Tiga Pilar Keberhasilan Muslimah dalam Berkiprah di Masyarakat





#Reportase — Di hadapan ratusan lebih jemaah muslimah, Mubaligah Kota Depok Ustazah Isma Nur Diana, S.Pd., menyatakan setidaknya ada tiga pilar keberhasilan muslimah dalam berkiprah di masyarakat. 

"Islam membuka ruang luas bagi perempuan untuk berkiprah di ruang publik atau masyarakat, yang keberhasilannya ditopang oleh tiga pilar,” ujarnya dalam Kajian Muslimah Depok, "Menjadi Muslimah Sejati, Penebar Kebaikan dan Penolong Agama Allah", Selasa (13/10/2026) di Depok. 

Adapun tiga pilar tersebut. Pertama, pribadi muttaqin. "Inti dari pribadi muttaqin adalah membangun kepribadian Islam. Hal ini bisa dilakukan dengan meluruskan niat, upgrade tsaqafah dan prioritas kodrati,” terangnya. 

Menurutnya, pilar kesatu bagi seorang muslimah ditandai oleh selesai dengan diri sendiri, membangun sakhsiah islamiah (kepribadian Islam) dan tunduk sepenuhnya pada syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. "Muslimah harus memastikan tugas utama yang tak tergantikan, ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga), tak bisa digantikan, yaitu sebagai ibu dan manajer rumah tangga,” sebutnya.

Dalam Islam, tambahnya, menghormati ibu memiliki prioritas tiga kali lipat lebih tinggi dari ayah. Selain itu, terangnya, mendidik anak perempuan dengan baik adalah benteng pelindung dari siksa neraka bagi ayahnya. 

Kedua, penebar kebaikan. "Muslimah yang peduli masyarakat akan menjadi bagian dari khairu ummah akan mengambil peran sebagai opinion maker (pembentuk opini) di masyarakat dan berani menjalankan amar makruf nahi mungkar, sehingga peran muslimah sebagai penyebar kebaikan akan mengajak masyarakat pada kebaikan, mencegah keburukan dan menyuarakan Islam adalah solusi,” bebernya.

Ia pun menilai, muslimah yang peduli masyarakat harus mampu terlebih dahulu mendidik generasi dengan membentuk kepribadian Islam pada anak cucu di rumah.  “Selain itu, muslimah juga diharapkan peranannya untuk meluruskan pemahaman masyarakat dengan berani memperbaiki paham-paham yang salah dan yang merusak nilai-nilai Islam,” tuturnya.

Ketiga, penolong agama Allah. "Muslimah harus memiliki keberanian, sesuai seruan Al-Qur’an Surah Ash-Shaff: 14, yakni "Jadilah penolong- penolong agama Allah". Muslimah turut berjuang agar Islam kembali menjadi pedoman kehidupan yang utuh,” sebutnya.

Menurutnya, muslimah harus berani, tetapi membutuhkan peran negara karena negara sebagai perisai (junnah) hakiki. “Ketakwaan individu tidak akan cukup jika negara membiarkan sistem yang merusak tatanan keluarga,” ungkapnya.

Dalam Islam, sebutnya, negara wajib mengambil peran pelindung kesejahteraan, ditandai dengan membuka lapangan kerja bagi laki- laki agar perempuan terbebas dari double burden (beban ganda) pencari nafkah utama. 

“Selain itu negara juga sebagai pelindung sistem sosial, yaitu sudah seharusnya negara menutup rapat celah pergaulan bebas, pornografi, dan industri maksiat,” ujarnya. 
Ia menegaskan, negara juga berperan dalam keamanan mengelola sumber daya alam (SDA) untuk rakyat demi mencegah krisis multidimensi. 

“Perubahan sistemik tidak bisa hanya bersandar pada kemauan individu semata. Maka sinergi negara sebagai advokasi penerapan sistem Islam kafah dan masyarakat melakukan muhasabah (koreksi) terhadap kebijakan penguasa yang zalim,” pungkasnya.[Sandhi Indrati]

Komentar