Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Musibah datang silih berganti menghampiri negeri ini. Banjir bandang, gempa, kebakaran, gunung erupsi, dan masih banyak bencana lainnya. Banyaknya musibah dan bencana menunjukkan bahwa bumi ini tidak baik-baik saja. Bumi tempat kita berpijak, untuk hidup dan tinggal di dalamnya telah diciptakan dengan bentuk yang sempurna dan diatur agar manusia bisa hidup dan mengelola bumi sesuai aturan Sang Penciptanya. Manusialah yang diberikan amanah untuk mengelola dan menjaga alam semesta dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemiliknya, agar tidak ada satu pun manusia yang melakukan kerusakan di muka bumi ini.
Allah Swt. berfirman yang artinya, "Dan sungguh, Kami akan timpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat sebelum azab yang lebih besar, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Surah As-Sajdah: 21)
Ayat tersebut menjelaskan tentang “azab yang dekat” sebagai musibah yang didapatkan manusia di dunia. Azab ini sebagai teguran/peringatan dari Allah Swt. untuk manusia, dan akan ada azab yang lebih besar yaitu azab di hari kiamat. Teguran/peringatan dari Allah Swt. dengan adanya berbagai musibah untuk mengajak manusia kembali kepada jalan yang telah ditetapkan oleh Allah, sebelum Allah menutup pintu taubatnya. Sehingga tak boleh ada satu pun manusia berpaling dan keluar dari aturan syariat yang telah ditentukan.
Munculnya musibah dalam kehidupan manusia sebagai bentuk kasih sayang Allah yang tidak menginginkan satu manusia pun melakukan kerusakan dan kemaksiatan. Karena itu, Allah memberikan musibah kepada manusia bukan untuk menghancurkannya, melainkan musibah ini sebagai peringatan agar manusia kembali ke jalan-Nya dan hanya menggunakan aturan dari-Nya bukan aturan dari hawa nafsu manusia.
Umat muslim harus menyadari bahwa datangnya musibah silih berganti bukanlah tanpa sebab. Seharusnya banyaknya musibah yang terus menghampiri menjadi muhasabah bagi kita, akibat kelalaian kekuasaan manusia yang melupakan tugas penciptaannya sebagai hamba. Allah Swt. mengetahui bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, sehingga membutuhkan aturan agar dapat menjalani aktivitas kehidupan sesuai perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Namun sayangnya, akibat kekuasaan dan jabatan manusia lupa akan kelemahan yang ia miliki, sehingga ia mengabaikan semua aturan dan menggantikan aturan dari Sang Pencipta. Padahal, Allah Swt. telah menganugerahkan kekayaan alam yang melimpah ruah kepada negeri ini dan membawa keberkahan di dalamnya. Tetapi kekayaan alam ini yang merupakan amanah bagi manusia tidak dijaga dengan baik, akibatnya dikuasai oleh manusia-manusia serakah yang haus akan kekayaan dan kekuasaan.
Mereka adalah manusia-manusia yang melayakkan diri mengambil amanah untuk mengelola alam semesta dan mengurusi urusan manusia. Mereka lupa amanah kekuasaan dan jabatan yang berada di genggamannya harus dijalankan sesuai aturan sang pemberi amanah. Malahan mereka justru memanfaatkan jabatan dan kekuasaan dengan membuat aturan yang bukan hanya membuat kehidupan manusia makin sulit, melainkan juga hewan dan alam semesta dirusak oleh tangan-tangan mereka.
Kita bisa melihat berapa banyak hutan yang sengaja dibakar demi kepentingan mereka. Padahal, hutan sangat berperan penting bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi. Mereka tidak memerdulikan banyak orang yang menghirup asap hingga kesulitan bernafas. Banjir bandang dan tanah longsor pun datang akibat tidak ada lagi akar pohon yang menyerap air hujan untuk mencegah banjir.
Tanpa rasa bersalah mereka menyatakan bahwa ini hanyalah fenomena alam yang biasa terjadi. Padahal semua musibah ini akibat ulah tangan mereka, yang menggunakan kekuasaan untuk merusak alam demi kepentingan bisnis dan hawa nafsu mereka. Maka wajarlah, negeri ini tak pernah lepas dari berbagai musibah karena amanah kekuasaan diberikan kepada manusia yang arogan menggantikan posisi Sang Pemilik bumi. Ditambah rusaknya penerapan sistem yang menihilkan peran agama dari kehidupan yang mereka adopsi.
Bukan mereka yang menanggung akibat dari ulah tangan mereka sendiri, tetapi rakyat yang harus menanggungnya. Seharusnya manusia tidak menjadi korban dari kerusakan dan kezaliman yang mereka lakukan. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa musibah yang datang menjadi renungan/muhasabah bagi umat manusia, bahwa kita hidup dalam sistem kehidupan yang salah dan senantiasa menjadikan rakyat sebagai tumbalnya.
Jika kita hanya berdiam diri tanpa melakukan perubahan apa pun, maka kondisi negeri ini akan mengalami keterpurukan dan kehancuran. Padahal, musibah hadir mengingatkan kita untuk kembali pada aturan syariat yang sempurna. Dengan memperjuangkan kembali syariat tersebut dan mengganti sistem kehidupan yang rusak buah dari sistem buatan akal manusia yang lemah.
Jika seluruh umat bersatu, berjuang bersama untuk mengembalikan satu-satunya aturan yang dapat menolong manusia dari azab Allah yang sangat pedih. Perlu senantiasa meyakinkan diri akan pertolongan dari-Nya, atas upaya perjuangan yang tengah kita lakukan untuk mengenyahkan sistem pembawa musibah yang membuat kehidupan manusia dalam kegelapan. Dengan keyakinan ini, dengan izin-Nya, kita akan kembali pada sistem kehidupan yang sesungguhnya yang penuh keberkahaan dan mendapatkan rida-Nya. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar