Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Allah Swt. menciptakan manusia ke muka bumi untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang hamba, yang wajib tunduk dan patuh semua perintah dan larangan-Nya. Dengan bekal aturan inilah manusia akan mampu menjalani medan kehidupan sebagai makhluk mulia yang memiliki akal, sehingga mampu membedakan baik dan buruk sesuai kacamata syariat Allah Swt. Seperangkat aturan yang Allah turunkan kepada manusia merupakan ilmu dan petunjuk hidup yang harus senantiasa dipelajari, dipahami, diamalkan, dan didakwahkan, agar manusia tidak tidak terjerumus pada kesesatan dan senantiasa menebarkan kebaikan di sepanjang hidupnya.
Allah Swt. mewajibkan kepada setiap muslim untuk belajar. Karena dengan belajar manusia akan memiliki ilmu untuk melaksanakan amanah yang diberikan kepadanya. Kewajiban menuntut ilmu ini juga wajib dilakukan oleh seseorang yang melayakkan dirinya untuk mengemban amanah sebagai penguasa. Karena tanpa ilmu seorang penguasa tentu tidak akan mampu menunaikan amanah dan memungkinkan dirinya melakukan kelalaian dan kezaliman terhadap rakyatnya.
Allah Swt. berfirman yang artinya, ”Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang lebih berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu.” (Surah An Nisa: 58)
Ayat di atas menjelaskan bahwa amanah kekuasaan diberikan kepada yang berhak menerimanya. Adapun orang yang berhak menerimanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu/kemampuan untuk mengemban amanah berat ini. Karena beratnya pertanggung jawaban terhadap amanah, jika tidak memiliki ilmu maka ia tidak akan mampu menetapkan perkara dengan adil. Tanpa ilmu kekuasaan akan berubah menjadi kezaliman yang akan menuai malapetaka di negeri tersebut.
Saat ini banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan kekuasaan dan jabatan, tetapi melupakan bahwa kekuasaan adalah amanah yang membutuhkan ilmu agar dapat menunaikannya. Hanya dengan mengandalkan modal uang dan lobi-lobi politik, kebanyakan orang berusaha sekuat tenaga memantaskan diri mengemban amanah menjadi penguasa. Padahal mereka tidak memiliki ilmu dan kemampuan untuk melaksanakan tugasnya sebagai penguasa, tetapi demi kekuasaan, tahta, dan uang yang menjadi orientasi satu-satunya.
Alhasilnya, entah berapa banyak sudah pejabat dan penguasa yang kehadirannya justru menjadi malapetaka bagi rakyat. Alih-alih dapat memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi oleh rakyat, justru membuat aturan dan kebijakan yang membuat kehidupan rakyat makin terpuruk. Hak-hak rakyat terabaikan, tatkala membuat aturan dan kebijakan senantiasa menjual nama rakyat, padahal kebijakan tersebut untuk kepentingan penguasa dan segelintir orang demi kepentingan tertentu.
Tatkala rakyat mengingatkan dan meminta hak-haknya ditunaikan, seakan-akan mereka buta dan tuli tak mendengar sedikit pun jeritan suara rakyat. Mereka pun mengabaikan bahwa kelak pengabaian kelalaian ini akan dipertanggungjawabkan. Inilah potret penguasa di negeri muslim yang menihilkan ilmu dalam mengemban amanah kekuasaan. Maka wajarlah rakyat yang hidup di negeri yang telah dikaruniakan kekayaan alam melimpah ruang, justru kehidupan rakyatnya abadi dalam kemiskinan dan kesengsaraan.
Tidak dimungkiri, kapitalisme sekuler telah mencetak penguasa dan para pejabat yang tidak memiliki ilmu serta kemampuan untuk melayani dan memberikan solusi terbaik atas setiap persoalan yang dihadapi rakyat. Akibatnya, lahirlah para penguasa sebagaimana sabda Nabi saw. yang berbunyi, ”Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dan akan berbicara di zaman itu Ar-Ruwaibidhah” Lalu sahabat bertanya, ”Apa itu Ruwaibidhah Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang bodoh, hina dan tidak berilmu tetapi ikut berbicara dan mengurusi urusan orang banyak/urusan publik.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)
Apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. sangat lekat dalam kehidupan umat muslim saat ini. Kita dipimpin dengan penguasa ruwaibidhah yang tidak memiliki ilmu untuk mengurus rakyat yang menjadi amanahnya. Sehingga mereka tidak peka dengan urusan rakyat dan senantiasa mengatakan rakyat dalam kondisi baik-baik saja. Padahal, sangat nyata penderitaan dan banyaknya persoalan kehidupan yang diakibatkan dari keberadaan pemimpin ruwaibidhah.
Kondisi negeri ini akan terus seperti ini, selama penguasa ruwaibidhah terus diberikan ruang untuk duduk di kursi kekuasaan. Perkara ini harus menjadi perhatian umat muslim agar pandai dalam memilih pemimpin yang dilihat dari sisi keilmuaan dan kemampuan. Agar tidak lagi terkecoh dengan dengan penampilan dan janji manis yang merupakan akal bulus mereka untuk menjerat simpati rakyat.
Jika kita bandingkan dengan kualitas dan kapabilitas penguasa di masa kejayaan Islam adalah sosok-sosok pemimpin yang bukan hanya fakih dalam urusan agama, tetapi juga mereka menjadi garda terdepan untuk menyelesaikan persoalan rakyat. Mereka sangat berhati-hati dan concern terhadap urusan rakyat dan memastikan tidak ada satu pun rakyat yang tidak tertunaikan hak-haknya. Dedikasi dan loyalitas melayani rakyat inilah hasil ilmu yang mereka miliki dan sebagai wujud ketaatan kepada Allah Swt. Sang Pemberi amanah. Sudah saatnya umat bangkit untuk menghadirkan kembali sosok penguasa amanah, adil, dan peduli terhadap rakyat. Untuk segera mengganti penguasa ruwaibidhah yang kehadirannya akan menuai malapetaka bagi rakyatnya.

Komentar
Posting Komentar