Vinsi Pamungkas
#Remaja — Nama Kabupaten Sidoarjo tiba-tiba viral di jagat Indonesia. Gegara Delta Crisis Center (DCC) mengungkap bencana besar yang melanda remaja Sidoarjo. DCC mencatat ada 522 anak dan pelajar di Kabupaten Sidoarjo hidup dengan HIV per data hingga 1 Juli 2026. Angka ini mencakup 13 anak PAUD/TK, 44 siswa SD hingga SMP, serta 465 pelajar SMA hingga mahasiswa. Parah gak tuh?
Data ini buru-buru dibantah oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo. Katanya, data dari DCC ini adalah akumulasi data dari 2001–2026, bukan data lonjakan tiba-tiba. FYI, DCC itu merupakan Yayasan atau Lembaga Swadaya Masyarakat di Sidoarjo yang aktif melakukan pendampingan, pencatatan, serta edukasi pencegahan terhadap kasus HIV/AIDS sejak berdiri pada 2008. Yang jelas, pakai data siapa pun, sumbernya dari mana saja, kesimpulannya tetap sama, jumlah remaja yang menderita HIV/AIDS tidaklah sedikit.
Menurut Ferry Efendi, Direktur Program Yayasan DCC, penularan HIV pada kelompok usia tersebut terjadi melalui beberapa jalur. Di antaranya, dari penularan ibu ke anak saat kehamilan, persalinan, atau menyusui, penggunaan jarum suntik pada penyalahgunaan narkoba, hingga hubungan seksual berisiko.
Untuk urusan solusi, Dinkes dan DCC kompak ikut Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikampanyekan lewat WHO (World Health Organization) dan UNICEF (United Nations Children's Fund) pake rumus ABCDE. A untuk abstinence, yaitu nahan diri nggak melakukan hubungan seksual di luar nikah. B untuk be faithfull, yaitu setia sama satu pasangan seksual. C untuk condom, yaitu pake alat kontrasepsi kondom saat berhubungan seksual. D untuk Drug No, yaitu nolak pake narkoboy, terutama narkoboy suntik yang bisa nularin virus HIV lewat jarum suntik yang dipake bergantian. E untuk education, yaitu ngasih edukasi tentang cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS.
Solusi ini awalnya cuma ABC, lalu berkembang jadi ABCDE. Dicetuskan pertama kali pada tahun 1980-an dan terus dikampanyekan hingga hari ini. Tapi udah hampir 50 tahun, racikan dari PBB ini gak pernah ada hasil. Kalean silahkan googling, gak ada satu negara pun yang bebas dari HIV/AIDS setelah menerapkan rumus ini. Yang ada, tiap tahun malah tambah banyak aja.
Wajar sih kalau rumus ini gak bisa memecahkan masalah HIV/AIDS yang merajalela karena sistem kapitalisme sekuler yang dipake hampir seluruh negara di dunia, ngasih kebebasan tanpa batas, tanpa sanksi. Negara ngebebasin masyarakat berhubungan seksual dengan siapa pun dan sebanyak apapun. Negara juga ngebolehin masyarakat selingkuh atau nikah dengan banyak pasangan. Negara juga gak peduli kalau kamu konsumsi narkoboy sampe gak bangun lagi. Negara baru melek kalau ada laporan, kalau ada yang merasa dirugikan. Kalau tetangga kamu cuek aja, gak peduli, negara aman aja walaupun perzinaan di depan mata, kasus LGBTQ membludak. Aman udah aman, kan negara sendiri yang ngebebasin.
Dari sini udah paham kan? Kalau biang kerok dari meledaknya kasus HIV/AIDS adalah kebebasan bertingkahlaku yang dijamin sama negara. Kalau ini dibiarkan, yang kena HIV/AIDS bukan cuma om-om gatel yang doyan ‘jajan’ atau artes yang langganan narkoboy. Tapi bisa kena ke istri yang setia nunggu suaminya di rumah, ke bayi yang gak berdosa, dan mereka yang sama sekali gak pernah kenal maksiat.
Satu-satunya cara memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS ini adalah dengan menerapkan Islam secara kafah, gak pake nanggung. Islam punya rumus jitu yang bisa ngalahin rumus ABCDE yang udah terbukti tumpul. Rumus ini udah terbukti kehebatannya sejak masa Rasulullah saw. Yuk kita bedah satu-satu.
Rumus pertama, benerin dulu individunya. Benteng pertama yang bisa mencegah kemaksiatan adalah keimanan. Iman yang kuat bisa nolak ajakan untuk berperilaku bejat. Iman yang kuat lahir dari proses berpikir. Berpikir tentang dari mana asal dia, ngapain dia di dunia, sampe mau apa kalau udah meninggal. Islam punya jawaban memuaskan buat pertanyaan-pertanyaan ini. Kalau kamu pake jawaban dari Islam, dijamin dah iman kamu gak akan kalah dari para sahabat.
Tapi, iman aja gak cukup. Iman bisa goyah juga kalau godaannya besar. Maka butuh rumus yang kedua, yaitu masyarakat yang saling peduli. Masyarakat gak cuek waktu liat ada yang menyimpang, mereka langsung berupaya ngingetin, benerin. Pastinya dibenerin sesuai standar Islam. Ada laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan, buru-buru dipisahin. Ada yang gak nutup aurat, ditegur dan diberikan pakaian yang bisa menutupi auratnya. Yang ditegur gak boleh baper ya.. justru berterimakasih karena dijaga biar gak nambah dosa.
Kalau udah ditegur masyarakat masih ada yang ngeyel juga, maka memang yang paling efektif adalah rumus yang ketiga, yaitu penerapan syariat Islam oleh negara. Karena cuma negara yang punya power buat ngasih sanksi ke orang-orang yang keukeuh melakukan maksiat. Cuma negara yang bisa menerapkan hukuman cambuk 100 kali bagi pelaku zina ghairu muhshan (belum pernah menikah) sesuai Surah An-Nur: 2. Negara juga yang berhak menghukum pengguna narkoboy baik ada laporan kerugian dari orang lain maupun tidak. Negara yang menerapkan syariat Islam kafah ini bernama Khilafah.
Jelas banget ya, kalau peran negara dominan banget buat menyelesaikan masalah HIV/AIDS ini. So, kalau kita peduli dan memang harus peduli. Yuk kita berjuang sama-sama biar sistem Islam tegak kembali dan bisa menerapkan Islam secara menyeluruh di seluruh lini kehidupan.

Komentar
Posting Komentar