#Reportase — Mubaligah Kota Depok Lies Kareema menilai bahwa Islam punya lima visi penting dalam upaya melejitkan potensi generasi. "Untuk mendidik generasi dibutuhkan kerja sama ibu dan ayah yang juga memiliki visi yang sama dalam upaya melejitkan potensinya,” ungkapnya dalam Forum Komunitas Keluarga Sakinah "Potret Kelam Generasi, Islam Membawa Solusi", Ahad (18/10/2026) di Depok.
Adapun kelima visi tersebut menurutnya sebagai berikut. Pertama, sebagai hamba. “Ditanamkan kepada anak pertama kali bahwa ia adalah hamba Allah, tugasnya beribadah. Artinya pondasi awal anak harus tahu Robb-Nya, haruslah beriman kepada Allah.Iman kepada nabi, Iman kepada kitab-kitab Allah, Iman kepada hari akhir, Iman kepada Qadha dan Qadar, takdir buruk dan takdir baik itu dari Allah,” bebernya di hadapan puluhan peserta.
Kedua, sebagai wakil Allah. “Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 30, Allah menjadikan manusia sebagai khalifatul fil ard (wakil Allah di muka bumi). Maksudnya bagaimana? Jadi, manusia itu diberi amanah, bahwasanya harta yang kita miliki adalah milik Allah, berarti harus dikelola dengan cara yang sesuai syariat. Supaya yang miskin bisa dibantu sehingga harta tidak hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja,” jelasnya.
Ia menegaskan, harta milik umum seperti hutan, laut, dan hasil tambang, harus dikelola negara untuk memenuhi kebutuhan rakyat, termasuk membangun sekolah dan menggaji guru. “Jadi khalifatul fil ard itu artinya manusia mengelola alam semesta ini, mengelola harta ini sesuai dengan syariat,” terangnya.
Ketiga, sebagai pemimpin yang bertakwa. “Dalam Al-Qur’an Surah Al-Furqan: 74, kita minta pasangan kita, anak keturunan kita jadi cahaya atau jadi keindahan mata, kemudian kita juga bilang menjadi pemimpin yang bertakwa. Artinya, manusia itu haruslah bertakwa kepada Allah. Takwa adalah menjalankan semua perintah-Nya menjauhi larangan-Nya,” tuturnya.
Keempat, menjadi generasi tangguh, generasi yang kuat. “Ada peringatan dalam Al-Qur’an Surah An-Nissa: 9, dikatakan bahwa jangan meninggalkan generasi yang lemah. Lemah dalam arti lemah imannya, ilmunya, fisiknya, mentalnya,” sebutnya. Ia menilai, orang tua bertugas memastikan anak tumbuh sehat secara fisik dan mental serta memahami dan terikat dengan aturan Islam agar kelak mampu memakmurkan bumi. Oleh karena itu, anak tidak harus menguasai komputer, tetapi bisa mengembangkan kemampuan di bidang bahasa atau bidang lainnya selama bermanfaat bagi umat.
Kelima, jadi penegak kebenaran. “Dalam Al-Qur’an Surah Ali-Imran: 110, kata Allah kita sebaik-baiknya umat. Sudahkah kita seperti itu? Belum, dulu pernah. Kalau kita baca sejarah Islam ya ibu-ibu. Lalu apa yang dilakukan orang yang disebut sebaik-baik umat itu, yakni menegakkan amar makruf nahi mungkar,” ujarnya.
Menurutnya, menyeru kepada kebaikan (al-khair) berarti menyeru kepada Islam, sedangkan paham di luar Islam, seperti liberalisme dan sekularisme, dinilainya sebagai paham yang rusak. “Lalu mencegah dari yang mungkar. Mungkar berarti segala bentuk keburukan, seperti perzinaan, narkoba, dan pornografi,” pungkasnya.[Sari Liswantini]

Komentar
Posting Komentar