Siti Rima Sarinah
#Wacana — Video viral berdurasi 15 menit yang mempertontonkan sebuah pertunjukan para peserta yang menggunakan kostum menyerupai monster dan makhluk menyeramkan, ramai beredar di sosial media. Pertunjukkan yang menyeramkan tersebut diklaim sebagai bentuk perayaan Maulid Nabi dengan gaya yang tidak biasa dan mengandung unsur kesyirikan. Bertajuk "Gelaran Simbang Kulon Night Carnival" (SKNC) 2026 di gelar di Kota Batik, Pekalongan Jawa tengah. SKNC ternyata sudah menjadi tradisi masyarakat Pekalongan selama 61 tahun, yang bersanding dengan tradisi peringatan Maulid Nabi yang identik dengan mencintai Rasulullah dan menjadikan beliau sebagai uswatun hasanah.
Perayaan Maulid Nabi yang mengandung unsur kesyirikan ini mendapat sorotan tegas dari Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pekalongan, K.H. M. Cholil Nafis yang menurut beliau pertunjukan SKNC jelas bertentangan dengan esensi perayaan Maulid Nabi saw. Seharusnya perayaan Maulid Nabi diisi dengan kegiatan yang mendidik, menyejukkan, dan mencerminkan akhlak Rasulullah sebagai uswatun hasanah serta menjadikan momen kelahiran Nabi sebagai wujud syiar Islam dalam memperkuat keimanan umat Islam (rctiplus.com, 15/09/2026)
Mengadopsi Kesyirikan
Sungguh miris, di negeri mayoritas muslim aktivitas kesyirikan justru makin langgeng terjadi. Terbukti Tradisi SKNC yang telah berlangsung selama 61 tahun menjadi bukti bahwa umat Islam telah hidup dalam kesyirikan selama puluhan tahun lamanya. Apalagi menyandingkannya dengan perayaan Maulid Nabi yang sangat bertolak belakang. SKNC bukan hanya mengajak pada kesyirikan, tetapi menjadikan kesyirikan sebagai aktivitas kehidupan umat dan sedangkan perayaan Maulid Nabi, mengajak umat Islam untuk menjadikan Nabi sebagai teladan terbaik dalam hal keimanan dan perjuangan untuk menerapkan Islam sebagai pondasi dalam kehidupan.
Visual horor dalam SKNC menjadi bukti nyata bahwa agama telah dipisahkan dari kehidupan. Syariat Islam tidak lagi menjadi rujukan sehingga tanpa rasa bersalah menyandingkannya dengan visual ritual yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Parahnya, mereka justru merasa bangga melakukan pertunjukan yang penuh kesyirikan dengan menggunakan atribut dan kostum yang mirip dengan ritual penyembahan setan. Inilah bukti bahwa umat muslim sangat jauh dari pemahaman Islam dan bahkan tidak mengenal syariat agama mereka sendiri. Sehingga mereka tidak bisa membedakan aktivitas yang mengandung kesyirikan dan yang tidak. Kemudian, dengan mudahnya mereka mengikuti “tradisi baru yang penuh sensasi” tanpa mengenal ritual itu berasal dari mana.
Waspada Pendangkalan Akidah
Tidak dimungkiri, SKNC bukanah satu-satunya upaya untuk menjauhkan umat Islam pada pemahamam syariat Islam yang benar. Berbagai upaya telah dilakukan oleh musuh-musuh Islam dengan menggunakan “corong” orang-orang yang katanya paham agama. Ide moderasi agama yang masuk dalam seluruh lini kehidupan umat Islam, menjadi upaya untuk menjauhkan umat Islam pada nilai-nilai Islam. Tentu dengan satu tujuan agar umat Islam tidak lagi menjadikan syariat Islam sebagai standar dalam pola pikir dan pola sikapnya. Terkikisnya identitas dan jati diri umat Islam, walaupun beragama Islam tetapi perilaku dan pemahamananya tidak menunjukkan sebagai seorang muslim.
Upaya-upaya terus dilakukan dan diopinikan tentu tanpa sebab. Karena sesungguhnya selain ingin menjauhkan umat dari syariatnya, mereka juga tidak menginginkan Islam hadir kembali dalam kehidupan untuk mengatur kehidupan dan membasmi semua bentuk kesyirikan yang akan mendangkalkan dan merusak akidah umat Islam, akibat hadirnya sistem sekularisme yang saat ini bertahta dan membuka peluang masuknya pemahaman dan ritual-ritual yang melanggar aturan syariat Islam.
Mengembalikan Esensi Perayaan Maulid Nabi
Rasulullah saw. dan para sahabat telah berupaya keras untuk mengeluarkan masyarakat Arab dari aktivitas jahiliah dengan mengeluarkan mereka dari kegelapan yang penuh kesyirikan menuju pada penghambaan kepada zat yang menciptakannya manusia. SKNC, ide moderasi beragama dan pemahaman yang mendangkalkan akidah umat harus dijauhkan dari umat dan kehidupan. Hal ini merupakan gejala serius yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Malah mengakibatkan pendangkalan pemahaman Islam dengan mendistorsi perayaan dan syiar keagamaan yang menyandingkannya dengan tradisi yang penuh sensasi yang identik mengandung unsur kesyirikan dalam bentuk tontonan untuk menarik perhatian umat.
Ketidaktahuan umat seharusnya menjadi alarm penting bagi semua muslim untuk memasifkan dakwah Islam dan mengajak umat Islam untuk belajar dan memahami syariatnya. Dengan menghilangkan kesyirikan yang akan menghantarkan pada kekufuran agar umat Islam memiliki keimanan yang kokoh sebagai pondasi untuk menjalani kehidupan. Pada hakikatnya hal inilah yang juga telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. kepada para sahabat dengan mengubah pemamaham mereka sehingga kekufuran menjadi keimanan dan menjadi pengemban risalah dakwah Islam.
Dengan demikian, umat Islam akan menyadari esensi yang benar dalam perayaan kelahiran manusia mulia, Rasulullah Muhammad. Mengikuti apa yang beliau perjuangkan dengan metode yang telah ditetapkan oleh Allah, agar Islam bukan hanya menjadi aturan dalam beribadah, melainkan juga menjadi satu-satunya sistem mengatur aktivitas kehidupan manusia.

Komentar
Posting Komentar