Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Allah Swt. menciptakan manusia sebagai makhluk yang lemah, serba kurang, dan membutuhkan orang lain untuk melaksanakan aktivitas kehidupan. Sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan dan kekurangan, Allah tatkala menciptakan manusia diberikan juga seperangkat aturan yang sempurna agar dapat membantu manusia untuk menunaikan tugas penciptaannya sebagai seorang hamba. Dengan senantiasa menjalani medan kehidupan sesuai perintah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah Swt.
Manusia dalam menjalani kehidupan dunia mendapatkan amanah-amanah yang wajib ia tunaikan, karena setiap amanah akan ada pertanggungjawabannya kelak. Apalagi tatkala manusia melayakkan diri untuk mengambil amanah sebagai seorang pemimpin/penguasa untuk mengurusi urusan rakyat. Seorang penguasa/pemimpin harus seantiasa mengoreksi/memuhasabah diri terhadap amanah yang diembannya, apakah sudah ditunaikan dengan sesuai aturan Sang Pemberi Amanah? Ataukah ada amanah yang tidak ditunaikan karena kelalaian atau kekhilafannya sebagai seorang manusia.
Allah Swt. berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Surah Al-Ahzab: 72)
Ayat di atas menjelaskan tentang beratnya sebuah amanah yang diberikan dipundak seorang pemimpin dan ia memampukan diri untuk menerimanya. Padahal, kebanyakan manusia termasuk seorang pemimpin di dalamnya mengkhianati amanah tersebut dan melupakan bahwa betapa berat akibat dari mengkhianati sebuah amanah. Sehingga, seorang pemimpin wajib senantiasa untuk muhasabah diri setiap hari apakah dirinya telah menunaikan amanah untuk mengurus rakyat atau ia termasuk orang yang zalim terhadap rakyatnya.
Bukan hanya melakukan muhasabah terhadap dirinya setiap hari, melainkan seorang pemimpin juga wajib menerima koreksi dari rakyat sebagai pihak yang diurusi dan dilayani sesuai tuntutan syariat. Dan tatkala rakyat melakukan muhasabah, seorang pemimpin akan menerimanya dengan penuh suka cita karena dengan hal tersebut ia bisa memastikan amanahnya tertunaikan dengan sempurna atau tidaknya.
Namun sayangnya, aktivitas muhasabah atau memberikan nasehat, menasehati, dan mengoreksi seorang pemimpin sebagai bentuk kasih sayang sebagai seorang muslim, kerap kali direspon dengan hal yang tidak seharusnya. Bahkan penguasa hari ini menjadi sosok yang anti dikoreksi dan dikritik oleh rakyat, padahal begitu banyak kebijakan dan aturan yang dibuat oleh penguasa membuat kehidupan rakyat makin sulit. Rakyat harus berjuang sendiri untu memenuhi hajat hidupnya yang sehrusnya dijamin dan difasilitasi oleh pemimpinnya. Sementara lapangan pekerjaan makin sempit, sehingga untuk memenuhi kebutuhan perut pun terkadang sebagian rakyat tak mampu, apalagi untuk memperoleh kehidupan yang layak dan sejahtera. Bahkan hal tersebut hanyalah sebuah ilusi yang sangat jauh dari realita kehidupan rakyat di negeri ini.
Sementara, negeri ini memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah seharusnya rakyatnya bisa merasakan hidup makmur dan sejahtera. Namun, karena kebijakan dan aturan yang salah dari seorang pemimpin, mengalihkan kekayaan alam yang notabene milik rakyat dan untuk kesejahteraan rakyat, justru diberikan kepada para pengusaha dan merekalah yang sejahtera dan makmur. Rakyat hanyalah menerima kemiskinan dan kesengsaraan akibat kehadiran seorang penguasa yang lupa bahwa kekuasaan yang berada dalam gengamannya diperuntukkan untuk mengurusi dan melayani rakyat, bukan sebaliknya membuat kehidupan rakyat makin menderita dan sengsara di negerinya yang sangat kaya.
Wajah penguasa yang anti akan muhasabah, koreksi, dan kritik merupakan hasil cetakan sistem kapitalisme sekuler. Kerap kali membungkam rakyat dengan “tangan besi” dan menjadikan manusia yang berkuasa bebas melakukan segala sesuatu demi kepentingan pribadinya dengan mengorbankan hak-hak rakyat. Rakyat hanya dijadikan sebagai pihak pembeli dan penguasa sebagai penjualnya. Tatkala rakyat ingin diurusi dan dilayani, semua akan diperoleh tetapi tidak gratis. Karena materi dan kekuasaan merupakan orientasi satu-satunya, termasuk dalam pengurusan dan pelayanan rakyat dengan orientasi dan tujuan yang sama. Maka wajarlah dari setiap kebijakan yang ditetapkan oleh penguasa kapitalis bukan ditujukan untuk rakyat, melainkan untuk kepentingan mereka dan para pengusaha.
Potret suasana muhasabah dan amar makruf nahi mungkar antara rakyat dan penguasa terlihat nyata hanya dalam sistem Khilafah yang menjadikan syariat Islam tegak dalam seluruh lini kehidupan. Memahami kekuasaan merupakan amanah tertinggi dan paling berat hisabnya di akhirat kelak, sehingga melayani dan mengurus rakyat semata-mata sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada Sang Pemberi Amanah. Tak terbersit sedikit pun untuk mengambil keuntungan atau mengambil manfaat dari kekuasaan dan jabatan yang diamanahkan kepadanya.
Bahkan dengan adanya amanah ini membuatnya senantiasa berhati-hati, waspada, khawatir dan takut, apabila ada sedikit saja kelalaian yang dilakukan yang membuat rakyat hidup dalam kesulitan dan kemiskinan akibat kebijakan yang ia tetapkan. Sejarah Islam telah menorehkan kisah keteladanan para penguasa yang sangat mencintai rakyat dan rakyatnya pun mencintainya. Mengurus dan melayani rakyat dengan sepenuh hati ibarat seorang ibu yang senantiasa memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Potret penguasa seperti inilah yang seharusnya hadir dalam kehidupan rakyat hari ini dan kita upayakan kembali dalam kehidupan. Sebab, tanpa perjuangan dan dakwah, seluruh umat manusia akan senantiasa hidup dalam cengekraman sistem batil yang senantiasa merampas hak-hak rakyat dan membuat rakyat hidup menderita selamanya.

Komentar
Posting Komentar