Siti Rima Sarinah
#MutiaraAl-Qur'an — Manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna di antara makhluk-mahkluk Allah yang lainnya. Kesempurnaan manusia dikarenakan Allah Swt. memberikannya akal sebagai petunjuk dalam mengarungi medan kehidupan. Sebab, manusialah yang diamanahi untuk mengatur dan mengelola urusan sesama manusia dan alam semesta. Allah juga menurunkan Al-Qur’an yang berisi seperangkat aturan yang akan menjadi landasan bagi manusia menjalankan amanah, agar kehidupan senantiasa berjalan sesuai yang ia kehendaki.
Allah Swt. berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Surah Ar-Rad: 11)
Ayat di atas menjelaskan tentang makna untuk mengubah keadaan atau kondisi pada diri manusia. Keadaan dan kondisi yang penuh dengan kezaliman dan kemaksiatan harus diubah oleh manusia yang diberikan akal untuk berpikir mengubah kondisi yang buruk menuju kondisi yang lebih baik. Menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya petunjuk bagi kehidupan. Karena jika perubahan distandarkan pada akal manusia yang lemah dan terbatas, maka justru kondisi kehidupan makin terjerumus pada kegelapan.
Kezaliman dan ketidakadilan menjadi potret kehidupan rakyat hari ini, dilakukan oleh penguasa. Pada akhirnya, memicu aksi protes turun ke jalan sebagai cara untuk menyuarakan ketidakadilan dan kezaliman serta mengingatkan penguasa akan tanggung jawab dan amanahnya sebagai pelayan rakyat. Rasa kekecewaan rakyat melihat sikap semena-mena penguasa dengan membuat kebijakan yang tidak sedikitpun diprioritaskan untuk kepentingan rakyat. Bahkan kebijakan tersebut mengakibatkan rusaknya alam, membiarkan ratusan juta hektar hutan dibakar dan digunduli demi kepentingan oligarki.
Mereka tak memedulikan rakyat yang sesak akibat menghirup asap hingga berbulan-bulan lamanya. Banyaknya korban yang meregang nyawa akibat kebakaran hutan tak juga membuat pemerintah bergeming untuk menghentikan kebijakan yang zalim tersebut. Ironisnya, pemerintah bersikap biasa-biasa saja seakan menutup mata dan telinga dengan penderitaan rakyat akibat kebakaran hutan. Kasus korupsi yang makin menjadi-jadi membuat kehidupan rakyat makin terperangkap dalam jurang kemiskinan. Di tengah mahalnya biaya hidup, rakyat pun masih diperas untuk membayar pajak, padahal untuk makan pun mereka sangat kesulitan.
Untuk mengubah kondisi negeri ini yang penuh dengan ketidakadilan dan kezaliman tidak cukup dengan menyuarakan aksi protes menuntut pergantian penguasa. Sebab, bergantinya wajah penguasa tetapi masih dengan wajah sistem yang sama, maka hal itu berarti mengulang persoalan yang sama. Rakyat harus menyadari bahwa kekecewaan mereka terhadap penguasa yang abai terhadap amanahnya, merupakan buah dari sistem kapitalisme yang memosisikan negara dan penguasa hanya menjadi pelayan bagi oligarki bukan pelayan rakyat.
Maka sebuah kemustahilan kondisi negeri ini akan mengalami perubahan, jika masih berada dalam bayang-bayang sistem kapitalisme yang hanya berorientasi pada asas manfaat semata. Rakyat harus menyadari bahwa sistem kapitalisme adalah sistem pembuat masalah. Oleh karena itu, agar setiap kezaliman, ketidakadilan, dan persoalan yang mewarnai negeri ini akan hilang dengan mengenyahkan sistem ini dari kehidupan rakyat.
Perubahan tidak akan terjadi secara otomatis, ada beberapa hal yang dilakukan agar bisa mengubah kondisi negeri ini pada perubahan yang hakiki. Yaitu dengan mengubah mafahim, maqayis, dan qona'ah rakyat untuk merujuk kepada syariat Islam. Dengan memahami hakikat sebuah perubahan yang hakiki, maka rakyat akan tersadarkan bahwa hanya sistem yang berasal dari Sang Pemilik Jiwa manusia dan bumi inilah yang mampu mewujudkannya.
Sebab, Islam hadir ke dunia untuk menjadi problem solving bagi umat manusia. Islam pun bukan sekadar agama, melainkan petunjuk hidup yang memiliki seperangkat aturan di seluruh lini kehidupan, termasuk menghadirkan sistem pemerintahan dan penguasa yang amanah atas tanggung jawabnya. Sistem Islam dalam naungan Khilafah akan melahirkan sosok penguasa yang mendedikasikan diri sebagai pelayan umat dan menjadikan kemaslahatan umat sebagai prioritas utamanya. Dengan memastikan tak ada satu pun rakyat yang akan terzalimi atau mendapatkan ketidakadilan, sebab hal ini merupakan perkara yang sangat dijaga dan diperhatikan oleh penguasa.
Tatkala rakyat menyampaikan protes, kritik, dan muhasabah, penguasa akan menyambut dan menerimanya dengan suka cita. Karena dengan muhasabah inilah penguasa akan mengetahui apakah kebijakan dan peri-ayahan-nya berjalan sesuai aturan syariat. Hubungan rakyat dan penguasa seperti ini tidak akan dijumpai dalam sistem mana pun kecuali sistem Khilafah. Sehingga hubungan penguasa dan rakyat ibarat hubungan anak dan ibu yang saling menyayangi, menjaga, dan melindungi serta memastikan kebutuhan anak-anak tercukupi.
Alhasil, perubahan hakiki akan terwujud jika Islam hadir di tengah umat bukan hanya sekadar agama, melainkan juga sebagai petunjuk hidup yang wajib menjadi tolak ukur bagi seluruh umat. Dengan mengembalikan Islam sebagai satu-satunya aturan dalam kehidupan, dan setiap umat maupun rakyat wajib menaatinya sebagai kosekuensi keimanan seorang hamba. Jika hal ini terwujud, maka kita akan mampu mengubah kondisi umat menuju sistem yang baik yang berasal dari Zat Yang Mahabaik. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar