Jangan Lupakan Gaza!





#Editorial— Di tengah memanas dan meluasnya konflik politik Timur Tengah, serta bencana karhutla yang belum usai, disusul tenggelamnya Kapal Virgo di Laut Jawa yang memakan banyak korban, saudara-saudara kita di Gaza dan Palestina nyaris kehilangan panggung pemberitaan dunia. Padahal, krisis kemanusiaan yang terjadi di sana kian hari kian mengerikan dan kezaliman yang dilakukan tentara pendudukan benar-benar makin di luar nalar.

Selain harus menghadapi teror berupa krisis makanan, air, obat-obatan, energi, dan listrik yang makin parah, serangan brutal Zion*s pun kian gencar dilakukan. Bahkan, Proposal Perdamaian 20 Poin alias Rencana Komprehensif untuk Mengakhiri Konflik Gaza yang digagas Trump dan ditandatangani pada KTT Perdamaian di Sharm el-Sheikh di Mesir pada 13 Oktober 2025, nyatanya hanya dianggap angin lalu.


Gencatan Senjata Tidak Mengubah Apa-Apa

Al Jazeera menyebut, akhir-akhir ini serangan maut kerap menyasar kamp-kamp pengungsian yang menjadi benteng terakhir warga Gaza. Senjata-senjata drone berteknologi AI milik Zion*s terus berseliweran di atas kemah-kemah mereka. Siapa pun yang masuk ke dalam radarnya, langsung ditembak tanpa ampun dalam jarak yang sangat dekat.

Semua kekejian itu dilakukan pihak penjajah di tengah status gencatan senjata dan fase kedua rencana perdamaian Gaza. Tercatat sepanjang masa ini saja, ada lebih dari 1.300 warga sipil tewas terbunuh. Alhasil, total sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas mencapai lebih dari 73.000 orang, kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak tanpa dosa.

Bagi pihak Zion*s, perjanjian atau kesepakatan apa pun memang tidak berarti apa-apa. Bahkan, Proposal Perdamaian 20 Poin alias Rencana Komprehensif untuk Mengakhiri Konflik Gaza, maupun yang digagas Trump dan ditandatangani pada KTT Perdamaian di Sharm el-Sheikh di Mesir pada 13 Oktober 2025, nyatanya hanya dianggap angin lalu. Mereka tetap bersikukuh ingin membersihkan Gaza, bahkan Palestina, dengan caranya. Termasuk dengan menciptakan teror keji sebagaimana yang mereka tunjukkan dari masa ke masa. Alhasil, keberadaan kesepakatan-kesepakatan itu tidak lebih dari sekadar alat legalisasi untuk memperpanjang penderitaan warga Gaza. Bahkan hari ini, lebih dari 70% wilayah Gaza sudah masuk dalam kekuasaannya.

Pernyataan Itamar Ben-Gvir, Menteri Israel sekaligus pemimpin partai sayap kanan Jewish Power, pada kampanye pemilunya 3-9-2026 kemarin cukup menjadi bukti atas kesimpulan ini. Ia mengungkap rencana pembersihan etnis untuk mengeluarkan 1,86 juta warga Palestina dari Gaza dalam kurun waktu tujuh tahun dengan dalih “migrasi sukarela”. Rencana yang diberi nama Disengagement 710 itu menargetkan 250.000 warga Palestina meninggalkan Gaza pada tahun pertama. Lalu meningkat menjadi 1,11 juta orang (dalam kurun 3 tahun) dan sekitar 1,86 juta orang (dalam waktu 7 tahun). Untuk itu, pihaknya menyiapkan investasi sebesar USD3,3 miliar hingga USD16,6 miliar yang bergantung pada keterlibatan internasional dan kesepakatan dengan negara-negara tujuan.

Meski cukup menuai kecaman, tetapi dengan kemampuan lobi, kekuatan uang, dan media yang dimilikinya, pihak Zion*s memastikan diri rencana ini bisa direalisasikan. Terlebih di satu sisi banyak negara yang nyaris bangkrut dan butuh suntikan dana dengan rezimnya yang sangat korup. Di pihak lain, banyak pihak sangat berkepentingan terhadap pengelolaan Gaza pada masa depan. Mereka adalah para korporat properti multinasional yang orientasinya hanya pada akumulasi modal dan melihat Gaza semata sebagai objek bancakan.

Umat Islam Tidak Boleh Diam!

Tidak dimungkiri, kondisi kehidupan kita dan umat Islam di luar Palestina dan Gaza memang sedang tidak baik-baik saja. Hantaman berbagai krisis yang tengah kita hadapi menjadi beban tersendiri hingga menguras energi dan perhatian. Namun, kita tidak boleh lupa, ada kewajiban syar’i yang menuntut kita untuk tidak bersikap diam. Narasi pembelaan dan seruan perjuangan harus terus dihidupkan agar kaum muslim Gaza Palestina tidak merasa sendirian.

Terlebih hari ini kita tidak bisa berharap pertolongan itu datang dari negara-negara besar, termasuk dari lembaga-lembaga internasional. Posisi mereka selama ini justru sudah sangat jelas, yakni berdiri di pihak yang berlawanan dengan kepentingan umat Islam. Mereka mungkin kencang bernarasi seolah-olah peduli dan membela Gaza dan Palestina. Namun sejatinya, mereka hanya peduli terhadap segala hal yang menyangkut kemaslahatan kelompok, serta yang disebut sebagai kepentingan nasionalnya.

Lembaga-lembaga internasional pun sejak awal memang di-setting oleh negara-negara besar untuk melemahkan posisi umat Islam. Atas nama menjaga pergaulan internasional, mereka buat berbagai aturan yang sejatinya memandulkan akidah sebagai asas persatuan umat Islam. Juga atas nama menjaga perdamaian dunia, mereka jauhkan spirit umat untuk berjihad melawan segala bentuk penjajahan.

Wajar jika potensi kekuatan umat yang sedemikian besar tidak mampu melenyapkan ketakadilan. Lebih dari dua miliar umat Islam di dunia, nyatanya tidak berdaya di hadapan 10 juta entitas Zion*s Yahudi yang terang-terangan bertindak makar. Padahal dulunya, umat Islamlah yang memuliakan tanah ini dan penduduknya dengan risalah Muhammad ﷺ, serta membuka tangan mereka untuk memberi pertolongan pada entitas Yahudi yang tengah menghadapi upaya pemusnahan.

Namun kini, mereka malah bersekongkol dengan sekutu-sekutunya untuk melenyapkan para penolongnya. Bukan hanya di Gaza, tetapi di seluruh wilayah Palestina. Mereka rampas rumah dan tanah umat Islam, lalu membun*hi satu demi satu pemiliknya di hadapan mata dunia yang sudah lama mati rasa, bahkan pingsan tidak berdaya.

Tidak terkecuali para pemimpin umat Islam. Mereka garang di mimbar, tetapi lemah dalam mengambil tindakan. Raja-raja Arab disibukkan dengan agenda mempertahankan dinasti yang dulu ditegakkan para nenek moyang mereka dengan mengkhianati kepemimpinan Khilafah Islam. Mereka terus bertengkar demi melanggengkan kursi dan sejengkal wilayah kekuasaan. Mereka tidak malu menjual murah harga dirinya dan berjabatan tangan dengan para pembunuh umat Islam.

Adapun para penguasa di negeri-negeri muslim lainnya, tengah sibuk dengan tetek bengek pencitraan. Sebagiannya bahkan mendukung skenario musuh demi beroleh legitimasi kekuasaan. Mereka sebut apa yang mereka lakukan sebagai “dukungan” atas nama normalisasi hubungan dan perdamaian. Mereka nisbahkan kedurhakaan ini pada kekasih Allah, Ibrahim as. dan Rasul Muhammad ﷺ. Mereka jual agama dan akhirat demi dunia. Mereka benar-benar sudah terjangkit penyakit wahn.

Agenda Bersama Umat Islam

Masalah Gaza atau Palestina memang hanyalah satu dari sekian banyak masalah yang sedang dihadapi umat Islam. Umat—dalam hal ini—tidak boleh kehilangan perhatian dan sensitivitasnya, mengingat masalah ini menyangkut perkara iman. Namun, pada saat yang sama, umat juga tidak boleh abai terhadap berbagai problem lainnya. Ini karena jika ditelusuri, ternyata problem-problem tersebut berakar pada problem yang sama yang juga terkait dengan perkara iman atau implementasi iman.

Allah Swt. berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Surah Thaha: 124)

Realitas kehidupan umat hari ini jelas penuh dengan kesempitan. Penyebabnya pun jelas, yakni karena hukum-hukum Allah atau syariat Islam tidak dijadikan sebagai landasan kehidupan mengingat umat hari ini hidup di bawah sistem sekuler yang menihilkan peran agama Islam dari kehidupan. Misalnya, Allah Swt. memerintahkan umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan, tetapi mereka justru berpecah belah atas dasar kebangsaan. Allah memerintahkan mereka menegakkan negara yang menerapkan hukum-hukum Islam, tetapi mereka memilih demokrasi yang menjadikan rakyat sebagai pemilik kedaulatan.

Allah Swt. juga memerintahkan mereka menerapkan sistem ekonomi dan pergaulan slam, tetapi mereka justru memilih menerapkan kapitalisme dan liberalisme yang nyata-nyata menimbulkan berbagai kemudaratan. Allah Swt. memerintahkan mereka menegakkan jihad melawan musuh-musuh Islam, tetapi mereka memilih berjabat tangan dengan penjajah dan pembunuh umat Islam. Wajar jika akhirnya umat kehilangan jati dirinya sebagai umat terbaik sebagaimana predikat yang Allah Swt. berikan. Mereka justru jadi bulan-bulanan dan objek penjajahan. 

Ini persis seperti yang pernah disampaikan Rasulullah ﷺ, “Hampir-hampir bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka.” Lalu seorang sahabat bertanya, “Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Tidak, bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian buih, bagaikan buih di lautan. Dan Allah akan menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Dan Allah akan menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Cinta dunia dan takut menghadapi kematian.” (Hadis Riwayat Abu Dawud no. 4297)

Oleh karenanya, solusi atas seluruh problem umat Islam harus benar-benar disandarkan pada Islam. Tidak terkecuali solusi atas problem Palestina, juga harus datang dari Islam, yakni dengan mengusir penjajahan melalui jihad semesta yang dikomando oleh seorang pemimpin muslim yang disebut sebagai khalifah. 

Ketiadaan khalifah dengan sistem politiknya—yang disebut sebagai Khilafah—terbukti telah menyulitkan umat untuk memobilisasi semua kekuatan yang dimiliki. Padahal, pada masa lalu, Khilafahlah yang telah berhasil menyatukan manusia dari berbagai wilayah dan bangsa, termasuk membebaskan Palestina dari kekuasaan Romawi yang menzalimi mereka atas nama agama; membangkitkan mereka, memuliakan, dan menyejahterakan kehidupan mereka dengan sebenar-benarnya dan dalam waktu yang sedemikian panjangnya.

Inilah yang semestinya menjadi concern kita sekarang. Penegakan syariat Islam di bawah naungan Khilafah harus menjadi agenda bersama perjuangan umat Islam. Tentu umat harus dipahamkan mulai dari aspek yang paling mendasar, yakni merevitalisasi akidah hingga siap melahirkan ketaatan mutlak pada seluruh aturan Islam; yang ternyata bukan hanya ajaran ritual dan moral, melainkan juga mengatur seluruh aspek kehidupan.

‘Ala kulli haalin, Gaza dan Palestina menunggu peran aktif dan nyata kita. Caranya adalah dengan serius memperjuangkan penegakan Khilafah yang kelak akan memobilisasi kekuatan umat berupa tentara dan senjata, dan mengomando jihad membebaskan Palestina, melalui dakwah Islam kafah di tengah umat sesuai thariqah dakwah Rasulullah ﷺ. Teruslah bicara tentang Gaza dan Palestina agar semangat juang dan iman mereka menjadi inspirasi dan spirit bagi perjuangan kita.

Komentar