Persatuan Umat dalam Satu Kepemimpinan



Ummu Fathin 





#Wacana — Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi diserang. Dampak serangan tersebut di antaranya adalah penyesuaian atau pengubahan rute transit penerbangan. Khususnya ditujukan bagi perjalanan yang melakukan transit di area berkonflik. Serangan tersebut memakan korban jiwa, termasuk di antaranya adalah jemaah umrah. Di tanah air banyak travel yang menunda keberangkatan jemaah umrah sambil memantau keadaan. (AntaraKalteng, 14/10/2026)

Saudi menerima serangkaian serangan intensif yang dilakukan oleh kelompok milisi Houthi dari Yaman sejak awal Oktober 2026 lalu. Puncak serangan tersebut terjadi pada tanggal 10 dan 11 Oktober 2026 dengan Bandara King Khalid sebagai sasaran. 

Timur Tengah menjadi wilayah konflik bersenjata yang tak pernah benar-benar usai. Thufan Al-Aqsa  telah berjalan 3 tahun, seluruh dunia mengecam genosida yang dilancarkan Israel terhadap Gaza, Palestina. Namun, serangan Zionis ke Palestina tak pernah berhenti. Iran berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat dan Israel. Kondisi ini menyebabkan kerusakan di banyak negeri muslim yang terdapat pangkalan militer AS. Mirisnya, Badan Perdamaian dunia tak bisa berbuat apa-apa. Semua hanya mengecam tetapi tak bisa menghentikan konflik di Timur Tengah.

Tentu saja, kerugian materi dan korban jiwa banyak berjatuhan. Sebagian besar adalah kaum muslimin dan negeri-negeri muslim.  Milisi Houthi di Yaman adalah muslim. Saudi diberi kemuliaan dengan dua kota suci—Makkah dan Madinah. Seluruh kaum muslimin sedunia akan memadati dua kota suci tersebut untuk melakukan ibadah haji dan umrah. 

Maka sesungguhnya, kaum muslimin diikat dengan akidah yang satu, yaitu Islam. Bahkan dalam salah satu hadis dikatakan, “Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dizalimi).” Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim tersebut secara gamblang mengingatkan bahwa sesama muslim tidak boleh saling menzalimi. Kondisi yang terjadi, khususnya di Timur Tengah tentu sangat bertolak belakang dengan hadis tersebut.

Saling menyerang antarnegara muslim di Timur Tengah di antaranya dikarenakan nasionalisme. Sekat-sekat imaginer yang dibuat manusia membuat wilayah negeri muslim terpecah dalam banyak negara. Masing-masing negara akan mempertahankan batas wilayah dan kepentingan negaranya masing-masing. Sekat imaginer tersebut “lebih kuat” berperan daripada seruan hadis di atas. Hingga menjadikan musuh sesungguhnya—orang kafir, AS dan sekutunya—sebagai kawan, sementara sesama muslim yang seharusnya saling menjaga dan melindungi, justru diposisikan sebagai lawan. 

Ketiadaan pemimpin yang satu juga menjadi penyebab hal ini. Keberadaan seorang pemimpin adalah sangat penting. Sebab dialah yang akan menentukan arah kebijakan, keberpihakan, dan serangkaian pengurusan atas rakyat yang dipimpinnya. Namun dengan adanya sekat nasionalisme tersebut, banyak pemimpin kaum muslimin sibuk dengan kepentingannya masing-masing. 

Aturan yang berlaku saat ini menambah buruk kondisi kaum muslimin. Adanya pemimpin yang satu tidak serta merta membuat kaum muslimin menjadi kuat. Aturan yang diterapkan oleh pemimpin menjadi penentu apakah kekuatan itu akan membawa keberkahan atau kesengsaraan.  

Berdasarkan tiga  hal tersebut, maka kaum muslimin harus bisa menentukan mana kawan dan lawan  yang sejati. Untuk hal tersebut Allah Swt. telah mengingatkan kaum muslimin dengan Firman-Nya pada Surah Ali Imran: 103. Artinya,  “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai….”

Ayat tersebut mengingatkan kaum muslimin untuk tidak bercerai berai, harus bersatu. Bersatunya kaum muslimin akan mendatangkan banyak keuntungan, terutama menyatukan potensi umat yang menyebar di wilayah yang luas. Berkumpulnya kaum muslimin akan menjadi kekuatan dan kemampuan militer besar untuk menghadapi musuh. Tentu juga berkumpulnya kekayaan alam yang terdapat di negeri-negeri muslim guna kemaslahatan umat, dan banyak lagi. Namun, semua itu tidak akan terwujud jika sesama muslim masih berseteru. 

Sehingga, penting memunculkan pemimpin yang satu atas kaum muslimin. Pemimpin itulah yang  akan memobilisasi tentara kaum muslimin untuk berhadapan dengan musuh yang sesungguhnya. Pemimpin itulah yang akan menjadi perisai bagi rakyatnya. Sebagaimana hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah, “Sesungguhnya seorang imam itu laksana perisai, dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya dan digunakan sebagai tameng.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kepemimpinannya adalah aturan untuk mengatur rakyatnya dengan aturan yang adil. Sebagaimana kaum muslimin dahulu pernah berjaya di bawah kepemimpinan Rasulullah saw., dan dilanjutkan oleh banyak khalifah sepeninggalnya. Pada masa itu, Rasulullah saw. dalam naungan Daulah Islam dan juga para khalifah sesudahnya dalam institusi Khilafah. Mengatur rakyatnya dengan aturan yang datang dari yang Mahabaik. Aturan Islam/syariat Islam yang diturunkan oleh Allah Swt. bagi manusia melalui Rasulullah saw. 

Dalam Surah Al-Maidah: 48, ”… maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…”

Dalam sistem Khilafah, para khalifah memastikan semua aturan Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Jika ada pertikaian atau perbedaan pendapat yang akan memecah belah umat, maka khalifah hadir untuk menghilangkan perbedaan tersebut. Itulah salah satu peran penting seorang pemimpin. Maka, jika kaum muslimin ingin kembali berjaya di kancah kehidupan, tidak ada kondisi terbaik kecuali bersatunya kaum muslimin seluruh dunia dalam kepemimpinan yang satu (Khilafah) dan menerapkan aturan Allah Swt. secara paripurna. 

Hal itu tidak hanya membuat kaum muslimin menjadi satu kekuatan yang ditakuti sekaligus disegani musuh, tetapi juga memperoleh keberkahan dari langit dan bumi sebagaimana Firman Allah Swt. dalam Surah Saba: 15 yang artinya, “… Negerimu adalah negeri yang baik, sedangkan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”

Begitulah seharusnya seorang muslim. Tidak saling menyerang di antara sesama saudaranya. Karena sesungguhnya seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Surah Al-Hujurat: 10 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”

Saatnya serukan persatuan kaum muslimin untuk keluar dari problematika sistemik yang terjadi agar negeri-negeri kaum muslimin tidak lagi menjadi tempat konflik yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dan semua permasalahan yang timbul karena meninggalkan aturan ilahi menjadi sirna. Wallahualam bissawab.

Komentar