti rapuhnya institusi keluarga sebagai salah satu faktor utama munculnya berbagai persoalan psikologis. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan anak mengalami krisis mental yang ditandai dengan tekanan psikologis dan emosional, perubahan perilaku, kecemasan ekstrem, krisis identitas, hingga gangguan kognitif. Dalam kondisi lebih jauh, seseorang dapat menarik diri dari lingkungan, menjadi egois, serta mengalami krisis integritas.
Ibu Hj. Ana Farida, konselor pendidikan, mengingatkan pentingnya mempersiapkan anak menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, orang tua perlu mendidik anak sesuai dengan tantangan kehidupan yang akan mereka hadapi di masa depan. Ia juga menyoroti maraknya kampanye LGBT yang menurutnya perlu diwaspadai karena propaganda tersebut dapat menyasar generasi muda melalui media sosial. Ia berpandangan bahwa kerusakan akidah individu dan masyarakat merupakan salah satu akar berbagai persoalan yang harus mendapatkan perhatian serius.
Berbagai pandangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan umat tidak cukup dilihat dari gejala yang tampak di permukaan. Persoalan ekonomi, sosial, pendidikan, keluarga, maupun moral memiliki keterkaitan dengan kondisi pemikiran dan nilai yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, perubahan membutuhkan upaya yang lebih mendasar dan menyeluruh.
Pada segmen kedua, diskusi beralih pada berbagai upaya perubahan yang selama ini telah dilakukan umat Islam. Moderator mengangkat sejumlah pendekatan, mulai dari pembaruan pemikiran, pendidikan integratif yang memadukan sains dan agama, reformasi hukum dan sistem politik, hingga pemberdayaan sosial melalui gerakan zakat dan wakaf.
Ibu Khadijah Ayrrizha Vebee, anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Pusat periode 2021–2025 sekaligus aktivis Gerakan Cinta Quran Cinta Keluarga, menyoroti besarnya potensi umat Islam dalam membangun amal sosial dan jaringan dakwah. Ia menyebut santri sebagai salah satu perisai umat Islam yang memiliki tradisi membaca dan berdiskusi. Bersama Gerakan Cinta Quran Cinta Keluarga, ia mengampanyekan Gerakan 7M, yaitu membaca, mengerti, memahami, meyakini, mengamalkan, mensyiarkan, dan melestarikan Al-Qur’an. Menurutnya, pembentukan karakter dan moral membutuhkan dukungan berbagai pemangku kepentingan agar potensi besar umat dapat dikembangkan secara optimal.
Dari perspektif kesehatan mental, Dr. dr. Ine Martanti, S.Sos., M.Pd., menilai ketahanan atau resiliensi individu saat ini semakin perlu diperkuat. Menurutnya, lemahnya resiliensi dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami gangguan kejiwaan, bahkan menghadapi kondisi ekstrem seperti keinginan bunuh diri atau melakukan kekerasan terhadap orang lain. Ia menilai perhatian terhadap kesehatan mental perlu diperkuat karena selama ini penanganan kesehatan lebih banyak diarahkan pada berbagai penyakit fisik yang mematikan, seperti kanker dan diabetes.
Ibu Sri Widyastuti, pensiunan pegawai swasta, berpandangan bahwa berbagai upaya perubahan sebenarnya telah banyak dilakukan. Namun, menurutnya, pemahaman terhadap visi dan misi di kalangan kader organisasi masih perlu diperkuat. Aktivitas perjuangan yang dilakukan juga harus senantiasa dikaji agar tidak bertentangan dengan akidah Islam. Ia menekankan pentingnya umat terus bergerak dalam melakukan perubahan dengan tetap menjaga keyakinan terhadap tujuan perjuangan.
Sementara itu, Ibu Eni Masnuni Rahman, S.Pd., praktisi pendidikan, membagikan pengalamannya mengikuti berbagai dauroh. Dari proses tersebut, ia semakin memahami bahwa berbagai persoalan manusia dapat diselesaikan apabila Islam diterapkan secara kafah.
Pandangan kritis terhadap perubahan parsial disampaikan Ibu Astriani Lydia, pemerhati pendidikan. Menurutnya, perubahan yang dilakukan terkadang hanya menyentuh permukaan. Ia mencontohkan perubahan kebanggaan orang tua dari sekadar mengejar prestasi akademik menuju kebiasaan menghafal Al-Qur’an. Hal tersebut tentu merupakan sesuatu yang baik, tetapi menurutnya perubahan tersebut belum cukup. Perubahan harus dilakukan secara menyeluruh dan revolusioner dengan menemukan sumber masalah kemudian mengobatinya hingga ke akar.
Segmen ketiga kemudian mengajak peserta menelaah kembali perjalanan hijrah dan perjuangan Rasulullah saw. Moderator menjelaskan bahwa Rasulullah saw. menghadapi masyarakat non-Islam dengan berbagai persoalan dalam kehidupan, kemudian melakukan perubahan melalui dakwah, tarbiyah, dan pembinaan di tengah-tengah umat. Proses tersebut mengubah mafahim, maqayis, dan qanaat masyarakat sehingga pemikiran, perasaan, serta standar kehidupan mereka semakin diarahkan kepada Islam.
Ibu Inayah Rahmatillah, praktisi pendidikan, menekankan pentingnya mengenalkan proses hijrah Nabi saw. kepada anak-anak agar mereka memiliki teladan dalam menjalani kehidupan. Tidak hanya perjalanan dakwah Rasulullah, tetapi juga akhlak beliau terhadap keluarga, sahabat, dan kerabat perlu diceritakan sehingga anak-anak memiliki gambaran konkret mengenai kepribadian mulia yang dapat mereka teladani.
Ibu Bety, ibu rumah tangga sekaligus pendidik, menyoroti proses dakwah Rasulullah saw. hingga memperoleh baiat dari para pemuka penduduk Yatsrib. Menurutnya, peristiwa tersebut menunjukkan adanya kesiapan masyarakat untuk tunduk kepada syariat Islam sekaligus memberikan perlindungan kepada Rasulullah saw. sebagai pemimpin. Setelah itu, masyarakat dibina dengan Islam hingga terbentuk masyarakat dan negara yang kuat.
Ibu Niaty Shiddiq, Ketua MT Al-Hanif, Narogong, Bekasi, mengingatkan bahwa Muhammad saw. telah dikenal sebagai sosok al-Amin sebelum diangkat menjadi Nabi. Namun, ketika beliau mulai menyampaikan dakwah Islam dan mengkritik berbagai kebiasaan buruk masyarakat Quraisy, penentangan terhadap beliau makin keras. Menurutnya, umat perlu memahami syariat Allah Swt. sebagai aturan yang mengatur kehidupan. Kesyirikan harus dihapuskan dan keimanan tidak boleh dijalankan secara setengah-setengah. Al-Qur’an pun tidak boleh berhenti sebagai hafalan, tetapi harus menjadi pedoman kehidupan.
Sementara itu, Ibu Yusi Zusmiyati, Ketua YSSI, menekankan bahwa perubahan menuju peradaban Islam membutuhkan perencanaan dan strategi yang matang. Kesuksesan tidak lahir dari sikap pasrah terhadap keadaan, tetapi membutuhkan persiapan dan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Karena itu, umat didorong untuk berani keluar dari zona nyaman, terus berusaha, bertawakal kepada Allah Swt., serta meyakini pertolongan-Nya.
Sebagai penguatan terhadap rangkaian diskusi, Ustadzah Nining Salimah, S.TP., menyampaikan paparan mengenai metode perubahan masyarakat berdasarkan sirah Rasulullah saw. Mengutip pemikiran Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, beliau menjelaskan bahwa perubahan masyarakat membutuhkan perubahan pemikiran dan adanya jamaah dakwah yang mengarahkan sekaligus menggerakkan proses perubahan tersebut.
Menurutnya, umat perlu mendiagnosis krisis secara tepat dengan membedakan antara gejala yang tampak di permukaan—seperti kemiskinan, kriminalitas, penjajahan, dan ketimpangan sosial—dengan akar persoalan yang dipandang lebih mendasar, yaitu tidak diterapkannya syariat Islam dalam bingkai Khilafah. Masyarakat, menurut beliau, bukan sekadar kumpulan individu, melainkan sebuah entitas yang memiliki pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama. Karena itu, perubahan tidak cukup hanya menyentuh reformasi pada tataran individu, tetapi juga harus menyentuh ketiga komponen tersebut dengan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunah.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa perubahan masyarakat membutuhkan amal jama’i umat, perjuangan politik, serta pembinaan ideologi Islam di tengah masyarakat. Berdasarkan sirah Nabi Muhammad saw., proses perubahan tersebut dapat ditelusuri melalui tiga fase atau marhalah. Pertama, fase pembinaan atau tasqif, yaitu membentuk individu dengan pemikiran dan kepribadian Islam. Kedua, fase berinteraksi dengan masyarakat atau tafa’ul ma’al ummah, yakni menyampaikan pemikiran Islam dan membangun kesadaran umat. Ketiga, fase penyerahan kekuasaan atau istilamul hukmi, yang menjadi bagian dari proses penerapan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pada akhirnya, FGD #1 menegaskan bahwa momentum Maulid Nabi Muhammad saw. perlu dimaknai sebagai dorongan untuk melakukan perubahan yang tidak berhenti pada tataran individu atau seremonial semata. Keteladanan Rasulullah saw. dalam membina individu, berinteraksi dengan umat, serta membangun masyarakat menjadi pelajaran penting dalam memahami bagaimana perubahan dilakukan secara terarah dan menyeluruh. Dengan menjadikan Al-Qur’an dan Sunah sebagai landasan, peserta diajak untuk tidak hanya memahami Islam sebagai ilmu, tetapi juga menghidupkannya dalam pemikiran, perasaan, dan kehidupan. Inilah spirit perubahan yang diharapkan dapat menghadirkan kembali Islam sebagai rahmat bagi seluruh kehidupan dan menjadi jalan menuju kebangkitan umat.[Evi Widianti]

Komentar
Posting Komentar