Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Bulan Rabiul Awal atau dikenal sebagai bulan Maulid menjadi salah satu momen penting bagi seluruh umat Islam di dunia. Momen lahirnya manusia mulia dan terbaik di muka bumi dengan membawa amanah risalah dakwah Islam untuk disebarkan di seluruh penjuru bumi. Ia adalah Rasulullah Muhammad saw., yang diutus Allah ke muka bumi sebagai Nabi dan Rasul terakhir dengan membawa Islam yang akan menjadi satu-satunya hukum syariat yang wajib diterapkan di muka bumi ini dan mampu menjadi problem solving bagi seluruh kehidupan umat manusia.
Allah Swt. berfirman yang artinya, ”Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) Hari Akhir serta banyak mengingat Allah.” (Surah Al-Ahzab: 21)
Ayat di atas merupakan pondasi keimanan menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi manusia. Sebab, apa yang terdapat dalam diri Rasulullah, baik perkataan, perbuatan, dan diamnya Rasulullah adalah bagian dari syariat Allah yang wajib diikuti oleh seluruh umat Islam. Bukan hanya sekadar mengikuti atau meneladani Rasulullah yang berkaitan dengan akhlak yang baik dan meninggalkan aktivitas-aktivitas yang wajib ditinggalkan (buruk) yang dilakukannya sejak beliau diangkat menjadi seorang Rasul hingga akhir hayatnya.
Kelahiran dan kehadiran Rasulullah saw., seharusnya tidak menjadi peringatan yang bersifat seremonial saja bagi umat muslim. Dengan melupakan bahwa beliau dilahirkan dan diutus oleh Allah Swt. kepada manusia sebagai cahaya petunjuk yang akan membawa manusia pada kemenangan dan pembebasan dari hukum-hukum buatan manusia. Sehingga memperingati Maulid Nabi saw. bukan sekadar menyatakan cinta kepada Rasulullah, melainkan bukti cinta kepada beliau harus dibuktikan dengan menaati dan mengikuti seluruh aktivitasnya sebagai pedoman hidup bagi umat Islam.
Sebab, kecintaan dan keimanan kepada Allah dan Rasulnya merupakan bagian dari rukun Iman ynng harus menjasad dalam diri umat Islam. Rasulullah bersabda, ”Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Hadis di atas menegaskan bahwa mencintai Rasulullah merupakan wasilah menuju kesempurnaan iman, jalan memperoleh cinta dan jalan untuk mendapatkan ampunan Allah Swt. serta menjadi jalan seorang muslim kelak dikumpulkan dengan beliau di jannah-Nya.
Ada hal yang terpenting sebagai pembuktian cinta seorang muslim kepada Rasulullah yang wajib diikuti dan ditaati, yaitu perjuangan beliau bersama para sahabatnya dalam memperjuangkan tegaknya syariat Islam di muka bumi ini. Selama 23 tahun di masa kenabiannya, ia tidak pernah memperjuangkan urusan pribadi atau keluarganya, melainkan beliau berjuang mendakwahkan risalah Islam yang menjadi amanahnya agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tak ada satu pun yang bisa menghentikan dakwah beliau, walaupun telah ditawarkan berbagai kemewahan dunia oleh orang-orang Quraisy tetapi beliau tetap kekeuh untuk memperjuangkan risalah dakwah ini. Walaupun harus mendapatkan tantangan dan rintangan yang datang silih berganti, tak membuat beliau gentar untuk terus memperjuangkan dakwah hingga beliau berhasil mendirikan negara Islam di Madinah dan diterapkan syariat Islam kafah di sana dalam seluruh lini kehidupan umat manusia.
Apa yang telah diperjuangkan oleh Rasulullah saw. seharusnya menjadi perkara wajib yang harus diperjuangkan oleh seluruh umat Islam di dunia karena menjadikan Rasulullah sebagai teladan bagi umat Islam telah mengajarkan bahwa perjuangan untuk menegakkan kebenaran Islam membutuhkan keistikamahan, keberanian, dan niat yang lurus semata-mata ingin mendapatkan rida dan pahala dari Allah Swt. Memegang teguh prinsip bahwa memperjuangkan risalah Islam dengan terus mengopinikan dakwah Islam adalah ujian kesabaran dan keyakinan penuh akan datangnya pertolongan Allah Swt.
Momentum Maulid Nabi saw. seharusnya menjadi momen yang tepat bagi seluruh umat Islam untuk membuktikan cintanya kepada Rasulullah saw. dengan mengubah kondisi umat saat ini yang sudah sangat jauh dari hukum syariat Allah. Sebab, saat ini umat Islam hidup dan diatur dengan hukum buatan manusia yang mengakibatkan beragam kezaliman dan kemaksiatan terus menghampiri kehidupan umat Islam. Kehadiran penguasa dan sistem yang zalim telah mengubah kehidupan umat Islam dari syariat Islam yang seharusnya menjadi satu-satunya aturan yang diterapkan dalam kehidupan mereka.
Apalagi pemikiran sekularisme yang menihilkan peran agama dari kehidupan telah meracuni pemikiran umat Islam, sehingga hanya memandang Rasulullah sebagai teladan dalam hal-hal yang bersifat ibadah dan pribadi yang baik. Melupakan bahwa Rasulullah adalah kepala negara, pemimpin masyarakat, dan hakim bagi umat manusia. Alhasil, perayaan Maulid Nabi yang dilakukan setiap tahun tidak membuat kondisi umat Islam makin baik, bahkan makin buruk dan terjerumus dalam kubangan kesesatan yang sangat dalam.
Oleh karena itu, seluruh umat Islam harus menyadari makna meneladani Rasulullah sebagai uswatun hasanah, yaitu dengan melanjutkan perjuangan beliau untuk mengembalikan hukum syariat Allah yang mengatur kehidupan umat manusia dalam naungan Khilafah Islamiah. Perkara ini menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam agar melayakkan diri menjadi pejuang dan pengemban agama Allah dengan berupaya sekuat tenaga agar opini dakwah Islam tersebar di seluruh penjuru bumi untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan sistem buatan manusia menuju cahaya Islam yang memberikan keberkahan hidup dan mendapatkan keridaan dari Allah dan Rasul-Nya. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar