Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Manusia pada hakikatnya diciptakan Allah Swt. ke dunia untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang hamba. Sebagai seorang hamba, manusia diarahkan untuk terikat pada setiap aturan dan menjauhi larangan yang telah ditetapkan oleh Rabb. Pengaturan ini agar tujuan penciptaan manusia berjalan sempurna dan tidak sedikit pun keluar dari syariat-Nya serta mencegah manusia melakukan kemaksiatan dan kezaliman baik kepada dirinya maupun kepada orang lain.
Allah Swt. berfirman yang artinya, ”Dan orang-orang yang melanggar janji Allah setelah diikrarkan dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar disambungkan dan berbuat kerusakan di bumi: mereka itu telah memperoleh laknat dan tempat kediaman yang buruk (jahanam).” (Surah Ar-Rad: 25)
Hal senada disampaikan Nabi melalui sabdanya yang berbunyi, ”Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanah berkhianat.” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim)
Ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi di atas menegaskan tentang kewajiban untuk menunaikan janji yang telah diucapkan/diikrarkan. Sebab, dalam Islam janji yang tidak ditepati tanpa uzur syar’i dianggap utang yang akan ditagih di akhirat kelak. Orang yang sengaja tidak menunaikan janji disebut sebagai orang munafik yang akan mendapatkan laknat dan kelak menjadi penghuni neraka jahanam.
Saat ini kita hidup dan dipimpin oleh seorang penguasa yang telah bersumpah atas nama Allah untuk melaksanakan amanahnya sebagai pelayan bagi rakyat. Sumpah diucapkan di atas kitab suci Al-Qur’an yang pastikan memahami kosekuensi jika tidak melaksanakan sumpah dan janjinya tersebut. Namun, sumpah dan janji yang telah diikrarkan seakan tak memiliki arti apa pun baginya karena dalam realitas kepemimpinannya tak sedikit pun janji-janji tersebut ia tunaikan. Bahkan ia membuat hukum dan kebijakan yang bertentangan dengan aturan Al-Qur’an yang mengakibatkan rakyatnya hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan akibat kezalimannya.
Ia bersumpah serapah dengan kata-kata yang buruk dan seharusnya tidak keluar dari lisan seorang penguasa/pemimpin yang melayakkan diri mengambil amanah untuk mengurus dan melayani rakyat. Segolongan orang yang berusaha untuk mengingatkan dan mengoreksi kebijakannya dibungkam dan dikriminalisasi. Hanya karena ia menginginkan rakyatnya tak bersuara, diam dan membisu seakan buta dan tuli, sehingga ia bebas membuat kebijakan sesuai kepentingan dan hawa nafsunya.
Tidak ada rasa iba ataupun prihatin atas nasib rakyat akibat perbuatannya. Ia pun lupa jika melalui suara rakyatlah pada akhirnya ia bisa sampai dan duduk di atas kursi kekuasaan. Dengan mudahnya melupakan semua janji-jani manis yang pernah diucapkan dengan penuh keyakinan agar rakyat percaya dan yakin untuk memilihnya sebagai pemimpin bagi rakyat. Padahal, setiap penderitaan rakyat yang dihasilkan dari kezalimannya harus dibayar dengan harga yang sangat mahal dan azab yang sangat pedih dihadapan Allah kelak.
Menjadi seorang pemimpin agar sumpah dan janjinya bisa dipercaya serta amanah dalam tugasnya, tidak cukup hanya dengan berlabel sebagai seorang muslim saja. Akan tetapi, seorang muslim yang menjadikan keimanan sebagai landasan untuk mengambil amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya. Namun sayangnya, potret penguasa yang hadir di tengah rakyat hari ini memang dicetak untuk menjadi pemimpin yang ingkar dan khianat pada janji dan sumpahnya. Sistem hari ini yang menihilkan peran agama dalam kehidupan telah mengubah orientasi para pemimpin umat muslim saat ini. Jabatan dan kekuasaan justru dijadikan “jalan pintas” untuk mengumpulkan harta dan membangun kekuasaan, di atas penderitaan dan air mata rakyatnya.
Berbeda halnya dengan sistem Islam yang telah berhasil mencetak para pemimpin yag mededikasikan diri sebagai pelayan umat. Kekuasaan dan jabatan bukan menjadi "prestise” baginya, melainkan bentuk wujud ketaatan dan keimanan seorang hamba. Kisah termasyhur pemimpin umat Islam di masa Kekhilafahan, Umar bin Khattab tatkala diangkat menjadi seorang khalifah ia menangis karena takut amanah yang dibebankan kepadanya tak sanggup ia pikul dan khawatir ada hak-hak rakyat tak tertunaikan akibat kekhilafannya. Ia pun setiap malam keliling wilayahnya untuk memastikan tidak ada satu pun rakyatnya yang kelaparan dan kesusahan. Sampai akhirnya ia mendapati sebuah rumah yang terdengar suara tangisan anak kecil karena lapar dan tidak bisa tidur. Mengetahui hal tersebut ia langsung membawa makanan, mengantar, dan memasakkan makanan untuk anak tersebut dan keluarganya dengan tangannya sendiri.
Inilah potret pemimpin yang senantiasa berupaya untuk menunaikan janjinya, apalagi ia adalah seorang pemimpin yang mengurusi agar hak-hak rakyatnya tertunaikan dengan sempurna. Beratnya hisab dari sebuah janji dan amanah yang diembannya, menjadikan tak sedikit pun ia memikirkan kepentingan dirinya dan keluarganya. Pemimpin inilah yang seharusnya hadir dalam kehidupan umat muslim dan menyadarkan umat muslim bahwa kita telah salah memilih pemimpin dan sistem yang mengatur kehidupan kita. Sehingga umat muslimlah yang harus menanggung akibatnya.
Alhasil, kondisi ini harus segera diakhiri, dan menjadi tanggung jawab bersama untuk seluruh umat muslim mengembalikan aturan Islam hadir dalam seluruh lini kehidupan. Dengan menjadi bagian dari kelompok yang terus mendakwahkan Islam seraya terus memohon pertolongan Allah agar mengubah sistem jahiliah menjadi sistem Islam dalam naungan Khilafah agar umat Islam mendapatkan keberkahan dan keridaan-Nya.

Komentar
Posting Komentar