Mengkhianati Amanah



Siti Rima Sarinah




#MutiaraAl-Qur'an — Mengemban sebuah amanah merupakan perkara yang sangat berat kosekuensi dan tanggung jawabnya. Sebab, amanah ini berkaitan dengan hak rakyat dan kewajiban bagi yang menerima amanah. Amanah sebagai seorang pemimpin harus memahami bahwa jabatan yang dimiliki untuk mengurus dan melayani rakyat. Apabila tidak tertunaikan dengan baik, akan ada hari pertanggungjawaban dan balasan yang setimpal atas kelalaian amanah yang diemban oleh seorang penguasa. Tanpa disadari kebanyakan manusia hanya fokus pada kekuasaan dan tidak melihat bahwa kekuasaan itu adalah amanah, sehingga kebanyakan dari mereka terlena dengan kekuasaan dan melalaikan amanahnya.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah: 188 yang artinya, "Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” Hal senada yang disampaikan oleh Nabi dalam Hadis Riwayat Bukhari sabdanya, ”Sesungguhnya kalian akan tamak pada jabatan. Padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan pada hari kiamat." Ayat dan hadis tersebut menjadi peringatan bagi pemegang amanah, khususnya untuk seorang pemimpin/penguasa untuk tidak memanfaatkan jabatan/kekuasaan dengan mengambil hak rakyat yang bukan menjadi milik mereka. 

Fakta di atas menjadi kondisi kehidupan rakyat di negeri ini. Potret penguasa menjadi pelayan dan pelindung bagi rakyat yang senantiasa peduli dan peka atas persoalan rakyat. Selalu hadir di tengah rakyat tatkala rakyat membutuhkan, dan tak membiarkan satu individu rakyat yang mengalami kesulitan dalam hidupnya. Penguasa pun berupaya untuk mewujudkan kehidupan rakyat makmur dan sejahtera, serta memberikan hak-hak rakyat dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang pemimpin secara optimal.

Namun sayangnya, potret sosok penguasa tersebut hanyalah ada dalam impian rakyat di negeri ini. Pasalnya, sangat bertolak belakang dari apa yang menjadi impian rakyat. Penguasa yang hadir di tengah rakyat saat ini adalah penguasa yang abai atas tanggung jawab dan amanahnya. Hak-hak rakyat tidak ditunaikan, tidak ada pelayanan yang diberikan oleh penguasa kepada rakyat. Bahkan kebijakan dan aturan yang diterapkan tak satu pun diperuntukkan untuk kepentingan rakyat. 

Walaupun rakyat sudah mengingatkan penguasa untuk memberikan hak-hak rakyat, justru rakyat mendapatkan perlakuan yang sangat jauh dari kata adil. Rakyat dibiarkan berada dalam kubangan kemiskinan struktural, padahal mereka hidup di negeri yang sangat kaya. Tetapi tak sedikit pun kekayaan rakyat bisa dinikmati oleh rakyat. Bahkan sekuat tenaga rakyat berupaya meminta haknya kepada penguasa, alih-alih haknya diberikan justru mereka kehilangan semua haknya. Sebab, rakyat dikatakan sebagai rakyat yang mampu sehingga tidak memerlukan bantuan dari negara. 

Bantuan yang diberikan oleh penguasa kepada rakyat yang tidak mampu berasal dari harta negara yang notabene milik rakyat, bukan harta dari penguasa. Namun, karena keserakahan penguasa tak sepersen pun rakyat mendapatkan hak-haknya. Sehingga rakyat harus berjuang sendiri untuk memenuhi hajat hidupnya yang tidak murah yang seharusnya ditanggung oleh negara. Mengambil harta rakyat untuk kepentingan segelintir orang merupakan ciri khas penguasa hasil cetakan sistem yang menihilkan peran agama dalam kehidupan (sekularisme).

Sistem ini memang telah memberikan kewenangan dan kebebasan untuk mengelola harta milik rakyat bukan untuk kepentingan rakyat. Melainkan untuk kepentingan para pengusaha yang berkolaborasi dengan penguasa dan para pejabatnya, memberikan dengan sukarela kekayaan alam negeri ini untuk dikelola dan merekalah yang memperoleh banyak keuntungan dan kekayaan. Mirisnya, dengan membiarkan rakyat hidup dalam kemiskinan dan harus berjuang hidup bukan hanya untuk memenuhi hajat hidupnya, juga memenuhi tuntutan berbagai pungutan pajak  dari negara. Sangat ironis dan tragis kondisi kehidupan rakyat di negeri yang dikenal sebagai Zamrud Khatulistiwa.

Keserakahan akan harta dan kekuasaan telah menutup mata dan telinga penguasa dan antek-antek serta mereka lupa bawa balasan yang pedih sedang menunggu mereka sebagai kosekuensi atas pengkhianatan terhadap amanah yang mereka emban.

Rusaknya sistem kehidupan juga merusak para penguasa dan pejabatnya yang membuat mereka berlaku zalim terhadap rakyat. Sungguh, tidak seharusnya kita hidup dalam sistem yang rusak dan batil ini karena ratusan abad yang lalu umat manusia pernah hidup dalam naungan sistem Khilafah Islam dengan hadirnya sosok penguasa yang mendedikasikan diri sebagai pelayan bagi rakyat. Menjaga amanah, menjadi pelayan dan pelindung rakyat seperti menjaga nyawanya. 

Berupaya sekuat tenaga memberikan yang terbaik kepada rakyat bukan hanya hidup yang aman, sejahtera, dan makmur, melainkan juga menunaikan semua hak-hak rakyat tanpa terbersit sedikit pun ingin mengambil keuntungan atas jabatan/kekuasaan yang berada dalam genggamannya. Justru sebaliknya, sosok penguasa tersebut sangat takut dan berhati-hati dalam menunaikan amanahnya agar tidak sedikit pun kelalaian yang ia lakukan membuat rakyat menderita. 

Potret penguasa yang menjaga amanahnya inilah yang seharusnya hadir menjadi penjaga dan pelindung bagi rakyat. Sehingga seluruh umat muslim harus menyadari untuk bangkit dan keluar dari sistem yang melahirkan malapetaka dan hadirnya sosok pengkhianat amanah dari Allah. Terlebih lagi, kita pun akan dimintai pertanggungjawaban jika hanya mendiamkan sistem batil ini terus bercokol dalam kehidupan kita. 

Oleh karena itu, seluruh umat muslim harus berjuang untuk mengembalikan syariat Islam kafah dalam kehidupan dalam naungan khilafah Islam dan penguasa bervisi akhirat pemegang amanah dari langit. Wallahualam.

Komentar