Karya tanpa Pamrih, untuk Bogor Lebih Baik




Siti Rima Sarinah



#Bogor — Berbagai terobosan terus dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui perencanaan pembangunan daerah. Baru-baru ini Pemkot Bogor menggelar Bogor Inovation Award (BIA) 2026. BIA 2026 diharapkan bisa menjadi ruang bagi masyarakat, pelajar, perguruan tinggi, hingga perangkat daerah untuk menampilkan gagasan dan inovasi dalam menjawab berbagai persoalan di Kota Bogor. BIA merupakan kompetisi inovasi yang diselenggarakan Bapperida Kota Bogor. BIA menjadi wadah kreativitas bagi masyarakat untuk memberikan gagasan dan ide solusif inovatif agar Kota Bogor menjadi lebih baik dengan mengusung tema “Spark Your Idea: Innovation and Collaboration Empowering The Future”. (bogor.inews.id, 08/09/2026)

Antusiasme peserta pada penyelenggaraan BIA tahun ini mengalami peningkatan dengan jumlah mencapai 373 peserta dari berbagai latar belakang. Perubahan kategori kompetisi juga dilakukan untuk membuka kesempatan lebih luas sekaligus mendorong lahirnya solusi yang dapat diterapkan bagi kebutuhan masyarakat Kota Bogor. Walikota Bogor Dedie Rachim mengapresiasi keterlibatan seluruh peserta dan menilai kompetisi tersebut menjadi wadah untuk menemukan serta mengembangkan potensi yang selama ini belum tersalurkan. (rri.co.id, 10/09/2026)

Selain sebagai ajang untuk menyalurkan ide-ide kreatif, ketertarikan peserta untuk ikut serta dalam BIA 2026 adalah hadiah yang ditawarkan dengan jumlah cukup besar. Tidak dimungkiri, masyarakat khususnya generasi muda tentu akan tertarik mengikuti kompetisi seperti BIA 2026 karena mereka memiliki ide-ide kreatif dan inovatif. Pemenang BIA 2026 akan memperoleh hadiah dengan total Rp126 juta, sertifikat, fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), serta pendampingan inkubasi agar inovasi dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas. (radarbogor.jawapos.com, 22/07/2026)

Hubungan timbal balik dan saling menguntungkan tercipta sebagai konsekuensi asas manfaat yang dianut negeri ini. Melalui kompetisi ini, Pemkot Bogor mendorong lahirnya inovasi yang mampu meningkatkan daya saing daerah sekaligus mendukung terwujudnya visi Bogor Beres dan Bogor Maju. Di sisi lain, peserta mendapat manfaat dari besarnya hadiah yang diberikan oleh penyelenggara beserta fasilitas tambahan sebagaimana yang telah dijanjikan. 

Seharusnya, masyarakat menjadikan momen seperti BIA untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi negeri ini tanpa mengharap imbalan apa pun. Dan seharusnya pemerintah bukan hanya menjadikan BIA sebagai event tahunan. Lebih dari itu, sudah selayaknya pemerintah mengapresiasi dan memberikan dukungan riil atas inovasi masyarakat yang secara nyata mampu memberikan kontribusi positif menuju kehidupan masyarakat yang lebih baik. Demikianlah, asas manfaat memang sangat kental menjadi ruh interaksi antara penguasa dan rakyat.

Kondisi interaksi semacam ini sangat bertolak belakang dengan sistem yang mendedikasikan diri sebagai pelindung, penjaga, dan pelayan bagi rakyat. Adalah sistem Islam (Khilafah) yang menjadikan rakyat sebagai prioritas utama untuk dijamin dan dipenuhi semua hajat hidupnya, tanpa meminta kompensasi sedikit pun dari rakyat. Terwujudnya masyarakat yang makmur dan sejahtera menjadi cita-cita bersama dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat yang secara sukarela (ikhlas) mengabdikan dirinya. Rasulullah saw. bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (Hadis Riwayat ath-Thabrani)

Tatkala negara menjadi garda terdepan hadir untuk menyelesaikan semua persoalan rakyat, maka rakyat pun tak segan-segan untuk memberikan karya terbaiknya bagi negara. Negara pun sangat menghargai hasil karya rakyatnya, tanpa harus membuat event khusus. Sebagai contoh, pada masa keemasan Kekhilafahan Islam, seorang penulis akan mendapatkan imbalan berupa emas seberat buku yang ditulisnya. Imbalan ini sebagai bentuk penghargaan negara atas setiap hasil karya rakyatnya. Dan negara pun tidak merasa rugi untuk memberikan imbalan atas karya-karya terbaik dari rakyat yang dipersembahkan untuk negara demi kemaslahatan rakyat.

Maka wajarlah disepanjang sejarah Islam berbagai karya terbaik dihasilkan oleh para ilmuwan dan para penemu yang sangat berjasa bagi peradaban dunia hingga hari ini. Sederet nama seperti al-Khawarizmi, yang menghasilkan karya Al-Jabar dan Algoritma. Sehingga saat ini kita dapat menggunakan komputer, laptop, HP, dan berbagai aplikasi di dunia maya. Ibnu al-Haytham sebagai penemu dasar kamera dan kacamata. Atas jasa beliau, saat ini kita bisa memperoleh manfaat dari ditemukannya kamera CCTV, kamera HP, mikroskop, teleskop, yang sangat memudahkan aktivitas kehidupan kita. Al-Zahrawi sebagai penemu 200 alat bedah di antaranya pisau bedah, tang, jarum jahit luka, sehingga operasi di rumah sakit menggunakan alat-lat bedah beliau yang hampir 1000 tahun tidak berubah secara mendasar. 

Para ilmuwan dan penemu berlomba-lomba menghasilkan karya terbaik bukan untuk mendapatkan kompensasi materi, melainkan karya yang mereka berikan semata-mata untuk kemaslahatan umat manusia dan memudahkan urusan manusia. Karya tanpa pamrih ini bisa terwujud karena negara peduli atas setiap karya yang dihasilkan. Dengan negara berasakan syariat Islam dalam naungan Khilafah semua karya para penemu menjadi legacy bagi mereka. Walhasil, suatu bangsa mampu menjadi lebih baik dengan menghasilkan karya terbaik dari anak bangsa hanya akan terwujud dalam sistem berdasarkan wahyu. Wallahualam.

Komentar